Artikel

Hal< 1 2 3 4 5
Total 5 hal
Empat Faktor Penting dalam Pendidikan Terapis

Empat Faktor Penting dalam Pendidikan Terapis

20 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

Dalam artikel Sepuluh Karakteristik Terapis Efektif  telah dijelaskan kualitas inti yang perlu dikembangkan untuk dapat menjadi terapis efektif. Selain ini, masih ada faktor penting lain yang juga berpengaruh signifikan terhadahap kualitas dan keefektifan seorang terapis, yaitu pendidikan yang ia jalani.

Dalam proses pendidikan, ada empat faktor yang berpengaruh terhadap keluaran dan kualitas terapis yang dihasilkan. Pertama, kualitas “bahan baku” calon hipnoterapis. Semakin baik kualitasnya maka semakin besar kans untuk menghasilkan hipnoterapis cakap, andal, efektif. Kualitas yang dimaksud tidak semata merujuk pada tingkat kecerdasan intelektual (IQ), tapi lebih pada kecerdasan emosi (EQ), kematangan kepribadian, nilai-nilai hidup (value), kepercayaan (belief), citra diri, dan alasan yang mendasari seseorang memutuskan menjadi terapis.

Faktor kedua adalah kualitas pengajar. Ini adalah aspek paling penting dalam proses mencipta terapis kompeten. Penelitian menunjukkan bahwa dalam setiap kasus yang diteliti, kualitas, kecakapan, dan kemampuan pengajar sangat menentukan dan memengaruhi kualitas terapis yang dihasilkan. Dengan kata lain, pengajar yang benar-benar cakap (high functioning) dapat membentuk, mengembangkan murid dengan kemampuan awal di bawah rata-rata menjadi terapis yang juga cakap dan andal menyerupai dirinya. Demikian sebaliknya, pengajar yang tidak cakap (low functioning) akan menghasilkan terapis tidak efektif, sama seperti dirinya, dan dapat merugikan klien (Rothstein, 1988).

Hipnoterapi dipelajari sebagai cabang ilmu psikologi dan dipraktikkan sebagai seni yang hidup, menelusuri pikiran bawah sadar klien, mencari dan menemukan akar masalah, melakukan rekonstruksi kejadian paling awal untuk mencapai resolusi demi kebaikan hidup klien. Untuk itu, seorang pengajar harus benar-benar menguasai landasan teori materi yang ia ajarkan, menguasai dengan sangat baik beragam teknik intervensi klinis yang telah terbukti dan teruji secara klinis efektif membantu klien mengatasi beragam masalah, dan ia adalah praktisi aktif, berpengalaman, dengan rekam jejak yang baik.

Banyak sekali pengajar hanya menguasai teori, bukan praktisi. Tentu saat mengajar, mereka hanya mengajarkan pengetahuan terapi, bukan cara melakukan terapi efektif. Ini sama seperti seorang “ahli” renang, yang tidak bisa berenang, mengajarkan cara berenang di kelas, tanpa praktik di kolam renang. Saat muridnya masuk ke kolam renang, mereka sudah pasti tidak bisa berenang. Dan saat murid minta petunjuk kepada pengajarnya, ia tidak bisa memberikan bimbingan praktik, tidak berani masuk ke kolam renang, dan hanya bisa memberi petunjuk dari samping kolam dengan mengacu pada buku atau teori.

Ketiga, kurikulum dan fokus program pendidikan. Yang dimaksud dengan konten dan fokus di sini adalah materi yang diajarkan, hasil apa yang ingin dicapai, apakah pendidikan bertujuan menghasilkan hipnoterapis kompeten, mampu melakukan terapi dengan benar, efektif, ataukah hanya sekedar menghasilkan hipnoterapis yang tahu tentang hipnosis dan hipnoterapi namun tidak kompeten dalam melakukan terapi. Di sini perlu dicermati jurang lebar yang memisahkan certified hypnotherapist dan qualified hypnotherapist. Seorang certified hypnotherapist belum tentuqualified melakukan hipnoterapi. Sertifikat, berapapun jumlah yang dimiliki terapis, tidak serta merta menjamin ia adalah terapis efektif.

Pada hampir semua pelatihan hipnoterapi, baik di dalam maupun luar negeri yang pernah saya ikuti atau pelajari kurikulumnya, konten dan fokus hanya pada teori, teknik, dan bila sempat, praktik. Jarang ditemukan ada pelatihan yang fokus mengembangkan variabel karakater terapis efektif, terdiri atas sepuluh aspek. Pengembangan karakter ini tentunya butuh waktu, tidak bisa dicapai melalui proses singkat. Selain itu, sangat jarang ada pengajar hipnoterapi melakukan live therapy di depan kelas, untuk menunjukkan bagaimana seharusnya terapi dilakukan dengan benar, tepat, efektif seperti yang ia lakukan di ruang praktik.

Keempat, modalitas pendidikan yang tidak tepat sasaran. Dalam proses pendidikan menjadi hipnoterapis, atau terapis secara umum, peserta harus, selain mendapat landasan teori, mendapat kesempatan melakukan banyak praktik di bawah supervisi pengajar cakap dan berpengalaman (high functioning). Program pelatihan yang melibatkan banyak pengalaman praktik meningkatkan kemampuan terapi peserta didik secara signifikan.

Saat terapis telah menjalani proses pendidikan dan mengembangkan sepuluh kualitas inti dengan baik, saat praktik membantu klien mengatasi masalah, terapis perlu menyadari bahwa ada empat faktor penting yang juga sangat memengaruhi dan menentukan keberhasilan terapi: klien (40%), relasi (30%), plasebo atau pengharapan (15%), dan teknik (15%).

Faktor klien meliputi beberapa hal, antara lain keinginan (willingness) dan kesiapan (readiness) untuk berubah, kepercayaan atau belief-nya, dukungan orang dekat, pasangan atau keluarga, dan juga lingkungan.

Sementara yang dimaksud dengan faktor relasi adalah relasi terapeutik, bukan relasi biasa, bukan sekedar membangun hubungan persahabatan antara terapis dan klien, atau umumnya disebut rapport. Relasi terapeutik adalah hubungan khusus antara klien dan terapis, berlandaskan rasa saling percaya dan menghargai, komitmen masing-masing pihak untuk melakukan upaya maksimal demi mencapai tujuan terapeutik. Komunikasi antara terapis dan klien diarahkan semata untuk mencapai tujuan terapeutik.

Faktor plasebo atau pengharapan juga memainkan peran penting dalam proses terapi. Pengharapan memainkan peran penting karena salah satu hukum pikiran menyatakan apa yang pikiran harapkan terjadi, cenderung menjadi kenyataan. Jadi, bila klien (sangat) berharap untuk bisa sembuh, tanpa memerhatikan faktor lainnya, kemungkinan ia sembuh sebesar 15%. Ini satu angka yang cukup besar.

Dan yang terakhir adalah faktor teknik yang dikuasai oleh terapis. Ada banyak terapis, karena tidak mengerti atau mengetahui pentingnya sepuluh kualitas inti dan empat faktor yang dijelaskan di atas, lebih fokus memelajari berbagai teknik dengan harapan dapat menjadikan dirinya terapis efektif. Realitanya tidak seperti ini. Justru banyak terapis gagal mencapai tujuan terapi karena lebih sibuk menjalankan peran sebagai mekanik, bukan penyembuh.

Bila terapi yang mereka lakukan belum berhasil memberi hasil seperti yang diharapkan, alih-alih menelisik ke dalam diri apa yang masih kurang, mereka justru menyalahkan teknik karena dianggap tidak efektif. Untuk itu, mereka belajar lagi teknik yang diyakini lebih efektif, dan setelah dipraktikkan, gagal lagi. Demikian seterusnya hingga akhirnya mereka “sadar” bahwa terapi bukanlah bidang yang “sesuai” untuk mereka, dan memutuskan berhenti menjadi terapis.

(Sumber: adiwgunawan.com)

Sepuluh Karakteristik Terapis Efektif

Sepuluh Karakteristik Terapis Efektif

20 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

Menjadi hipnoterapis klinis adalah dedikasi dan komitmen seumur hidup. Keputusan menjadi hipnoterapis klinis dibuat melalui pertimbangan matang, mendalam, dengan alasan tepat. Calon hipnoterapis juga perlu memutuskan akan menjadi hipnoterapis tipe apa dalam konteks keefektifan terapeutik: efektif rendah (low functioning), efektif menengah (average functioning), dan efektif tinggi (high functioning).

Tentu ada banyak variabel memengaruhi dan menentukan hasil terapeutik positif yang dicapai hipnoterapis. Variabel ini antara lain klien, terapis, populasi, lingkungan, institusi, dan lainnya. Dari sekian banyak variabel yang memengaruhi keefektifan terapeutik, ada satu variabel penting, berdasar temuan penelitian, berpengaruh signifikan, berkorelasi sangat kuat dan konsisten, yaitu variabel karakteristik atau kualitas inti pada diri terapis (Rothstein, 1988).

Kualitas inti dari terapis efektif adalah karakteristik unik dari masing-masing individu, dan tidak bisa di-teknik-kan. Karakteristik ini bersumber pada penghargaan pada hidup dan kehidupan sesama, dorongan tulus untuk melayani, rasa percaya diri dan kerendahan hati. Program pelatihan yang hanya fokus pada hal-hal teknis, seperti yang dinyatakan oleh Carkhuff & Berenson (1967) dan Egan (1977), akan semakin menjauhkan para calon terapis dari kesempatan untuk mengembangkan karakteristik ini.

Sepuluh kualitas inti yang harus ada dan dikembangkan dalam setiap individu untuk menjadi terapis efektif adalah 1) empati (empathy), 2) rasa hormat (respect), 3) apa adanya (genuineness), 4) kehangatan (warmth), 5) konkrit (concreteness), 6) konfrontatif (confrontiveness), 7) keterbukaan diri (self-disclosure), 8) kesegeraan (immediacy), 9) daya pengaruh (potency),  and 10) aktualisasi diri (self-actualization).

Tiga kualitas inti pertama, empati, rasa hormat, dan apa adanya, ditemukan dan ditulis dalam paper klasik Carl Roger berjudul “The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change” (1957).

Bergin (1966) melakukan kaji ulang banyak literatur, menemukan hal serupa, dan setuju dengan pendapat dan temuan Roger (1957).  Bergin (1966) menyatakan bahwa kemajuan terapeutik bervariasi sejalan dengan karakteristik terapis, seperti kehangatan, empati, kemampuan menyesuaikan diri, dan pengalaman. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Garfield (1974) dan Bath dan Calhoun (1977).

Pentingnya tujuh karakteristik lainnya, dalam diri terapis efektif, selain tiga pertama yang dinyatakan oleh Rogers (1957), dalam memengaruhi dan menentukan hasil terapi dinyatakan oleh Truax, Uhlig, dan Fargo (1968), Collingwood dan Renz (1969) Truax, Altman, dan Wittmer (1973), dan Fischer dan Knapp (1977).

Terkait pentingnya sepuluh kualitas inti yang perlu ada dalam terapis efektif, Traux (1970) dengan sangat gamblang dan tegas menyatakan:

The most clear-cut and striking body of evidence available concerning basic ingredients in effective counseling deals with central interpersonal skills. The effective counselor is first and foremost an expert in interpersonal relation.. spesializes techniques and expert knowledge are (clearly) secondary.

Empati tidak hanya melibatkan pemahaman terapis akan perasaan klien, juga mencakup kemampuan untuk secara akurat mengerti apa yang klien alami dan ungkapkan, dan juga mampu menyampaikan hal ini pada klien. Klien merasa aman, dipahami, diterima, tidak dihakimi, dan mengerti bahwa adalah hal wajar atau lumrah bila ia merasa apa yang ia rasakan. Saat klien merasa dimengerti, ia akan berani membuka diri dan mengungkap lebih banyak hal kepada terapis. Empati adalah kunci pembuka pintu relasi terapeutik antara terapis dan klien.

Dalam rasa hormat terkandung tiga komponen penting. Pertama, penghargaan akan kehormatan, harkat dan martabat, dan nilai sesama. Terapis bersikap netral, tidak terpengaruh oleh tampilan fisik atau cara berpakaian klien, dan juga tidak menghakimi klien atas tindakan yang telah ia lakukan di masa lalu.

Komponen kedua dalam rasa hormat adalah terapis menjunjung tinggi dan menghargai kehendak bebas (free will) klien untuk merasakan atau mengalami emosi tertentu, untuk terus memilih menderita, membuat kesalahan, atau bahkan pilihan klien untuk tidak mau dibantu pada aspek tertentu, padahal menurut pandangan terapis, sangat mendesak dan penting untuk diselesaikan. Terapis tidak melindungi atau mengambil alih masalah klien, atau mencoba memengaruhi atau mendominasi klien secara berlebih. Terapis membantu klien memahami konsekuensi dari setiap pilihan klien.

Dalam rasa hormat juga terkandung penghargaan akan kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya, dengan bantuan terapis. Terapis efektif memiliki pengharapan tinggi terhadap keberhasilan terapi yang dijalani klien. Terapis paham sepenuhnya bahwa sukses tidak terjadi secara kebetulan, namun berasal dari aplikasi prinsip-prinsip ilmiah yang telah teruji efektif. Terapis efektif mengerti bahwa rasa sakit atau penderitaan dapat menjadi sekutu dalam terapi, dan kegagalan adalah guru yang dapat memberi pelajaran penting untuk klien berubah dan bertumbuh. Dengan demikian, terapis tidak memperlakukan klien sebagai individu lemah atau sakit.

Rasa hormat adalah variabel fasilitatif paling mendasar. Bila terapis memiliki rasa hormat mendalam dan tulus pada klien, ia boleh kurang cakap dalam hal teknis namun tetap bisa efektif membantu klien. Sebaliknya, tidak peduli betapa hebat terapis menguasai teknik atau pengetahuan, bila ia tidak atau kurang memiliki rasa hormat, ia akan tidak efektif dan bahkan dapat memberi pengaruh buruk pada klien.

Yang dimaksud dengan “apa adanya” adalah terapis bebas menjadi diri sendiri, tidak berpura-pura atau palsu. Terapis tidak memainkan peran sebagai terapis tapi benar-benar bertindak sebagai terapis. Bersikap apa adanya tidak berarti terapis menceritakan semua yang ia pikir atau rasakan kepada klien. Bersikap apa adanya memiliki batas. Terapis tahu waktu yang tepat untuk menyampaikan hal yang klien perlu ketahui. Terapis tidak asal mengungkap masalah atau kesulitannya sendiri kepada klien karena ini akan berpengaruh negatif terhadap klien.

Karakteristik lain yang dimiliki terapis efektif adalah kehangatan. Terapis menyampaikan perhatian, pemikiran, dan perasaan mereka kepada klien baik secara verbal dan nonverbal dengan cara yang bersifat mendukung, menguatkan, dan meneguhkan klien. Terapis menjaga kontak mata, melihat dan menyampaikan secara verbal hal-hal positif dalam diri klien.

Karakteristik konkrit artinya kekhususan yang relevan. Terapis yang bersifat konkrit tidak akan melebar dan melakukan eksplorasi perasaan dan proses berpikir yang tidak relevan dengan tujuan terapi. Terapis konkrit fokus pada hal-hal pokok, melakukan eksplorasi dengan bertanya apa, di mana, mengapa, bagaimana, dan siapa yang terlibat dalam masalah klien, dan membantu klien memasuki area sensitif masalahnya. Dalam proses ini, bila difasilitasi dengan baik, klien sering mengalami abreaksi kuat dan mendapat pembelajaran atau hikmah yang bersifat terapeutik. 

Terapis efektif berani berbeda pendapat dan konfrontatif dengan klien. Konfrontatif di sini tidak berarti agresif atau bertujuan menyerang klien. Konfrontatif dalam konteks terapi maksudnya terapis berani menyampaikan ketidaksesuaian atau inkonsistensi antara ucapan dan tindakan, perbedaan antara niat dan perilaku klien. Terapis efektif melakukan konfrontasi dengan sikap terbuka, tulus, hangat, demi kebaikan klien, walau klien mungkin akan marah karena inkonsistensi mereka diungkap oleh terapis. Terapis efektif melakukan konfrontasi secara langsung dan konsisten dalam upaya membantu klien mereka dua puluh kali lebih banyak daripada terapis tidak efektif (Wolf, 1970).

Terapis umumnya dilatih untuk menjaga jarak, fokus hanya pada masalah klien, dan tidak boleh menceritakan pengalaman, pandangan, sikap, atau perasaannya pada klien. Terapis efektif, pada saat yang tepat, akan bercerita tentang diri mereka dengan tujuan memberi pelajaran, kekuatan, pemahaman, dan atau peneguhan pada klien. Banyak terapis diajarkan untuk diam dan tidak melibatkan diri dengan klien mereka. Jika terapis menjalani hidup seperti yang mereka lakukan di ruang terapi, diam dan tidak melibatkan diri, mereka akan berakhir sebagai klien (Carkhuff dan Berenson, 1967).

Walau terapis boleh mengungkap diri pada klien, namun ini tidak boleh menjadi ajang curhat terapis ke klien. Fokus perhatian harus tetap pada masalah dan diri klien. Keterbukaan diri yang terapis lakukan akan diterima klien dengan makna, “Kita selesaikan masalah ini bersama. Kita semua punya pengalaman, idealisme, pengharapan, pemikiran, dan perasaan serupa. Kita bisa saling terbuka. Ini aman dan baik adanya.”

Kesegeraan merujuk pada komunikasi di sini, saat ini, antara terapis dan klien, khususnya mengenai aspek interaksi dan relasi. Terapis memerhatikan benar perasaan atau pandangan klien terhadap diri terapis. Terapis berani dan mengundang klien untuk mengungkap perasaannya, apakah klien nyaman, percaya, atau tidak percaya terhadap terapis dan menyelesaikan ketidaknyamanan klien dengan segera.

Daya pengaruh adalah kekuatan kehadiran, vibrasi yang berasal dari terapis yang yakin, semangat, percaya diri, komit, tahu kemampuan yang ia miliki. Klien merasa aman dengan kehadiran terapis yang memiliki energi dan daya pengaruh positif dan kuat, bersedia membuka dan menelaah diri, dengan bantuan terapis, untuk menemukan solusi atas masalah mereka.

Terapis efektif adalah mereka yang bergerak mewujudkan potensi diri dan menjalani hidup secara efektif, positif, dan bernas. Terapis efektif memelajari prinsip mendasar tentang cara menjalani  dan menikmati hidup secara penuh, bahagia, seimbang, produktif, dan dapat menjadi contoh bagi klien-klien mereka. Mereka telah menyelesaikan konflik atau trauma besar dalam hidupnya, positif, dapat diandalkan, memiliki sikap dan mental positif, peka terhadap orang lain, penuh perhatian, dan empatik.

Individu yang telah mencapai aktualisasi diri belajar mengendalikan dan menguasai pikirannya sendiri dengan secara sadar membatasi diri dari hal-hal negatif, kenangan masa lalu yang tidak bermanfaat, dan fokus pada masa depan seperti yang mereka inginkan. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, tahu yang mereka inginkan, menjalani hidup dengan prinsip dan nilai-nilai spiritual mulia, dan mampu tetap bersikap tenang dan berpikir jernih walau sedang menghadapi masalah atau kesulitan.

Maslow (1968) menggambarkan invididu yang telah mencapai aktualiasi diri sebagai orang yang spiritual tapi tidak harus relijius, tidak menghakimi karena setiap individu harus menjadi hakim atas diri sendiri, dan memandang orang lain sebagai individu dalam jalur evolusi masing-masing.

(Sumber: adiwgunawan.com)

Tepat dan Cerdas Memahami Abreaksi

Tepat dan Cerdas Memahami Abreaksi

20 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

Hipnoterapi terbagi menjadi dua mazhab berdasar pendekatan terapi yang digunakan. Pertama, mazhab pantai timur Amerika, yang hanya mengutamakan dan menggunakan teknik terapi berbasis sugesti. Kedua, mazhab pantai barat yang sangat kaya teknik, menggunakan hipnoanalisis untuk menemukan akar masalah dan memrosesnya secara tuntas.

Hipnoterapis mazhab pantai timur melakukan proses terapi dengan menuntun klien masuk ke kedalaman hipnosis tertentu dan dilanjutkan dengan membacakan skrip sugesti. Skrip sugesti ini bisa bersifat umum dan spesifik. Hipnoterapis mazhab ini tidak dilatih untuk mencari dan menemukan akar masalah. Dengan demikian, mereka juga tidak mampu menangani, bila terjadi, luapan emosi klien dengan tepat, efektif, dan aman.

Sementara, dalam proses yang dilakukan para hipnoterapis mazhab pantai barat, sangat sering dijumpai akar masalah, dan kejadian-kejadian lanjutan pencetus simtom, berisi muatan emosi (sangat) intens. Emosi ini lekat pada memori traumatik dan sangat mengganggu klien. Untuk bisa melakukan rekonstruksi kejadian traumatik ini, agar klien sembuh, afek yang lekat pada memori harus dilepas dengan aman, nyaman, terkendali, menggunakan teknik yang sesuai dengan situasi, kebutuhan, dan kondisi klien. Pelepasan emosi ini dikenal dengan nama abreaksi atau katarsis.

Ada banyak definisi abreaksi, bergantung pemahaman masing-masing praktisi. Saya menggunakan definisi abreaksi yang dilansir oleh American Psychiatric Association:

An emotional release or discharge after recalling a painful experience that has been repressed because it was consciously intolerable. A therapeutic effect sometimes occurs through partial discharge or de-sensitization of the painful emotions and increased insight. (American Psychiatric Association, 1980, p. 1)

(Sebuah pelepasan atau pengeluaran emosi setelah mengingat kembali pengalaman traumatik yang selama ini direpresi, karena secara sadar sangat menyakitkan. Efek terapeutik kadang terjadi melalui pelepasan sebagian atau desensitisasi dari emosi-emosi menyakitkan dan meningkatnya wawasan.)

Abreaksi, bila berdiri sendiri, tidak terapeutik. Abreaksi terjadi karena klien mengakses pengalaman traumatik, yang sebelumnya telah ditekan sedemikian rupa sehingga ia lupa atau tidak lagi bisa mengakses memori ini secara sadar.

Saat klien, dalam proses hipnoterapi, mengakses kembali pengalaman traumatiknya, pada saat itu juga emosi yang lekat pada memori traumatik menjadi aktif. Penanganan abreaksi tidak tuntas mengakibatkan klien mengalami ulang trauma. Ini tentu sangat merugikan klien. Abreaksi terapeutik harus dilakukan dengan perencanaan matang, sistematis, terkendali, dan aman.

Untuk benar-benar mencapai hasil terapi maksimal, abreaksi hingga tuntas (exhaustive abreaction) perlu dilakukan di kejadian paling awal dan kejadian-kejadian lanjutan, yang ada dalam rangkaian pencetus simtom. Setelahnya, perlu diikuti dengan kerangka kerja bermakna (meaningful and appropriate cognitive framework) (Braun, 1986; Ross, 1989). Di AWGI, kami menyebutnya dengan rekonstruksi memori atau pengalaman emosi korektif.

Saat individu mengalami pengalaman korektif emosi, ia “menuntaskan” proses yang dulunya belum selesai dijalani, yang adalah inti neurosis repetitif, dan melepas kebutuhan akan keberlanjutan manifestasi simtom (Van der Hart, Brown, dan Van de Kolk, 1989)  

Menurut Putnam (1989) ada dua jenis abreaksi: abreaksi spontan dan abreaksi terkendali terapeutik. Yang dimaksud abreaksi spontan atau fenomena menyerupai abreaksi adalah ingatan pengalaman traumatik yang muncul tiba-tiba (flashback), mimpi buruk, dan ingatan detil lainnya tentang pengalaman traumatik yang muncul secara spontan, tidak terkendali, dan sebagian besar bersifat tak sadar dan menghambat atau mencegah terjadinya pelepasan emosi dari memori dan afek yang mengikuti flashback. Sementara abreaksi terkendali terapeutik dilakukan dengan sangat hati-hati, cermat, terukur, meliputi mengalami kembali pengalaman traumatik dan pelepasan emosi terkait, dan dilanjutkan dengan kerangka kerja bermakna.

Steele dan Colrain (1990) menganggap flashback sebagai abreaksi spontan, yang mereka definisikan sebagai mengalami trauma secara refleksif, tidak utuh, tidak terkendali, dan terpotong, yang sebagian besar kontennya terjadi secara nirsadar. Masih menurut mereka, resolusi sulit dicapai karena flashback dan fenomena lain yang menyerupai abreaksi tidak lengkap dan tidak terjadi kerangka kerja kognisi. Peterson (1991) menyatakan bahwa abreaksi spontan adalah lingkaran psikologis tanpa menawarkan penyelesaian, tetapi hanya mengulang dan mengulang apa yang telah terjadi.

Sementara Watkins (1949) menyatakan abreaksi adalah mengalami kembali secara emosi atau mengalami kembali pengalaman traumatik, dan dianalogikan sama dengan membuka bisul. Dikatakan seperti ini karena abreaksi melibatkan energi yang sangat besar dan pelepasan kecemasan.

Dua contoh kejadian yang sering dijumpai dalam interaksi sosial, yang melibatkan abreaksi adalah curhat dan revivifikasi. Curhat sebenarnya adalah tipe abreaksi spontan nonterapeutik. Saat seseorang menceritakan apa yang ia alami atau rasakan, pada saat yang sama terjadi pelepasan tekanan emosi. Setelahnya ia merasa lega, namun ini tidak menyelesaikan masalah karena tidak diikuti dengan kerangka kerja bermakna atau pengalaman korektif emosi.

Seringkali, saat curhat, individu secara spontan, di dalam pikirannya, mengalami kembali dengan semua indera, di saat ini, kejadian masa lalu. Kondisi ini, secara teknis disebut revivifikasi. Revivifikasi sering diikuti dengan terjadi luapan emosi dari kedalaman pikiran bawah sadar. Namun, sama seperti curhat, revivifikasi per se tidak terapeutik dan sering menyebabkan kondisi individu menjadi lebih parah karena mengalami trauma ulang tanpa resolusi.

Abreaksi saja tidak cukup untuk menyelesaikan trauma. Agar abreaksi efektif mengatasi trauma, ia harus dihubungkan dengan restrukturisasi kognitif, dan resolusi dilema yang ada dalam trauma (Steele,1989).

Hal ini sejalan dengan Fine (1991) yang menyatakan bahwa tujuan abreaksi adalah untuk memberi informasi, mendidik atau mendidik ulang, melepas afek yang ditekan, mencapai keberlangsungan konten memori, melepas trauma yang terperangkap dalam tubuh, dan membentuk ulang skemata kognisi dan kepercayaan.

Dengan demikian, dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa abreaksi adalah satu hal, dan resolusi trauma adalah hal lain. Resolusi trauma melibatkan dua faktor, abreaksi dan pengalaman korektif emosi.

(Sumber: adiwgunawan.com)

Memori Normal dan Traumatik

Memori Normal dan Traumatik

17 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

Riset terkini menunjukkan bahwa manusia memiliki lebih dari satu jenis memori. Ada memori jangka pendek dan panjang. Memori jangka panjang terbagi menjadi dua kelompok yaitu memori nondeklaratif, juga disebut dengan memori implisit, meliputi memori prosedural, keterampilan motorik, emosional, dan otomatis. Kelompok kedua, memori deklaratif, juga disebut dengan memori eksplisit, meliputi memori semantik dan episodik (Gunawan, 2003).

Memori jangka pendek berguna menampung informasi yang masuk ke pikiran individu. Rentang waktu maksimal untuk menyimpan informasi di memori ini sangat singkat, sekitar 15 – 30 detik. Memori prosedural (Tulving, 1985; Gunawan, 2003) merujuk pada kemampuan mengingat cara melakukan sesuatu, seperti berenang, naik sepeda, mengendari mobil, membuka pintu, mengikat tali sepatu, dan sejenisnya. Sesuai namanya, memori keterampilan motorik adalah memori yang menyimpan semua data yang berhubungan dengan gerakan motorik dalam melakukan suatu kegiatan. Sementara memori emosional adalah satu bentuk memori yang dipengaruhi oleh, dan dengan demikian bermuatan, emosi baik positif maupun negatif. Memori otomatis adalah memori yang terbentuk karena respon terkondisi. Saat memori ini aktif, ia akan mengaktifkan memori lainnya.

Memori semantik, juga disebut memori fakta, berisi data atau informasi yang dipelajari dari berbagai sumber, seperti buku, ceramah, internet, video, dan semua bentuk informasi yang disampaikan menggunakan kata-kata. Memori episodik adalah berisi informasi tentang fakta-fakta atau kejadian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu (Tulving, 1972, 1985; Gunawan, 2003). Memori episodik berkembang setelah memori semantik dan prosedural, dan berhubungan perkembangan hipokampus pada fase tumbuhkembang anak.

Perlu diingat bahwa tidak terdapat relasi antara keyakinan individu akan akurasi memori dan realibilitasnya. Dalam konteks memori, bisa terjadi konfabulasi, terciptanya memori palsu, dan kriptomnesia, individu mengingat satu bentuk memori seolah-olah adalah memori ini benar miliknya, sesuatu yang ia alami sendiri, dan sejatinya data ini berasal dari sumber lain yang bukan miliknya.

Distorsi Memori

Telah banyak pakar meneliti tentang memori (Loftus dan Loftus, 1976; Loftus, 1980; Pettinati, 1988; Loftus dan Ketcham, 1994; Brown, Scheflin, & Hammond, 1997), dan para peniliti ini sepakat akan tiga hal tentang pembentukan memori. Tahap pertama, akuisisi, saat data masuk ke dalam pikiran dan dikodekan untuk disimpan. Proses pengkodean ini terjadi beberapa cara, permukaan (superficial) atau dalam (deep), dan holistik atau berorientasi detil / detail-oriented (Orner, Whitehouse, Dinges, & Orne, 1988). Di tahap akuisisi, informasi yang masuk ke pikiran individu dipengaruhi banyak faktor baik eksternal maupun internal. Dan ini dapat menyebabkan distorsi. Data yang masuk bukan data murni, apa adanya, namun data ditambah komponen lain yang berasal dari faktor-faktor tadi, terutama faktor persepsi atau pemaknaan oleh individu.

Saat data berhasil diakuisisi, data ini diproses di tahap kedua, tahap retensi. Pada tahap ini juga dapat terjadi distorsi. Salah satu bentuk distorsi memori di tahap ini adalah memori dapat pudar, menjadi kurang intens setelah selang waktu tertentu. Individu bisa, secara tidak sadar atau sengaja, menambah atau mengurangi data memori asli akibat pengalaman hidupnya. Demikian pula, mimpi dan fantasi dapat mendistorsi memori. Memori dapat dikonstruksi ulang, dimodifikasi, diubah oleh pikiran bawah sadar karena beragam alasan (Phillips dan Frederick, 1995). Dan terdapat bukti informasi palsu yang diberikan setelah kejadian nontraumatik lebih mudah diingat daripada kejadian itu sendiri (Loftus, Miller, dan Burns, 1978; Loftus, 1979).

Distorsi lebih lanjut dapat terjadi di tahap pemanggilan kembali data memori (retrieval). Faktor yang memengaruhi adalah cara pertanyaan diajukan, bersifat mengarahkan (leading) atau menuntun (guiding) dan relasi antara penanya dan subjek. Sehalus apapun leading yang terjadi atau dilakukan pasti berpengaruh signifikan atas daya ingat individu (Loftus & Zanni, 1975; Bowers dan Hilgard, 1988).

Memori Traumatik

Walau telah banyak penelitian memori dilakukan, ternyata banyak pula temuan yang tidak sejalan (Hammond, 1993; Brown, Scheflin, dan Hammond 1997). Dari hasil penilitian juga ditemukan bahwa memori pengalaman traumatik disimpan dengan cara berbeda dari pengalaman nontraumatik (van der Kolk, 1996a, 1996b, 1997; Brown, Scheflin, dan Hammond 1997). Hasil pemindaian otak menemukan saat memori negatif muncul, ia mengaktifkan amigdala, tempat memori kejadian psiko-fisiologis dan bermuatan emosi disimpan, hemisfir kanan otak menjadi aktif sementara hemisfir kiri menjadi sangat berkurang keaktifannya. Temuan ini membantu memberi pemahaman mengapa proses penyimpanan dan kerja memori traumatik tidak mengikuti aturan yang sama dengan memori nontraumatik. Memori traumatik berisi konten tinggi afeksi dan rendah kognisi.

Dalam upaya penelusuran dan pengungkapan memori traumatik, terapis perlu cermat dan hati-hati dalam menyikapi setiap informasi yang muncul dari pikiran bawah sadar. Informasi ini secara subjektif benar adanya namun belum tentu benar secara objektif. Proses terapi mengedepankan penggalian informasi tanpa perlu melakukan validasi karena pengalaman subjektif inilah yang menjadi sumber masalah klien. Dengan demikian, apapun yang muncul atau ditemukan, inilah yang diproses hingga tuntas. Hal ini tentu berbeda bila penggalian informasi dari pikiran bawah sadar dilakukan dengan tujuan forensik (Gunawan, 2009).

Memori apapun yang muncul dalam proses terapi, baik tanpa atau dengan kondisi hipnosis disebut materi memori atau pengalaman memori (Phillips dan Frederick, 1995), atau lebih mudah disebut sebagai memori traumatik (Gunawan, 2009).

Sifat Memori Traumatik

Dari temuan di ruang praktik para hipnoterapis AWGI, ditemukan data menarik. Memori secara keseluruhan disebut dengan memori autobiografi, berisi semua jenis memori. Namun, memori traumatik yang berisi data atau informasi dari kejadian spesifik dengan muatan emosi negatif intens memiliki kehidupan sendiri dan tidak menyatu dengan memori autobiografi. Memori ini sangat ingin menyatu dengan memori autobiografi namun tidak bisa karena terhalang muatan emosi negatif yang lekat padanya.

Menyadari hal ini, pikiran bawah sadar, sesuai dengan sifat dan fungsinya, akan terus memunculkan memori ini dalam bentuk kilas balik ingatan atau flashback yang tentunya cukup mengganggu individu. Setiap kali kilas balik ini terjadi, diri individu segera terisi emosi negatif. Saat emosi negatif yang lekat pada memori berhasil dinetralisir atau dilepas maka pada saat itu pula ia dapat segera menyatu dengan memori autobiografi.

Memori-memori di pikiran bawah sadar semuanya aktif secara simultan, di masa kini. Masing-masing memiliki kehidupannya sendiri. Memori dengan muatan emosi negatif intens menjadi memori yang paling mudah dipanggil kembali atau diingat. Sementara memori normal, tanpa muatan emosi negatif (intens) akan pudar, menjadi samar, dan bahkan terlupakan.

Dalam proses terapi, hampir semua memori traumatik berasal dari kejadian saat individu berada dalam kandungan ibu hingga usia sekitar 10 tahun. Saat terjadi pembuahan, telah ada kesadaran dan yang aktif adalah pikiran bawah sadar. Apapun yang dialami oleh janin dan apa yang dialami dan dirasakan ibunya semuanya terekam di pikiran bawah sadar, menunggu hingga individu belajar bahasa untuk bisa mengungkapkannya.

Kejadian di masa kecil, seperti pelecehan seksual, saat dialami oleh anak, pada saat kejadian, belum dimaknai sebagai pengalaman traumatik. Pada saat itu anak belum paham mengenai hal ini. Namun seiring bertambahnya usia dan pemahaman, pikiran bawah sadar memberikan pemaknaan pada peristiwa itu sehingga menjadi pengalaman traumatik dan mengganggu kestabilan sistem psikis.

Pengalaman Emosional Korektif

Istilah pengalaman emosional korektif (corrective emotional experience) pertama muncul dalam buku Psychoanalytic Therapy: Principles and Application. Pengalaman emosional korektif adalah pemaparan ulang pasien, dalam situasi yang lebih mendukung, pada situasi emosional yang tidak dapat ia hadapi di masa lalu. Hal ini meliputi proses di mana klien meninggalkan pola perilaku lama dan belajar atau belajar ulang pola-pola baru dengan mengalami kembali kebutuhan dan perasaan-perasaan yang belum terselesaikan di masa lalu.  (Alexander, French, dkk., 1946). Dalam upaya mengatasi masalahnya, klien harus menjalani pengalaman emosional korektif yang sesuai untuk memperbaiki pengaruh dari pengalaman-pengalaman traumatik sebelumnya.

Dalam kaitannya dengan memori, hingga saat ini ada kepercayaan, di kalangan terapis tertentu, yang menyatakan bahwa pengungkapan memori traumatik per se bersifat terapeutik. Dengan kata lain, saat memori traumatik berhasil diungkap atau diketahui maka secara otomatis terjadi proses penyembuhan. Hasil penelitian dan temuan di ruang pratik tidak demikian. Pengungkapan memori adalah satu hal. Dan yang sangat penting dan bersifat terapeutik adalah penuntasan trauma.

(Sumber: adiwgunawan.com)

 

Trauma dan Penyembuhannya dari Perspektif Hipnoterapi Klinis dan Neurosains

Trauma dan Penyembuhannya dari Perspektif Hipnoterapi Klinis dan Neurosains

16 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

Perspektif Hipnoterapi Klinis

Setiap kejadian yang kita alami sejatinya netral namun berpotensi menjadi masalah. Kejadian menjadi masalah atau tidak sepenuhnya bergantung pada makna yang diberikan padanya. Pemberian makna diikuti dengan munculnya emosi, bisa positif, negatif, atau netral, yang lekat pada memori kejadian ini. Suatu kejadian disebut traumatik bila emosi yang muncul dan lekat pada memori kejadian adalah emosi negatif dengan intensitas tinggi. Semakin tinggi intensitasnya semakin traumatik.

Pemaknaan yang diberikan pada satu kejadian tentunya sangat dipengaruhi pengalaman hidup individu. Saat masih kecil, makna kejadian berasal dari meniru pola orangtua atau pengasuh utama. Setelah lebih besar, makna dilakukan dengan mengandalkan data yang telah terakumulasi di pikiran bawah sadar (PBS). Proses pemaknaan berlangsung dengan sangat cepat, bekerja di level pikiran bawah sadar (PBS), dan akan terus demikian sampai dilakukan upaya sadar untuk mengubahnya (Gunawan, 2014).

Kejadian traumatik, berdasar temuan di ruang praktik hipnoterapi klinis, bisa berawal sedini sejak dalam kandungan ibu. Namun, pada umumnya, pengalaman traumatik terjadi antara usia 0 hingga 10 tahun. Berbagai pengalaman ini tersimpan di memori pikiran bawah sadar. Ada yang masih bisa diingat dan ada yang sudah terlupakan namun tetap mengganggu hidup individu.

Terdapat perbedaan signifikan antara memori normal dan memori traumatik. Memori normal dapat diakses dengan mudah, bersifat sosial, adaptif, lentur, dan dapat dimodifikasi sesuai dengan situasi tertentu. Sementara memori traumatik muncul kembali, lebih sering karena terpicu oleh satu atau beberapa pemicu spesifik, yang selanjutnya diikuti dengan elemen memori terkait lainnya. Memori traumatik, karena adanya emosi intens yang lekat padanya, berubah sifat dan menjadi terpisah (split off) dari struktur memori global, memiliki kehidupan sendiri, kehilangan kemampuan untuk integrasi dan mengasimilasi pengalaman baru. Dengan kata lain, individu berhenti bertumbuh/fiksasi (LeDoux, 2016).

Split off yang juga dikenal sebagai disosiasi mencegah pengalaman traumatik terintegrasi ke dalam memori autobiografi yang terus menerus berkembang seiring perjalanan hidup individu. Dengan demikian tercipta dua sistem memori. Memori normal mengintegrasi elemen dari setiap pengalaman ke dalam aliran berkesinambungan dari pengalaman diri melalui proses asosiasi yang kompleks. Sementara memori traumatik disimpan terpisah, sebagai fragmen-fragmen beku yang sangat sulit dipahami.

Pengalaman atau memori traumatik muncul dalam dua skenario gangguan. Pertama, individu mengalami flasback atau tiba-tiba teringat kejadian atau elemen kejadian masa lalu disertai intensitas emosi yang tinggi. Setelah beberapa saat, bentuk pikiran ini hilang namun terus menyisakan residu emosi yang mengganggu. Kedua, individu tidak lagi mengingat apapun dari kejadian masa lalu namun yang muncul adalah perasaan tidak nyaman yang tidak diketahui sumber atau penyebabnya (Gunawan, 2016).

Jean-Martin Charcot, Pierre Janet, dan Sigmund Freud menyebut memori traumatik sebagai “rahasia patogen” (pathogenic secrets) atau parasit mental (mental parasites) karena walau penderita sangat ingin menghilangkan, melupakan, tidak lagi mau mengingat apa yang telah terjadi namun memori ini terus menerus muncul tanpa dapat dicegah atau dikendalikan, dan memerangkap individu dalam teror dan horor berkepanjangan.

Dua skenario yang dijelaskan di atas sepenuhnya adalah hasil kerja pikiran bawah sadar (PBS). Pengalaman klinis kami menangani sangat banyak klien memampukan kami menarik simpulan penting perihal fungsi PBS yang dapat menjelaskan apa yang dialami individu. Pertama, PBS berfungsi melindungi individu, dalam hal ini pikiran sadar dan tubuh fisik, dari hal-hal yang ia, PBS, rasa, yakin, persepsikan merugikan atau membahayakan. Kedua, PBS sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia bukan penyelesai masalah. PBS butuh bantuan orang lain untuk bisa menuntaskan masalah individu. Untuk itu, ia akan terus berkomunikasi dengan pikiran sadar dalam bentuk flashback atau perasaan tidak nyaman atau menempatkan individu pada situasi yang sama atau mirip dengan pengalaman traumatik (reenactment) sampai masalah ini tuntas terselesaikan.

Hal di atas sejatinya sejalan dengan paper Josef Breuer dan Sigmund Freud berjudul “Hysterics suffer mainly from reminiscences” yang dipublikasi tahun 1893. Dalam tulisan ini mereka menyatakan bahwa memori traumatik tidak tunduk pada proses “pemudaran” seperti yang terjadi pada memori normal. Memori traumatik terus aktif, segar, seolah baru terjadi. Individu dengan memori traumatik tidak dapat mengendalikan atau tahu kapan memori ini akan muncul (kembali).

Trauma terselesaikan tuntas, dari pengalaman klinis kami, hanya bila emosi yang melekat pada memori kejadian sepenuhnya berhasil dinetralisir. Selama masih ada sisa emosi, resolusi belum tuntas dan individu tetap akan mengalami gangguan. Goal terapi adalah mengintegrasi elemen beku, yang berasal dari pengalaman traumatik, melalui proses yang tepat, ke dalam narasi hidup sehingga otak mengenalinya sebagai “itu terjadi di masa lalu, ini yang sekarang”.

Perspektif Neurosains

Uraian berikut ini tidak bermaksud menjelaskan secara detil dan teknis mengenai cara kerja otak, saat individu mengalami trauma, namun lebih bertujuan untuk memberi gambaran besar agar pembaca bisa mendapat pemahaman mendasar.

Salah satu fungsi utama otak manusia adalah proteksi keselamatan melalui sistem peringatan dini akan bahaya atau hal-hal yang bisa mengancam keselamatan individu. Sistem saraf otonom mengatur tiga kondisi fisiologis fundamental yang diaktifkan, pada satu waktu tertentu, mengacu pada tingkatan bahaya atau ancaman yang sedang dihadapi individu. Dalam kondisi normal, saat individu merasa terancam, secara instingtif ia akan mengaktifkan jenjang pertama pengaman yaitu keterlibatan sosial (social engagement). Dalam hal ini, individu akan berteriak minta tolong, bantuan, dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Namun bila tidak ada yang datang menolong, atau bila bahaya semakin mendekat, individu akan kembali pada upaya penyelamatan hidup yang lebih primitif: lawan atau lari (fight or flight). Ia akan melawan pihak yang menyerang atau lari ke tempat aman. Namun, saat upaya ini gagal dan ia tertangkap maka individu akan mencoba mempertahankan diri dengan menjadi pasif dan mengeluarkan sedikit mungkin energi. Kondisi ini disebut freeze atau collapse.

Dalam konteks perlindungan diri individu dari bahaya, informasi atau stimuli yang berasal dari luar diri, yang diperoleh dari indera mata, telinga, hidung, dan kulit, semuanya berkumpul di thalamus. Dari thalamus informasi ini diteruskan turun ke amygdala, di sistem limbik, dan ke atas ke lobus frontalis untuk kita sadari.

Neurosaintis Joseph LeDoux (2008) menyebut jalur ke amygdala sebagai “jalur bawah” di mana kecepatan transmisi datanya sangat cepat. “Jalur atas” berawal dari thalamus, melalui hippocampus dan anterior cingulate, dan lanjut ke prefrontal cortex, otak rasional, untuk pemaknaan secara sadar dan lebih baik. Kecepatan transmisi data melalui “jalur atas” butuh waktu lebih lama beberapa milidetik dibanding “jalur bawah”.

Fungsi utama amygdala adalah seperti detektor asap yaitu mengenali apakah input yang diterima bersifat netral atau berpotensi membahayakan keselamatan. Amygdala melakukan ini dengan bantuan hippocampus, bagian otak yang berfungsi menghubungkan input baru dengan pengalaman masa lalu.  

Bila amygdala mendeteksi bahaya, ia segera mengirim sinyal ke hypothalamus sehingga terjadi aktivasi poros HPA (hypothalamus, pituitary, adrenal) dan terjadi sekresi hormon stres, seperti adrenalin dan cortisol, yang meningkatkan detak jantung, menaikkan tekanan darah, napas menjadi lebih cepat, pandangan mata menjadi lebih awas, dengan tujuan menyiapkan individu untuk menghadapi bahaya atau ancaman.

Sensitivitas amygdala, menurut Gray (1985), dalam penelitiannya dengan hewan, dalam menentukan apakah suara, gambar, atau sensasi tubuh adalah ancaman atau tidak, dipengaruhi di antaranya oleh jumlah neurotransmiter serotonin di bagian otak ini. Bila jumlah serotonin di amygalarendah maka hewan menjadi hiperaktif terhadap stimuli yang dapat mengakibatkan stres (seperti suara keras), sementara level serotonin yang tinggi membuat mereka lebih kuat dan tidak mudah bersikap agresif atau “membeku” sebagai respon terhadap situasi yang mengancam.

Scott Rauch, dari Massachusetts General Hospital Neuroimaging Laboratory, menggunakan fMRI (functional magnetig resonance imaging), merekam aktivitas otak saat seseorang mengalami “trauma”. Yang aktif daerah sistem limbik, tepatnya amygdala, bagian otak yang bertanggung jawab dalam memberi sinyal bahaya dan mengaktifkan respon stres tubuh. Daerah Broca’s, pusat bahasa, menjadi nonaktif, mengakibatkan individu tidak mampu mengungkap perasaan dan pikiran ke dalam kata-kata. Daerah Broca’s nonaktif setiap kali muncul gambar kejadian traumatik.

Satu bagian dari korteks visual, Brodmann’s area 19, aktif. Ini adalah bagian otak yang menerima gambar-gambar saat pertama kali masuk ke otak melalui mata. Dalam kondisi normal, setelah bagian ini menerima gambar, gambar ini diteruskan ke bagian lain yang memberi makna atas apa yang dilihat individu. Saat bagian ini menyala, aktif, seolah-olah kejadian ini baru terjadi. Dengan demikian trauma membuat gambar ini terus muncul dan mengganggu hidup individu (revivifikasi). 

Hasil pemindaian pada otak juga mengungkap data menarik yaitu saat individu mengalami trauma, wilayah otak yang aktif dominan adalah otak kanan sementara otak kirinya menjadi tidak aktif. Deaktivasi otak kiri berpengaruh langsung pada kemampuan mengorganisir pengalaman ke dalam alur logis dan menerjemahkan perubahan perasaan dan persepsi ke dalam kata-kata. Tanpa kemampuan mengurutkan seperti ini kita tidak dapat mengenali sebab dan akibat, memahami pengaruh jangka panjang dari setiap tindakan kita atau membuat perencanaan masa depan. Orang yang sedih atau dalam kondisi emosinya terganggu sering berkata bahwa pikiran mereka “buntu”. Secara teknis yang terjadi adalah mereka, pada saat itu, kehilangan fungsi eksekutif dari otaknya.

Saat sesuatu mengingatkan seseorang yang pernah mengalami trauma di masa lalu, otak kanan mereka bereaksi seolah-olah pengalaman traumatik ini sedang terjadi. Berhubung otak kiri mereka sedang tidak bekerja dengan baik, mereka tidak sadar bahwa yang mereka alami adalah pengalaman dari masa lalu. Mereka kembali merasakan berbagai emosi sama seperti yang dulu mereka alami seperti marah, kecewa, takut, sedih, sakit hati, atau malu.

Hasil pemindaian yang sama sekali berbeda tampak pada individu yang melakukan penyangkalan (denial). Saat terjadi penyangkalan, di pikiran individu seolah-olah tidak ada masalah atau tidak ada yang terjadi. Ini sejatinya adalah bentuk proteksi diri (defense mechanism) yang dilakukan PBS untuk melindungi individu. Hasil pemindaian otak individu yang melakukan penyangkalan menunjukkan hampir semua wilayah otak tidak terdapat aktivitas berarti. Semuanya “padam”. Walau hasil pemindaian menunjukkan demikian, padamnya aktivitas otak, individu tidak merasa apapun secara emosi, namun fisik mereka tetap menunjukkan reaksi stres.

Trauma juga mengakibatkan wilayah otak yang berperan mengenali diri menjadi nonaktif. Wilayah otak yang dimaksud meliputi medial prefrontal cortex (MPFC), anterior cingulate (koordinasi emosi dan berpikir), lobus parietal (integrasi informasi sensori), dan insula (meneruskan berita dari organ dalam ke pusat emosi). Satu bagian yang sedikit aktif adalah posterior cingulate yang bertanggung-jawab untuk orientasi ruang atau GPS internal sehingga kita tahu di mana posisi dan keberadaan diri.

Ini terjadi sebagai bentuk respon terhadap trauma, dan dalam upaya mengatasi ketakutan yang terus menghantui seseorang sebagai akibat dari trauma itu, individu belajar menonaktifkan wilayah otak yang mengirim perasaan yang berasal dari organ dalam dan emosi yang menyertai dan mendefinisikan teror. Sementara, dalam kehidupan sehari-hari, bagian otak yang sama berfungsi untuk meregister semua bentuk sensasi dan emosi yang membentuk kesadaran akan diri. Ketidakmampuan merasakan sensasi fisik akibat emosi tertentu mengakibatkan individu tidak mampu mengungkap perasaannya, khususnya dengan ungkapan verbal. Kondisi ini dinamakan alexithymia.

Medial prefrontal yang nonaktif menjelaskan mengapa begitu banyak individu yang mengalami trauma kehilangan arah dan tujuan. Ini juga yang menyebabkan klien yang meminta saran atau masukan, setelah diberi oleh Saya, tidak menjalankan saran tersebut walau mereka tahu ini penting dilakukan untuk kebaikan mereka. Ini terjadi karena relasi mereka dengan realita internal terganggu. Mereka tidak dapat melakukan suatu tindakan atau putusan karena mereka tidak lagi tahu atau mengenali tujuan secara spesifik, bagaimana sensasi atau rasa di tubuh, yang menjadi dasar dari semua hal tentang emosi yang kita ceritakan pada mereka.

Hipnoterapi untuk Mengatasi Pengalaman Traumatik

Hipnoterapi, sesuai namanya, terdiri atas dua kata, “hipnosis” dan “terapi”. Saya mendefinisikan hipnoterapi sebagai terapi, bisa menggunakan teknik apa saja, yang dilakukan dalam kondisi hipnosis. Berdasar definisi ini muncul sangat banyak varian hipnoterapi bergantung teknik yang digunakan.

Namun, secara garis besar, terdapat dua mazhab hipnoterapi yaitu hipnoterapi berbasis sugesti dan hipnoanalisis. Tipe pertama sepenuhnya mengandalkan sugesti untuk membantu klien mengatasi masalah. Sementara tipe kedua mengutamakan upaya mencari dan menemukan akar masalah dan memroses emosi yang ada pada kejadian awal. Hipnoterapi berbasis hipnoanalisis lebih kompleks namun jauh lebih efektif.

Dalam mencari akar masalah biasanya menggunakan tenik regresi, baik regresi berbasis afek maupun ego personality. Kedua teknik regresi ini mirip namun berbeda signifikan dalam cara penelusuran ke akar masalah dan kompleksitas emosi yang diproses.

Para hipnoterapis, dalam upaya membantu klien mengatasi masalah, menggunakan prinsip “The symptom is the key to the solution”. Kami menggunakan simtom untuk menemukan sumber masalah yang terletak di pikiran bawah sadar klien.

Intinya, setelah berhasil menemukan akar masalah, Saya melakukan restrukturisasi PBS dan menetralisir tuntas emosi-emosi yang muncul akibat kejadian itu. Setelahnya kami melakukan edukasi PBS untuk memberi pemahaman, pengetahuan, atau strategi baru dalam menghadapi kejadian yang mirip atau sama dengan yang sebelumnya dialami klien. Dengan demikian, di kemudian hari, kejadian serupa tidak lagi bisa menjadi sumber trauma. 

Apa yang dilakukan hipnoterapis klinis sejatinya sangat sejalan dengan yang dinyatakan Breuer dan Freud. Dalam paper Breuer dan Freud (1893) secara gamblang diungkap bahwa cara untuk menyembuhkan klien histeria segera dan permanen adalah dengan mengungkap memori kejadian beserta emosi yang menyertainya, klien menceritakan secara detil yang ia rasakan dengan kata-kata, dan terjadi “reaksi energetik” pada kejadian traumatik untuk menguras habis emosi. Bila klien hanya menceritakan tanpa emosinya dikuras habis melalui proses abreaktif, bisa dengan menangis hingga tindakan tertentu, maka proses yang dialami klien tidak terapeutik.

Berikut ini adalah kutipan pernyataan Breuer dan Freud (1893):

“ ……We found, to our great surprise, at first, that each individual hysterical symptom immediately and permanently disappeared when we had succeeded in bringing clearly to light the memory of the event of which it was provoked and in arousing its accompanying affect, and when the patient has described that event in the greratest possible detail and had put the affect into words. Recollection with out affect invariably produces no result.

……it brings to an end the operative force … which was not abreacted in the first instance by allowing its strangulated affect to find a way out through speech; and it subjects it to associative correction by introducing it into normal consciousness.”

Dari hasil pemikiran dan tulisan Breuer dan Freud inilah sebenarnya bermula terapi bicara yang sekarang digunakan dalam dunia psikologi. Namun sayangnya, umumnya dipercaya bahwa hanya dengan menceritakan trauma dengan detil dapat membantu seseorang mengatasi trauma itu. Kenyataannya tidaklah demikian. Mengutamakan pikiran sadar baik untuk eksplorasi sumber masalah maupun untuk mengatasi emosi tidak efektif dan juga tidak terapeutik.

Trauma hanya bisa selesai bila emosi yang lekat pada kejadian berhasil dinetralisir. Dan hasil pemindaian otak menunjukkan dengan jelas bahwa saat inividu diminta menceritakan kembali pengalaman traumatik, otak rasionalnya tidak mampu bekerja dengan baik.

Sejalan dengan pemikiran Breuer dan Freud, hipnoterapis klinis telah mengembangkan teknik terapi berbasis pengungkapan kejadian awal dan teknik-teknik abreaksi yang jauh lebih maju, aman, dengan tingkat ketuntasan dan signifikansi abreaktif sangat tinggi karena langsung bekerja di pikiran bawah sadar, bukan pikiran sadar.

Mengatasi Trauma dengan Pendekatan Neurosains

Reaksi pascatrauma dijalankan oleh “mesin” yang terletak di otak emosi yang biasanya bereaksi dalam dua bentuk, sikap waspada berlebih, cemas, emosi meningkat tinggi, agitasi (hyperarousal) atau merasa sedih, “down”, lesu, tidak semangat, apatis, respon dan aktivitas fisik melambat (hypoarousal). Berbeda dengan otak rasional yang mengekspresikan dirinya dalam bentuk pikiran, otak emosi berekspresi melalui reaksi fisik seperti perasaan tidak nyaman di perut, degup jantung lebih cepat, napas memburu, bicara dengan nada tinggi, dan berbagai gerakan tubuh yang menunjukkan kemarahan, situasi bertahan, atau beku (freeze).

Otak rasional sangat baik dalam membantu kita memahami asal emosi namun ia tidak dapat menghilangkan emosi, sensasi atau bentuk pikiran yang muncul. Dengan memahami mengapa kita merasakan perasaan tertentu tidak serta merta mengubah bagaimana kita merasa.

Hal terpenting dalam mengatasi trauma adalah dengan mengembalikan keseimbangan operasional antara otak rasional dan otak emosi. Untuk mengubah reaksi pascatrauma dibutuhkan akses langsung ke otak emosi dan melakukan “terapi sistem limbik” yaitu memperbaiki sistem peringatan bahaya yang “rusak” dan mengembalikan otak emosi pada tugas normalnya sebagai pengatur kerja tubuh, memastikan kita makan, tidur, relasi dengan pasangan, melindungi anak-anak, dan menghadapi bahaya.

Otak rasional berpusat di dorsolateral prefrontal cortex dan tidak memiliki koneksi langsung dengan otak emosi di mana hampir semua jejak trauma tersimpan. Bagian otak, medial prefrontal cortex, pusat kesadaran diri, memilki koneksi langsung dengan otak rasional. Dengan demikian, untuk mengakses otak emosi secara sadar, seperti yang dinyatakan oleh neurosaintis Joseph LeDoux (1998) adalah melalui kesadaran diri yaitu mengaktifkan medial prefrontal cortex guna mengetahui dan menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri dan memungkinkan kita merasakan apa yang kita rasakan. Secara teknis, ini disebut interoception. Riset neurosains menunjukkan bahwa satu-satunya cara kita dapat mengubah cara kita mengelola emosi adalah dengan menjadi sadar akan pengalaman di dalam diri dan belajar bersahabat dengan apa yang terjadi di dalam diri. Secara ringkas, kunci kesembuhan adalah kesadaran diri (mindfulness).

Aplikasi mindfulness dalam mengatasi emosi yang lekat pada pengalaman traumatik adalah dengan menyadari munculnya memori traumatik, hanya menyadari atau mengamati, hanya tahu, tanpa masuk ke dalam kejadian, tidak memberi label atau makna. Saat memori traumatik muncul dan diperlakukan seperti ini, ia akan tenggelam atau hilang. Kemudian, ia akan muncul lagi, hilang, muncul, hilang, demikian seterusnya. Setiap kali ia muncul dan diperlakukan seperti ini, emosi yang lekat padanya menjadi semakin pudar hingga akhirnya hilang dan memori traumatik menjadi memori biasa.

Mindfulness telah terbukti memiliki efek positif pada beragam simtom psikologis, psikiatris, psikosomatis, termasuk depresi dan rasa sakit kronis (Hofmann dkk., 2010). Midfulness juga berpengaruh positif pada respon kekebalan tubuh, tekanan darah, dan level kortisol (Davidson, dll., 2003; Carlson dkk., 2007), dan juga berpengaruh positif pada wilayah otak yang terlibat dalam regulasi emosi (Hölzel dkk., 2010) yang selanjutnya memengaruhi perubahan pada wilayah otak yang terlibat dalam kesadaran akan tubuh dan rasa takut (Craig, 2003). Berlatih mindfulness juga dapat mengurangi keaktifan amygdala, dengan demikian mengurangi reaktivitas terhadap pemicu situasi atau tanda bahaya (Banks, 2007).

Cara lain untuk mengatasi emosi adalah dengan melatih atau olah napas, melakukan gerakan tubuh tertentu dengan lambat dan ritmik, danchanting (membaca berulang kalimat tertentu). Teknik ini bekerja karena sekitar 80% jaringan saraf vagus, yang menghubungkan otak dengan banyak organ dalam, memiliki arah koneksi dari tubuh ke otak.

Sengaja bernapas dengan sangat lambat dan dalam, serta tetap dalam kondisi tubuh rileks, saat mengakses memori yang menyakitkan, sangat penting untuk penyembuhan (Brown dan Gerbarg, 2005). Saat kita secara sengaja menarik napas panjang dan lambat, sistem saraf parasimpatik menjadi aktif. Semakin seseorang fokus pada napas, semakin besar manfaat yang akan ia peroleh, terutama bila fokus atau perhatian ini diarahkan hingga momen akhir embusan napas dan sebelum tarikan napas berikutnya.

Mengendalikan emosi dengan melalui media prefrontal cortex disebut regulasi melalui “jalur atas” sementara bila menggunakan napas dan gerakan tubuh adalah regulasi melalui “jalur bawah”.

(Sumber: adiwgunawan.com)

 

Adiksi Emosi

Adiksi Emosi

16 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

Ada dua cara jalani hidup. Pertama, hidup di bawah kendali kesadaran. Dan kedua, hidup di bawah kendali emosi. Bila diminta memilih, secara sadar, tentu kita semua ingin jalani hidup dengan penuh kesadaran. Namun, pilihan pertama tidak mudah. Dibutuhkan upaya dan kesungguhan niat untuk melatih diri mampu sadar dalam berpikir, berucap, dan bertindak. 

Mayoritas orang, tanpa disadari, jalani hidup di bawah kendali emosi, terutama emosi-emosi seperti marah, benci, dendam, kecewa, terluka, sakit hati, frustasi, malu, tidak berharga, dan berbagai emosi negatif lainnya. 

Dari mana asal emosi negatif ini? 

Pengalaman hidup dan makna yang dilekatkan padanya menentukan emosi yang muncul. Setiap orang berbeda dalam memberi makna. Satu kejadian bisa bermakna negatif, bagi satu orang, namun bisa bermakna positif bagi yang lain. 

Pemaknaan dilakukan berdasar kepercayaan yang dipegang individu. Dan mengikuti gerak pikiran yang sangat cepat, pemaknaan terjadi dalam sekejap, di level pikiran bawah sadar (PBS), di luar kendali diri (pikiran sadar) dan individu hanya rasakan produk akhir pemaknaan yaitu emosi. 

Saat emosi muncul, bergantung pada intensitasnya, ia segera menguasai diri individu. Semakin intens emosi ini, semakin kuat daya kendali dan cengkeramannya atas pikiran sadar individu. Akibatnya, individu sulit berpikir logis, sulit gunakan nalar sehat saat diri dalam kendali emosi. 

Emosi yang melekat pada memori kejadian pertama selanjutnya bisa mendapat penguatan saat individu alami kejadian yang sama atau serupa dengan kejadian sebelumnya, memberi makna yang sama, dan muncul emosi yang sama. Rangkaian kejadian bermuatan emosi yang sama ini terangkai dalam jalinan memori dengan intensitas emosi yang semakin lama semakin kuat. Sama halnya bola salju yang menggelinding dan membangun momentum. 

Sesuai judul artikel ini, saya akan bahas adiksi emosi ditinjau dari dua perspektif: sifat pikiran bawah sadar (PBS) dan tubuh. Ada satu fungsi PBS yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami yaitu PBS sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia tidak punya kemampuan untuk melakukan resolusi ini. 

Cara PBS membantu individu untuk selesaikan trauma (emosi negatif) adalah dengan menempatkan individu pada situasi atau kejadian yang sama atau mirip dengan kejadian sebelumnya, belajar dari kejadian ini dan atasi emosinya. Namun, yang selama ini terjadi, saat individu alami kembali kejadian yang sama atau mirip dengan kejadian sebelumnya, bukannya ia belajar atau bertumbuh, emosinya menjadi semakin intens. PBS akan terus lakukan hal ini sampai individu sadar pesan yang ia sampaikan dan selesaikan trauma ini. 

Biasanya ada dua situasi di mana individu akhirnya sadar bahwa ia perlu atasi emosinya. Pertama, ia sadar bila dibiarkan emosi ini akan berakibat buruk bagi hidupnya. Dan untuk itu ia putuskan segera atasi emosi ini dengan berbagai cara.  Kedua, ia dalam kondisi yang sedemikian buruk, akibat emosi negatif dalam dirinya, sehingga tidak ada cara lain untuk atasi masalah ini kecuali dengan berubah. 

Hal menarik saat kita alami emosi, otak akan hasilkan senyawa kimiawi (neuropeptida) yang selanjutnya dikirim ke sel-sel tubuh. Senyawa kimiawi ini akan memengaruhi sel dan memodifikasi reseptor sel. Semakin sering seseorang alami emosi yang sama, karena PBS menempatkan ia dalam situasi yang sama atau mirip dengan sebelumnya, dan menimbulkan emosi yang sama, maka semakin banyak modifikasi terjadi pada reseptor sel hingga pada satu saat sel alami "desensitisasi" terhadap senyawa kimiawi ini. Satu-satunya cara untuk bisa menstimulasi sel-sel tubuhnya adalah dengan "memberi" senyawa kimiawi dengan "intensitas" yang lebih tinggi karena baseline-nya telah berubah. 

Orang yang sering alami emosi negatif tertentu, misalnya marah, sering tidak sadar bahwa marah telah menjadi kondisi alamiahnya. Dan ini terekam di sel-sel tubuhnya. Saat tidak marah, ia merasa tidak nyaman, karena ia di luar zona nyamannya. Sel-sel tubuhnya butuh senyawa kimiawi "marah' untuk bisa merasa nyaman. Dan disadari atau tidak, ia akan alami situasi, kejadian, peristiwa, atau apapun yang munculkan perasaan marah. Dan siklus ini terus berlanjut. 

Akan menjadi lebih buruk lagi bila individu mengidentifikasi dirinya dengan emosinya. Sebelumnya ia berkata, "Saya sedang marah." Lambat laut, bila ia sering marah, akhirnya ia berkata, "Saya pemarah", dan sejak saat ini marah identik dengan dirinya, menjadi identitasnya, yang akan terus ia perkuat. 

Ini yang terjadi di dalam pikiran dan tubuh. Yang tampak di luar sangatlah berbeda. Disadari atau tidak, individu yang alami adiksi emosi akan gunakan situasi, lingkungan, peristiwa, atau apa saja untuk perkuat emosinya. PBS menempatkan ia pada situasi itu, tubuhnya butuh senyawa kimiawi emosi tertentu, dan ia lakukan hal yang seharusnya dihindari yaitu memperkuat emosinya. 

Misalnya dalam diri seseorang ada emosi marah yang intens. Ia, tanpa disadari, akan memperkuat emosi marah ini dengan menggunakan lingkungannya. Misalnya, ia cerita pada temannya mengapa ia marah. Saat ia ceritakan apa yang dulu terjadi, yang membuat ia marah, di dalam pikirannya, lebih tepat pikiran bawah sadarnya, ia alami kembali kejadian ini. Dan senyawa kimiawi "marah" membanjiri tubuhnya dan membuat tubuhnya "nyaman" dan menjadi semakin mudah marah. 

Semakin lama, ia menjadi semakin mudah marah. Ia bisa marah pada hujan, rekan kerja, pasangan, jalan yang macet, sahabat yang tidak sependapat dengannya, marah karena harga bahan bakar naik, marah karena tarif listrik naik, dan marah pada hal yang seharusnya tidak perlu membuatnya marah. Intinya, ia selalu dapat temukan alasan atau pembenaran untuk marah pada apa saja. Dan hebatnya, ia merasa benar, dan punya alasan logis, masuk akal untuk marah. 

Memang demikianlah cara kerja pikiran. PBS memunculkan emosi tertentu dan pikiran sadar berusaha temukan pembenaran atas apa yang dilakukan.

Inilah yang disebut adiksi emosi. Saat saya jelaskan hal ini pada klien, di ruang terapi, klien menolak bila ia dikatakan alami adiksi emosi. Ia merasa wajar saja bila ia marah atau alami emosi negatif tertentu. 

Saya jelakan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat atau sangat sulit dihentikan masuk dalam kategori adiksi. Bila ia sulit untuk "tidak marah" atau sulit berhenti menjadi marah karena situasi tertentu maka ia alami adiksi emosi. Sama seperti halnya anak yang sulit berhenti main game, orang dewasa yang sulit berhenti main gawai, orang yang sulit kendalikan nafsu makan. 

Apa solusi terbaik untuk atasi adiksi emosi? 

Saat pikiran dan hati tenang, suasana nyaman, saat tidak sedang alami emosi negatif tertentu, di saat inilah kita dapat berpikir (lebih) jernih. Dan putusan untuk berubah dapat dilakukan di momen ini.

(Sumber: adiwgunawan.com)

 

Pikiran, Emosi, Gen, dan Kesehatan

Pikiran, Emosi, Gen, dan Kesehatan

16 Mei 2019

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH ®.

(Artikel ini ditulis dengan tujuan memberi informasi hubungan antara pikiran, emosi, dan kesehatan, dan untuk memberi harapan bahwa masih ada peluang untuk sembuh dari sakit “berat” dengan pendekatan berbeda sebagai komplemen tindakan medis. Pembaca disarankan untuk selalu mengutamakan konsultasi ke dokter atau menjalani tindakan medis bila sakit.)

Beberapa waktu lalu di sela acara seminar, salah satu peserta berdiskusi dengan Saya mengenai kondisi kesehatannya. Rekan ini adalah pebisnis sukses, usianya baru sekitar 30an, dan sudah lima tahun menderita penyakit autoimun, ankylosing spondylitis. Rekan ini merasakan lehernya sakit setiap kali ia menoleh. Ia juga berkata bahwa penyakit ini tidak ada obatnya, tidak bisa sembuh, karena disebabkan oleh kelainan gen.

Benarkah semua ini karena gen? Bila benar karena gen, bisakah kondisi ini disembuhkan? Sebelumnya, ia dalam kondisi sehat, bugar. Namun, entah apa yang terjadi padanya, ia menjadi sakit. Dapatkah kita memengaruhi kerja gen untuk kebaikan, kesembuhan, dan kesehatan?

Kelainan gen tunggal yang memengaruhi hidup manusia dan mengakibatkan penyakit seperti Huntington’s disease (HD), beta thalasemia, dan cystic fibrosis, hanyalah sebesar 2%. Mayoritas manusia, 98%, lahir dengan gen-gen yang seharusnya mampu membuat kita hidup sehat dan bahagia. Penyakit yang menjadi momok manusia modern seperti diabet, sakit jantung, dan kanker, bukanlah karena pengaruh gen tunggal, namun adalah akibat atau hasil interaksi banyak gen dan faktor lingkungan.

James Watson, Ph.D., dan Francis Crick, Ph.D., adalah penemu struktur DNA double helix, yang menyatakan, di jurnal Nature, terbit tahun 1970, bahwa kondisi biologis manusia ditentukan sepenuhnya oleh gen. Hingga saat ini, dogma ini masih sangat kuat memengaruhi pandangan awam.

Pergesaran paradigma luar biasa terjadi saat ilmuwan akhirnya berhasil memetakan gen manusia melalui Human Genome Project (HGP). HGP diawali tahun 1990 dan berakhir tahun 2003. Semula para ilmuwan berharap dapat menemukan 140.000 gen berbeda. Angka ini berasal dari 100.000 jenis protein yang ada di tubuh manusia dan 40.000 protein pengatur yang dibutuhkan untuk membuat protein lainnya, dan setiap gen menghasilkan protein spesifik.

Di akhir proyek pemetaan gen manusia, tahun 2003, para ilmuwan hanya menemukan 23.688 gen. Dari dogma Watson tampak jelas bahwa jumlah gen yang terpetakan tidak sejalan dengan jumlah protein yang ada dan membentuk struktur tubuh manusia.

Satu kemungkinan yang bisa terjadi hanyalah gen-gen ini bekerjasama dengan kombinasi tertentu, ada yang “nyala” (aktif) dan “padam” (tidak aktif) dalam waktu bersamaan di dalam sel. Sama halnya dengan lampu pohon natal yang menyala dan padam. Kombinasi “nyala” dan “padam” ini menentukan jenis protein yang dihasilkan.

Gen dikelompokkan berdasar stimulus yang mengaktifkan dan menonaktifkan mereka. Ada experience-dependent gen atau activity dependent gen yaitu gen yang aktif saat seseorang belajar hal baru, mengalami pengalaman baru, atau sedang dalam proses penyembuhan. Gen-gen ini menghasilkan sintesa protein dan senyawa kimiawi yang memberi perintah pada stem sel untuk berubah menjadi sel yang dibutuhkan untuk penyembuhan.

Behavioral-state-dependent gen menjadi aktif saat individu sedang mengalami kondisi emosi intens, stres, atau mengalami beragam kondisi kesadaran yang berbeda, termasuk saat kita sedang bermimpi. Gen-gen ini menghubungkan pikiran dan tubuh.

Bagaimana pikiran dan emosi sampai bisa memengaruhi gen dalam inti sel?

Saat kita berpikir dan merasakan emosi tertentu otak menghasilkan senyawa kimiawi yang disebut neuropeptida. Neuropeptida ini berfungsi sebagai pembawa pesan dan menyebar ke sel-sel di seluruh tubuh dan mencari reseptor atau docking station yang sesuai untuk dapat menyampaikan pesan kepada DNA dalam sel. Ini sama seperti kita memasukkan flashdisk ke USB-port di laptop dan selanjutnya mengunduh datanya ke komputer.

Melalui gen-gen inilah akhirnya dimengerti bagaimana kita dapat memengaruhi kesehatan tubuh melalui kondisi pikiran dan tubuh guna meningkatkan kesehatan, ketahanan fisik, dan kesembuhan.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa hampir 90% gen dipengaruhi oleh interaksi dengan keluarga, lingkungan, tempat kerja, teman, rekan kerja, stres, makanan, gaya hidup, praktik spiritual, kondisi emosi, dll.

Riset terkini di bidang genetika menemukan bahwa faktor di luar sel memengaruhi gen. Ini dinamakan epigenetics yang secara harafiah berarti “control above genetics” atau “kendali atas gen”. Faktor ini bisa yang berasal dari luar sel, masih di dalam tubuh, dan bisa berasal dari luar diri individu seperti interaksi dengan lingkunan, keluarga, teman, rekan kerja, stres, emosi, pikiran, polusi, makanan, gaya hidup, praktik spiritual, kondisi emosi, dll.

Epigenetics menyatakan bahwa nasib kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh gen-gen kita dan perubahan kondisi kesadaran manusia dapat menghasilkan perubahan fisik, baik pada struktur dan fungsi di tubuh manusia.

Contoh nyata epigenetics adalah pada kembar identik dengan DNA yang persis sama. Jika mengacu pada pernyataan bahwa semua penyakit ditentukan oleh gen – genetic predeterminism, berarti kedua kembar ini punya ekspresi gen yang sama dan sakit yang sama.

Namun ternyata tidaklah demikian. Kembar identik bisa punya gen yang sama namun kondisi fisik atau kesehatan yang berbeda. Studi epigenetics memunculkan satu pertanyaan penting: Bagaimana bila kita tidak dapat mengubah lingkungan eksternal?

Bagaimana bila kita melakukan hal yang sama setiap hari, bertemu orang yang sama pada waktu yang sama setiap hari – hal-hal yang mengakibatkan pengalaman yang sama dan menghasilkan emosi yang sama yang memberi sinyal kepada gen-gen dengan cara yang sama?

Selama kita melihat atau menjalani hidup dengan kacamata masa lalu dan bereaksi pada kondisi yang kita alami menggunakan jaringan otak yang sama, merasakan emosi yang sama, maka senyawa kimiawi yang dihasilkan otak, neurotransmitter dan neuropeptida yang menyebar ke sel-sel tubuh, yang berperan sebagai pembawa pesan (messenger), adalah sama, dan kita mengirim sinyal yang sama pada gen-gen yang sama, dan membuat gen-gen ini aktif atan nonaktif dengan cara yang sama, dan mengakibatkan kondisi kita tetap sama.

Dengan kata lain, tubuh kita tinggal di masa lalu. Salah satu sebab utama dan paling kuat dari perubahan epigenetics adalah stres. Stres menyebabkan tubuh kehilangan keseimbangan (homeostasis). Ada tiga bentuk stres: stres fisik (trauma), stres kimiawi (racun), dan stres emosi (takut, khawatir, kewalahan, terluka, marah, benci, dll).

Setiap bentuk stres ini dapat mengakibatkan terjadinya 1.400 reaksi kimia dan menghasilkan lebih dari 30 hormon. Saat senyawa kimiawi/hormon ini terpicu, pikiran memengaruhi tubuh melalui sistem saraf otonom dan kita mengalami keterhubungan pikiran dan tubuh.

Ironisnya, merasakan atau mengalami stres bersifat adaptif, maksudnya semua makhluk hidup diprogram untuk mampu mengalami stres jangka pendek guna memobilisasi dan menggunakan semua sumber daya yang mereka miliki untuk mengatasi kondisi genting.

Saat Kita merasakan adanya ancaman di lingkungan, nyata atau hanya dalam pikiran, repson lawan atau lari (fight or flight) mengaktifkan sistem saraf simpatik (subsistem dari sistem saraf otonom), dan denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, otot menegang, hormon seperti adrenalin dan kortisol membanjiri tubuh menyiapkan kita untuk menyelamatkan diri melalui mekanisme lawan atau lari.

Setelah melewati masa genting, misalnya berhasil lolos dari kejaran anjing liar, tubuh akan kembali ke kondisi normal, homeostasis, segera setelah kita merasa aman atau berada di tempat yang aman. Inilah cara tubuh kita dirancang. Tubuh bisa keluar dari kondisi homeostasis namun hanya untuk waktu yang singkat, hingga bahaya lewat.

Hal serupa terjadi di dunia modern. Saat sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba ada pengemudi lain memotong jalur kita, untuk beberapa saat kita mungkin kaget dan marah. Ini bisa kita rasakan tidak hanya di perasaan namun juga terutama di tubuh Kita. Ini adalah respon stres. Beberapa saat setelah menyadari bahwa kita tidak sampai menabrak atau tertabrak, kita menjadi kembali rileks.

Respon stres juga bisa terjadi saat kita mengingat kejadian di masa lalu, yang berisi muatan emosi negatif intens namun belum terselesaikan, atau membayangkan kejadian di masa depan, yang juga menimbulkan emosi negatif.

Semua ini mengakibatkan kita hidup dalam mode survival yang nyata namun tidak nyata. Dan setiap kali kita merasakan emosi tertentu, otak menghasilkan neuropeptida yang akan menyebar ke sel-sel di seluruh tubuh dan memengaruhi gen-gen yang ada pada inti sel.

Bila emosi yang dirasakan adalah emosi negatif maka gen-gen ini akan terpengaruh secara negatif. Sebalilknya bila yang dirasakan adalah emosi positif maka gen-gen juga akan terpengaruh secara positif. Dalam mode fight-flight, energi kehidupan dimobilisasi dan digunakan oleh tubuh untuk melawan atau lari. Namun, bila tubuh tidak kembali ke homeostasis, karena kita terus merasa atau yakin ada bahaya, energi vital ini hilang tak berbekas.

Energi kehidupan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sel atau penyembuhan terpakai untuk tujuan lain. Komunikasi antarsel terhambat. Semua sistem diri fokus hanya pada upaya keselamatan hidup secara fisik. Sistem imun dan endokrin melemah karena gen-gen pada wilayah yang berhubungan dengan fungsi-fungsi ini terganggu.

Ini sama seperti 98% sumberdaya yang ada pada satu negara semuanya digunakan untuk pertahanan, dan tidak lagi ada yang tersisa untuk membangun infrastruktur, sistem komunikasi, produksi makanan, kesehatan, pendidikan, dll.

Peneliti di Ohio State Universty Medical Center menemukan lebih dari 170 gen yang terpengaruh oleh stres, 100 di antaranya benar-benar “off” (termasuk banyak di antaranya adalah gen yang memfasilitasi pembentukan protein untuk penyembuhan). Para peniliti melaporkan bahwa luka pada pasien yang mengalami stres butuh waktu 40% lebih lama untuk sembuh. Stres yang kita alami berbeda dari masa ke masa.

Stres di masa sekarang bisa muncul dari banyak kondisi atau sebab seperti akibat tekanan pekerjaan, berusaha memenuhi target perusahaan, kondisi finansial yang kurang baik, cemas akan masa depan, kerja berlebih dan kurang istirahat, menentukan target pribadi terlalu tinggi sehingga diri merasa tidak berdaya, lingkungan atau suasan kerja yang tidak kondusif, masalah rumah tangga, dan berbagai masalah lainnya.

Stres juga lebih sering dialami seseorang akibat pola pikir yang salah. Kondisi, kejadian, atau situasi yang sebenarnya tidak perlu menjadi masalah, bisa menjadi masalah (besar) dan mengakibatkan stres karena sikap dan pola pikir yang salah. Dan saat stres berlangsung dalam waktu lama, yang kita sebut stres kronis, tubuh terpengaruh, tidak mampu beroperasi optimal, menjadi tidak sehat atau bahkan sakit.

Sehat Berkat Pikiran

Setiap bentuk pikiran yang kita pikirkan, baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan/stres, setiap emosi yang kita rasakan, dan setiap kejadian yang kita alami, dapat menjadi penyebab perubahan epigenetics dari sel-sel tubuh. Dengan menyadari keterhubungan pikiran, emosi, dan perubahan epigenetics kita dapat membalik proses yang membuat kita sakit.

Caranya, pertama adalah dengan menetralisir emosi-emosi negatif yang selama ini terus dirasakan dan menganggu hidup kita. Emosi negatif, yang adalah stres, harus dihilangkan secepatnya dan setuntasnya. Selanjutnya adalah dengan memrogram pikiran bawah sadar untuk mencapai kondisi tubuh sehat.

Kunci untuk memrogram pikiran bawah sadar untuk kesembuhan dan kesehatan adalah dengan relaksasi mental dan fisik yang dalam (deep trance) yang digabungkan dengan teknik sensualisasi yang tepat, dan merasakan emosi positif spesifik dan intens.

Penjelasan detil teknik mengolah pikiran, perasaan, dan tubuh untuk kesembuhan dan kesehatan akan sangat panjang bila dijelaskan di sini. Teknik ini yang Saya ajarkan kepada salah satu klien penderita kanker tulang stadium empat guna melengkapi perawatan medis yang ia jalani. Sel-sel kankernya telah menyebar ke tulang rusuk dan tulang belakang L2 dan L5.

Dengan rutin mempraktikkan teknik penyembuhan berbasis sensualisasi dan emosi positif, tentunya dengan tetap menjalani perawatan medis, hasilnya klien dinyatakan sembuh total. Hasil PET Scan menunjukkan ia telah benar-benar bersih.

Dua penelitian penting tentang pengaruh relaksasi mental dan fisik yang dalam dan emosi positif yang memicu perubahan epigenetics untuk meningkatkan kesehatan diselenggarakan di Benson-Henry Institute for Mind Body Medicine di Massachusetts General Hospital di Boston.

Relaksasi mental dan fisik yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan perasaan tenang, damai, sangat menyenangkan, dan melihat pengaruhnya pada ekspresi gen. Dalam penelitian pertama, tahun 2008, dua puluh relawan mendapat pelatihan selama delapan minggu mempraktikan teknik yang berhubungan dengan pikiran dan tubuh (termasuk beberapa jenis meditasi, yoga, dan doa repetitif) yang bertujuan menghasilkan respon relaksasi, satu kondisi fisik yang sangat rileks dan nyaman.

Penelitian ini juga melibatkan sembilan belas meditator berpengalaman. Di akhir masa penelitian, meditator pemula menunjukkan perubahan pada 1.561 gen (874 mengalami upregulated untuk kesehatan dan 687 downregulated untuk stres), penurunan tekanan darah, denyut jantung dan napas. Sementara praktisi berpengalaman menunjukkan ekspresi 2.209 gen. Sebagian besar perubahan genetik ini meningkatkan respon tubuh terhadap stres psikologis kronis.

Penelitian kedua, tahun 2013, menemukan bahwa respon relaksasi mengakibatkan perubahan ekspresi gen setelah hanya satu sesi relaksasi mental dan fisik baik pada para pemula maupun praktisi berpengalaman. Gen yang mengalami upregulated antara lain yang memengaruhi fungsi kekebalan tubuh, metabolisme, energi, dan sekresi insulin, sementara gen yang mengalami downregulated antara lain yang behubungan dengan radang dan stres.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting berikut:

  • Pikiran, otak, dan tubuh saling terhubung dan memengaruhi satu terhadap yang lain.
  • Bentuk pikiran dan emosi yang kita pikirkan atau rasakan setiap hari membentuk siapa diri kita pada level seluler.
  • Betuk pikiran dan emosi yang sama menghasilkan pengaruh yang sama pada sel-sel tubuh dan mengakibatkan kondisi tubuh yang sama, bisa sehat atau sakit.
  • Saat memikirkan atau merasakan hal yang berbeda, kita mengubah pola listrik otak dan memulai pengaruh sistemik yang meliputi perubahan pada tegangan otot, ritme napas, dan aliran neurotransmitter dan hormon.

 (Sumber: adiwgunawan.com)