Artikel

Hal 1 2 3 4 >
Total 4 hal
Komponen Sugesti

Komponen Sugesti

8 Februari 2022

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Ada banyak definisi sugesti bergantung pandangan dan pemahaman masing-masing pakar atau praktisi. Saya mendefinisikan sugesti sebagai metode komunikasi bertujuan menghasilkan penerimaan dan pelaksanaan penuh keyakinan atas pesan yang disampaikan, tanpa melibatkan penilaian kritis terhadap alasan penerimaan pesan, dan mengakibatkan perubahan penilaian, pendapat, sikap, dan atau perilaku. 

Konsep sugesti dapat didekati melalui beberapa cara. Pertama, melalui metode, cara, atau kanal komunikasi yang digunakan. Bila sugesti ditilik dari cara penyampaiannya, dikenal dua jenis sugesti yaitu heterosugesti, sugesti yang disampaikan seseorang kepada orang lain, dan autosugesti (sugesti intrapersonal) yaitu sugesti yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri. 

Sugesti dapat didekati melalui variabel situasional dan kontekstual. Kondisi aktual saat sugesti diberikan berpengaruh pada kecenderungan sugesti diterima dan dijalankan. Sugesti yang diberikan dalam situasi klinis, di ruang praktik, di laboratorium untuk penelitian, dan di tempat umum berpengaruh pada derajat respon dan nonrespon terhadap sugesti. 

Sugesti juga dapat ditilik melalui sumber sugesti, bisa bersifat privat atau publik. Pada umumnya dipahami bahwa sugesti bekerja pada level privat, yaitu satu individu mendapat atau menerima sugesti yang berasal baik dari orang lain atau dirinya sendiri. Di sisi lain, sugesti juga dapat diberikan dan diterima secara kolektif melalui sugesti massal. 

Komponen lain sugesti adalah cara ia dilakukan. Ada sugesti berisi pesan jelas, dan ada yang sengaja dibuat tidak jelas. Ada pula berupa sugesti verbal dan nonverbal. Sugesti nonverbal butuh dukungan tambahan fungsi kognisi, terutama penglihatan, guna memastikan pesan yang disampaikan diterima dengan baik dan meningkatkan kecenderungan respon terhadap sugesti. 

Sugesti, selain bisa berupa pesan verbal atau nonverbal, juga bisa dalam bentuk pesan visual, baik yang telah dirancang sedari awal atau yang dimunculkan secara spontan saat sugesti diberikan. 

Daya (power) sugesti juga berpengaruh terhadap penerima. Sugesti yang diberikan secara lembut akan dipersepsi dan dimaknai berbeda dibanding sugesti yang melibatkan emosi dan diberikan dengan tegas. Respon dari pemberian sugesti ini bisa berupa makna bahwa isi sugesti adalah "permintaan" atau "perintah" untuk dilaksanakan. 

Komponen yang berpengaruh besar dan mampu meningkatkan daya sugesti adalah durasi pemberian sugesti. Sugesti yang diberikan secara singkat dan hanya sekali berdampak beda dibanding sugesti diberikan untuk waktu lebih lama dan berulang. 

Keefektifan sugesti yang tampak dalam bentuk kecenderungan penerima sugesti melakukan pesan yang disampaikan juga ditentukan atau dipengaruhi oleh karakteristik dan otoritas pemberi sugesti. Semakin tinggi otoritas pemberi sugesti, baik riil atau hanya berdasar persepsi, semakin kuat pengaruh sugesti yang diberikan terhadap penerima. 

Tingkat keefektifan sugesti juga dipengaruhi oleh motivasi, kesiapan, dan kesediaan penerima sugesti untuk menerima dan menjalankan sugesti. Semakin tinggi motivasi kesiapan, dan kesediaan semakin mudah sugesti diterima dan bekerja atau dilaksanakan. 

Komponen lain dalam sugesti adalah waktu pemberian sugesti (timing), jenis pesan, perhatian, dan pemahaman penerima terhadap pesan yang diberikan. 

Sugesti juga dipengaruhi konten aktual dari pesan yang diberikan dan target yang hendak dicapai. Ada sugesti berisi pesan dengan tujuan memengaruhi proses sensori dan mengakibatkan terjadinya distorsi sensori (De Pascalis dan Daddia, 1985; Gheorhiu dan Reyher, 1982), dan ada yang bertujuan memengaruhi proses sesori-motor (Gheorghiu dan Walter, 1989), dan ada pula sugesti yang secara khusus dirancang untuk menarget proses memori (Gudjonsson, 1983; Loftus, 1979). 

Dan yang terakhir, dalam konteks klinis, komponen dan determinan penting sugesti diterima dan dijalankan adalah kondisi kesadaran penerima sugesti saat sugesti diberikan. Keefektifan penerimaan sugesti secara umum dapat dikatakan ditentukan oleh kedalamam rileksasi pikiran. Semakin dalam rileksasi pikiran, semakin baik. 

Meditasi, Mindfulness, Hipnosis, dan Hipnoterapi

Meditasi, Mindfulness, Hipnosis, dan Hipnoterapi

8 Januari 2022

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Artikel ini bertujuan menjelaskan kesamaan, perbedaan, dan manfaat meditasi, mindfulness, hipnosis dan hipnoterapi. 

 

Hipnosis dan meditasi masing-masing merujuk pada rangkaian luas praktik berasal dari tradisi panjang dalam sejarah dan budaya sangat berbeda. Mereka menggunakan dan melibatkan beragam aktivitas kognisi, afeksi, perilaku, dan bertujuan mencapai sejumlah besar hasil terapeutik dan spiritual, mulai dari analgesia hingga pencerahan (enlightenment).

Praktik meditasi dan mindfulness (perhatian penuh) jauh mendahului pemanfaatan hipnosis untuk tujuan terapeutik, dan dapat ditelusuri hingga lebih dari 2.000 tahun lalu, saat Buddha menjelaskan meditasi sebagai cara melepas kelekatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, dan perilaku atau kebiasaan yang sifatnya mengganggu (Lyn dkk, 2006).

Keragaman di antara tujuan dan teknik dalam domain-domain ini mengakibatkan tantangan serius dalam upaya menetapkan definisi inklusif dari praktik masing-masing.

Di luar keragaman aktivitas dalam praktik hipnosis dan meditasi, inkonsistensi interpretasi terhadap istilah utama, seperti hipnosis (Kirsch dkk, 2011) dan mindfulness (Williams dan Kabat-Zinn, 2011) – semakin membuat kabur konsep utama dan menghambat kemajuan penelitian dalam topik ini.

Meditasi biasanya dipahami lebih berdasar efek yang dihasilkannya. Ada yang mendefinisikan meditasi sebagai teknik relaksasi (Benson, 1975). Definisi ini berimplikasi pada kemiripan masalah yang ditemui dalam literatur tentang relaksasi (Davidson dan Schwartz, 1976), yang menyatakan bahwa teknik relaksasi adalah teknik yang menghasilkan efek-efek tertentu, seperti berkurangnya ketegangan otot, dan menurunnya keaktifan sistem saraf simpatik.

Tentunya, cara mendefinisikan meditasi berdasarkan efek yang dihasilkannya, menggunakan variabel dependen untuk mendefinisikan variabel independen, bukanlah cara yang tepat dan memuaskan, dan tidak mampu menghasilkan definisi akurat.

Masalah lain dalam mendefinisikan meditasi adalah terdapat begitu banyak jenis atau teknik meditasi. Ada teknik meditasi yang dilakukan dengan postur tubuh duduk dan menghasilkan kondisi tenang dan rileks (Wallace, Benson, dan Wilson, 1971). Kegiatan meditasi lainnya dilakukan dengan duduk diam dan menghasilkan kondisi gembira dan semangat (Das dan Gastaut, 1955; Croby dkk, 1978).

Sementara teknik lainnya, seperti tarian berputar Sufi, Tai Chi, dan Hatha yoga melibatkan gerakan fisik hingga taraf tertentu (Naranjo dan Ornstein, 1971; Hirai, 1974). Kadang, “meditasi bergerak” ini menghasilkan kondisi gembira, kadang kondisi rileks (Fischer, 1971; Davidson, 1976). Bergantung pada tipe meditasi yang dilakukan, tubuh dapat aktif dan bergerak, atau relatif diam dan pasif.

Walau terdapat banyak teknik, bila dicermati, sejatinya hanya terdapat tiga kelompok besar strategi dan regulasi perhatian yang digunakan dalam meditasi: fokus pada objek spesifik di dalam medan perhatian (meditasi konsentrasi – samatha), fokus pada medan perhatian (meditasi perhatian penuh – vipassana / mindfulness), dan bergeser antara keduanya. Perhatian dalam konteks ini mengacu secara luas pada alokasi sumber daya pemrosesan kognitif.

Pola fokus seperti ini sejalan dengan mekanisme otak dalam memerhati, seperti yang dijelaskan Pribram (1971), serupa dengan kamera dan bekerja dengan dua cara. Pertama, fokus kamera seperti pada lensa sudut lebar – kesadaran luas dan menyapu semua medan perhatian (meditasi mindfulness). Kedua, tipe perhatian serupa dengan lensa tele (zoom), secara spesifik fokus hanya pada segmen terbatas di medan perhatian (meditasi konsentrasi).

Mengacu pada perspektif Buddhis, para ilmuwan secara umum mengelompokkan praktik meditasi ke dalam dua kategori: meditasi konsentrasi /samatha dan meditasi pengamatan terbuka / vipassana (Lutz dkk, 2008).

Meditasi konsentrasi (samatha) atau perhatian terpusat melibatkan konsentrasi pada satu objek spesifik di dalam medan perhatian, seperti napas, mantra atau kalimat doa yang diulang. Sementara meditasi pengamatan terbuka (vipassana) melibatkan perluasan perhatian dengan mengikutsertakan seluruh bidang perhatian dari satu momen pengalaman ke momen pengalaman berikutnya.

Walau pembagian meditasi secara konseptual menjadi dua jenis cukup bermanfaat, banyak praktik meditasi tidak secara tegas masuk ke dalam skema keduanya, seperti praktik meditasi cinta kasih dan visualisasi (Lutz, Dunne, dan Davidson, 2006).

Menggunakan mekanisme perhatian sebagai dasar untuk menetapkan definisi, dapat dinyatakan bahwa meditasi merujuk pada sekumpulan teknik dengan kesamaan berupa upaya sadar dalam mengarahkan dan memusatkan perhatian secara nonanalitikal, dan sebuah upaya sadar untuk tidak larut dalam bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul.

 

Meditasi Buddhis dan Mindfulness 

Ajaran Buddha tentang meditasi perhatian penuh (mindfulness), singkat dan jelas. Ajaran ini tertulis dalam Ānāpānasati sutta dan Satipatthana sutta. Keduanya menjelaskan metode sistematis untuk mengolah dan mengembangkan kesadaran, dengan secara khusus memerhatikan napas masuk dan keluar. Dalam Ānāpānasati sutta, Buddha menyatakan:

[1] Menarik napas panjang, ia menyadari, "Aku sedang menarik napas panjang." Mengembuskan napas panjang, ia menyadari, "Aku sedang mengembuskan napas panjang."

[2] Menarik napas pendek, ia menyadari, "Aku sedang menarik napas pendek." Mengembuskan napas pendek, ia menyadari, "Aku sedang mengembuskan napas pendek."

[3] Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan menarik napas dengan mengalami seluruh tubuh (atau napas)." Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami seluruh tubuh (atau napas)."

[4] Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan menarik napas dengan menenangkan bentukan jasmani." Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan mengembuskan napas dengan menenangkan bentukan jasmani."

(Buddhadasa, 1988, p. 147)

 

Uraian ini menunjukkan bahwa Buddha memandang napas baik sebagai (1) objek kesadaran (“[1] Menarik napas panjang, ia menyadari, "Aku sedang menarik napas panjang.") dan (2) sarana untuk mengarahkan perhatian (“[3] ] Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan menarik napas dengan mengalami seluruh tubuh (atau napas).").

Praktisi meditasi, dengan demikian, tidak hanya secara berkesinambungan memerhatikan napas, juga memanfaatkan proses ini untuk mengembangkan kesadaran pada berbagai aspek diri sebagai bagian dari latihan mental.

Uraian berikutnya menggambarkan kesadaran perhatian penuh terhadap perasaan dan persepsi ([5] hingga [8]), pikiran dan kehendak ([9] hingga [12]), dan ketidakkekalan fenomena ([13] hingga [16]).  

[5] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengalami sukacita.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami sukacita.”

 [6] Ia berlatih sebagai berikut, “‘Aku akan menarik napas dengan mengalami kenikmatan.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami kenikmatan.”

 [7] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengalami bentukan batin.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami bentukan batin.”

 [8] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan menenangkan bentukan batin.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan menenangkan bentukan batin.”

 [9] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengalami pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami pikiran.’”

 [10] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan menggembirakan pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan menggembirakan pikiran.”

 [11] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengonsentrasikan pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengonsentrasikan pikiran.”

 [12] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan membebaskan pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan membebaskan pikiran.”

 [13] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan merenungkan ketidakkekalan.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan ketidakkekalan.”

 [14] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan merenungkan peluruhan.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan peluruhan.”

 [15] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan merenungkan lenyapnya.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan lenyapnya.”

 [16] Ia berlatih sebagai berikut, ”Aku akan menarik napas dengan merenungkan lepasnya.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan lepasnya.”

 

Berdasar mekanisme perhatian yang terlibat dalam meditasi, secara ringkas meditasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan membawa pikiran dengan penuh kesadaran pada satu objek tertentu (Paññāvaro, 2016). Sementara menurut Wise (2009) meditasi adalah kondisi kesadaran dengan pola gelombang otak sangat spesifik. Kondisi meditatif ini dicapai dengan teknik sesuai.

Dalam meditasi, perhatian dapat secara aktif diarahkan pada satu objek konsentrasi dengan mengabaikan objek lainnya (Anand, Chinna, dan Singh, 1961). Perhatian juga dapat fokus pada satu objek, tetapi saat objek lain, bentuk-bentuk pikiran, atau perasaan muncul, mereka dapat dikenali sejenak, kemudian perhatian diarahkan kembali pada objek semula, seperti dalam meditasi vipassana dan transendental. Perhatian juga dapat tidak difokuskan eksklusif pada objek tertentu, seperti dalam Zen Shikan Taza (Kasamatsu dan Hirai, 1966; Krishnamurti, 1979).

Mindfulness adalah sebuah kata, digunakan dalam banyak cara. Definisinya bergantung pada siapa yang menggunakannya dan dalam konteks apa. Mindfulness adalah terjemahan dari bahasa Pali sati, Sansekerta smrti, Mandarin nian, dan Tibet dran pa, bermakna kesadaran (awareness), perhatian (attention), dan pengingatan (remembering) (Germer, 2004).  

Mindfulness adalah satu bentuk meditasi Buddhis yang berakar pada tradisi Theravada di Asia Tenggara. Walau istilah mindfulness telah banyak digunakan, hingga saat ini belum ada konsensus definisinya di antara para peneliti karena keragaman prosedural dan kompleksitas fenomenologis terkait praktik mindfulness (Lifshitz et al., 2012; Otani, 2016; Pekala & Creegan, 2020).  

Konsep mindfulness (perhatian penuh) mulai populer di Barat sejak Jon Kabat-Zinn (1991, 1994) mengembangkan teknik reduksi stres berbasis mindfulness (mindfulness-based stress reduction).  

Nyanaponika (1972) mendefinisikan mindful sebagai kesadaran jernih dan tunggal akan apa yang terjadi pada dan di dalam diri pada momen-momen persepsi berkelanjutan. 

Kabat-Zinn (1990/2005) mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang dilakukan secara sadar, tanpa menilai atau menghakimi, terhadap pengalaman dari satu momen ke momen berikutnya.

Mindful menurut Paññavaro (2016) adalah pengamatan atas pengalaman dan bagaimana pengalaman ini berlangsung tanpa memberi makna, menghakimi, menilai, memberi nama atau label, melibatkan emosi, atau berusaha dengan sesuatu cara mengubah pengalaman ini. 

Ada dua tipe mindfulness: (1) samatha, menggunakan perhatian terfokus pada objek spesifik dan (2) vipassana yang menekankan pengamatan terbuka terhadap persepsi yang berlangsung. 

Dalam perhatian tidak menghakimi, netral, apa adanya, mindfulness mencakup penerimaan, kesabaran, dan toleransi terhadap timbul tenggelam bentuk-bentuk pikiran, perasaan, sensasi yang muncul di dalam kesadaran, atau memerhatikan konten kesadaran, sebagaimana dalam meditasi vipassana atau meditasi pandangan terang (Mellinger dan Lynn, 2012).

Meditator, dalam melakukan praktik meditasi mindfulness, memfokuskan perhatiannya pada objek yang telah ditentukan sebelumnya, misal napas, gerakan perut, suara tertentu, gambaran mental di pikiran, sambil tetap memerhatikan stimuli eksternal (penglihatan, suara, bau, sentuhan, dll) dan internal (misal bentuk pikiran yang muncul, perasaan, dll) rangsangan pada saat bersamaan. 

Inti praktik mindfulness bukan sekadar memusatkan perhatian pada napas, seperti yang diyakini orang awam, melainkan penerimaan dan pelepasan berkelanjutan dari berbagai fenomena seperti suara-suara dari lingkungan, suara atau dialog internal, bentuk-bentuk pikiran atau emosi, dan sensasi fisik.

 

Hipnosis dan Hipnoterapi

Dalam konteks hipnosis dan hipnoterapi, terdapat dua pikiran: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Fungsi pikiran sadar mengidentifikasi informasi yang masuk melalui enam indera, membandingkan informasi ini dengan data di pikiran bawah sadar, melakukan analisis, dan membuat keputusan. 

Fungsi pikiran bawah sadar adalah tempat menyimpan data atau memori jangka panjang, menyimpan hal-hal yang tidak tertangkap oleh pikiran sadar, tempat tiga jenis kebiasaan, emosi, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi, keyakinan (belief), dan nilai hidup (value). Pengaruh dan kontribusi pikiran sadar pada diri individu berkisar antara 1% hingga 5%, sementara pikiran bawah sadar antara 95% hingga 99% (Gunawan, 2012). 

Pikiran sadar mampu memproses hingga 40 bit informasi tiap detik (Zimmermann (1989). Sementara menurut Trincker (dalam Norrentranders, 1998:126) pikiran bawah sadar mampu memproses hingga 40.000.000 bit informasi tiap detik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbandingan kapasitas pemrosesan data antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar adalah 40 bit/detik berbanding 40.000.000 bit/detik atau 1 berbanding 1.000.000. 

Seturut dengan keberadaan dua pikiran, terdapat dua logika pikiran: logika pikiran sadar (conscious logic) dan logika pikiran bawah sadar (trance logic). Kedua logika pikiran ini bekerja dengan keunikan dan hukum berbeda. 

Hipnosis adalah kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar fokus dan rileks, berakibat pikiran menjadi sangat reseptif menerima pesan-pesan mental yang disampaikan, baik berupa pesan verbal dan atau visual. Kondisi pikiran sadar rileks ini bisa diikuti, namun tidak selalu, dengan kondisi tubuh fisik rileks (Gunawan, 2018). 

Kondisi hipnosis bisa dicapai atau terjadi melalui beberapa cara: swahipnosis, heterohipnosis, autohipnosis, dan parahipnosis. Swahipnosis adalah hipnosis yang dilakukan seseorang pada dirinya sendiri. Heterohipnosis adalah hipnosis yang dilakukan seseorang pada orang lain, terutama dalam konteks klinis. Autohipnosis adalah hipnosis yang terjadi dengan sendirinya saat individu berada dalam situasi atau kondisi tertentu. Dan parahipnosis adalah hipnosis akibat obat. 

Berbeda dengan pehamahan awam, kondisi hipnosis bukan tidur atau kondisi tak sadar. Dalam kondisi hipnosis, individu tetap sadar sepenuhnya dan memiliki kendali penuh atas dirinya.

Dalam kondisi hipnosis individu melepas kendali atas fungsi kritis pikirannya, lepas dari fungsi pengawasan kekinian pengalaman, dan teregresi ke proses berpikir primer di mana terdapat kebebasan dan keleluasaan pikiran dalam memunculkan berbagai bentuk gambaran mental, daya khayal, menerima segala sesuatu yang sebelumnya tidak rasional menjadi rasional, dan individu mengalami fenomena trance logic (Orne, 1959).

Terdapat banyak lapis kesadaran atau jenjang kedalaman, kondisi hipnosis. Mulai dari kedalaman dangkal (light trace), kedalaman menengah (medium trance), kedalaman dalam (deep trance), hingga kedalaman ekstrim (extreme depth). Setiap kedalaman bercirikan fenomena spesifik baik di aspek mental maupun fisik.

Terdapat lebih dari dua puluh skala kedalaman hipnosis. Skala paling awal adalah Magnetic Scale (Liébeault, 1866, 1889). Sementara skala yang populer digunakan sebagai acuan adalah Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A and B, Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Form C, dan Stanford Profile Scales of Hypnotic Susceptibility (Weitzenhoffer dan Hilgard, 1959, 1962, 1963, 1967), dan Harvard Group Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A dan B (Shor dan Orne, 1962). Di tahun 2010, di Indonesia telah disusun AWG Hypnotic Depth Scale yang digunakan sebagai acuan dalam proses hipnoterapi oleh hipnoterapis klinis anggota Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI).

Hipnosis per se tidak terapeutik, karena ia hanya kondisi kesadaran. Manfaat yang bisa dirasakan bila seseorang mengalami kondisi hipnosis adalah terjadinya relaksasi pikiran sadar dan tubuh fisik. Ini menghasilkan respon relaksasi yang berdampak baik untuk ketenangan dan kesehatan. Namun, bila tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan dan kesejahteraan mental pada tataran lebih luas, hipnosis perlu disandingkan dengan seperangkat teknik atau strategi terapi. Gabungan antara kondisi hipnosis dan teknik terapi dinamakan hipnoterapi.

Secara ringkas, hipnoterapi adalah terapi, bisa menggunakan teknik apa saja, dilakukan dalam kondisi hipnosis. Terapi bisa dilakukan baik oleh diri sendiri, atau oleh terapis pada klien dengan tujuan mengatasi masalah dan meningkatkan kesejahteraan klien.

Terdapat tiga mazhab hipnoterapi. Pertama, mazhab pantai timur Amerika yang hanya mengutamakan dan menggunakan sugesti sebagai sarana untuk mencapai perubahan. Kedua, mazhab pantai barat Amerika, mengutamakan hipnoanalisis bertujuan mencari, menemukan, dan memroses tuntas akar masalah. Dan ketiga, mazhab eklektik-integratif, dikembangkan oleh AWGI, bercirikan pemanfaatan, integrasi teknik serta pendekatan terapi terkini dan terbaik, bertujuan mencari, menemukan, dan memroses tuntas akar masalah dalam upaya membantu individu mengalami perubahan positif dengan aman, efektif, cepat, mudah, menyenangkan, dengan hasil terapi bertahan lama.

Proses perubahan transformatif dan dampak terapeutik positif terjadi saat terapis berhasil membantu klien mencapai pengalaman emosional korektif (Alexander dan French, 1946) melalui rekonstruksi memori patologis (Watkins, 1978).

(Bangun) memori hanya bisa direkonstruksi bila ia telah lentur setelah beberapa prasyarat terpenuhi, terutama setelah terjadi peluruhan emosi dan pemanfaatan trance logic. Tanpanya, bangun memori akan tetap kokoh, rigid, dan tidak bisa direkonstruksi untuk kebaikan dan kesembuhan klien (Gunawan, 2018).

Upaya pemulihan kesejahteraan mental dan emosi klien pascakejadian traumatik dilakukan dengan menggunakan teknik khusus, di kedalaman hipnosis dalam (profound somnambulism) tanpa mengganggu integritas memori (traumatik).

Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang landasan teori dan cara kerja memori agar bisa melakukan rekayasa dan rekonstruksi memori patologis secara aman dan tepat sasaran. Tanpa pemahaman benar hipnoterapis bisa salah dalam melakukan atau justru menolak melakukan rekonstruksi memori.

 

Kesadaran

Kesadaran (consciousness) memiliki lima komponen: kondisi kesadaran (state of consciousness), isi kesadaran (content of consciousness), kesadaran (awareness), energi, dan struktur.

Kesadaran (consciousness) dibedakan menjadi dua kelompok: kesadaran normal (baseline state of consciousness) dan kesadaran berbeda (discrete state of consciousness). Kesadaran normal adalah kesadaran yang dialami individu dalam kondisi bangun, sadar normal. Sementara kesadaran berbeda adalah semua kondisi kesadaran di luar kelompok kesadaran normal. Kesadaran berbeda sering disebut sebagai altered state of consciousness (ASC). Kondisi meditatif dan kondisi hipnosis adalah kondisi kesadaran berbeda.

Menurut Tart (1975) kondisi kesadaran distabilkan oleh empat proses: loading stabilization (stabilisasi beban), negative feedback stabilization (stabilisasi umpan balik negatif), positive feedback stabilization (stabilisasi umpan balik positif), dan limiting stabilization (stabilisasi penghambat). 

Isi kesadaran (content of consciousness) adalah muatan yang keluar dari pikiran bawah sadar dan atau nirsadar, naik ke permukaan dan masuk ke wilayah pikiran sadar sehingga dikenali dan diketahui. Setiap kondisi kesadaran merupakan jalur bagi pikiran bawah sadar dan atau nirsadar untuk mengeluarkan muatannya sesuai dengan kondisi psikis, kebutuhan, kesiapan, dan izin dari sistem ego.

Kesadaran (awareness) adalah kemampuan untuk mengetahui atau mengenali atau memikirkan bahwa sesuatu sedang terjadi. Sedangkan kesadaran diri (self awareness) adalah kesadaran akan kondisi sadar. Tingkat kesadaran diri yang tertinggi adalah saat terjadinya perpisahan antara kesadaran dan konten.

Kesadaran (awareness) merujuk pada pengetahuan dasar bahwa sesuatu sedang terjadi, mengamati, atau merasakan. Kesadaran (consciousness) umumnya merujuk pada awareness dalam hal yang jauh lebih rumit. Consciousness adalah awareness yang dipengaruhi oleh struktur pikiran.

Energi dalam hal ini merujuk pada perhatian atau kesadaran (awareness) dalam konteks bahwa suatu struktur yang sebelumnya tidak berpengaruh terhadap kesadaran dapat diaktifkan bila dibutuhkan.

Sementara yang dimaksud dengan struktur, lebih tepatnya struktur psikologis, adalah organisasi yang relatif stabil dari komponen yang menjalankan satu atau lebih fungsi psikologis tertentu. Beberapa struktur membutuhkan energi dalam jumlah tertentu agar dapat bekerja optimal, beroperasi, dihambat kerjanya, diubah, dan atau didestrukturisasi (Tart, 2001).

Bila ditilik dari kesadaran individu saat melakukan meditasi dan dalam kondisi hipnosis, terdapat kemiripan dan perbedaan. Walau individu yang melakukan meditasi maupun yang sedang mengalami kondisi hipnosis tampak sama tenang dan pasif, aktivitas kesadaran mereka sangat berbeda. 

Terdapat dua aspek kesadaran dalam konteks mindfulness: perhatian (attention) dan kesadaran (awareness). Perhatian (attention) adalah proses pemusatan kesadaran, memberikan kepekaan yang tinggi pada rentang pengalaman terbatas (Westen, 1999). Kesadaran (awareness) berfungsi sebagai radar bagi kesadaran (consciousness), yang secara kontinu memonitor lingkungan di luar dan di dalam diri individu (Brown & Ryan, 2003). Kesadaran dan perhatian saling terhubung. Perhatian terus-menerus menarik "sosok" keluar dari "tanah" kesadaran, menahan mereka secara fokus untuk jangka waktu yang berbeda-beda. 

Hal ini memungkinkan individu untuk dapat menyadari suatu stimulus tanpa harus meletakkan stimulus tersebut sebagai pusat perhatian. Misalnya, ketika seseorang sedang berbincang-bincang, namun tetap menyadari apa yang terjadi di lingkungannya. Sementara attention diartikan sebagai suatu proses memfokuskan kesadaran yang disadari (focusing conscious awareness) dengan cara meningkatkan kepekaan terhadap lingkup pengalaman-pengalaman yang terbatas. 

Dari dua tipe meditasi, samatha, mengembangkan kondisi tercerap, adalah praktik mindfulness yang memiliki kemiripan dengan kondisi hipnosis. Samatha, bila dilatih secara konsisten, menuntun pada kondisi konsentrasi terpusat yang dikenal sebagai samadhi atau tercerap sepenuhnya pada objek. 

Dalam meditasi samatha, pikiran sadar meditator tercerap, fokus, dan terkunci pada objek seperti napas. Sementara dalam hipnosis, pikiran sadar individu fokus pada suara, tuntunan terapis, sensasi fisik, dan pengalaman yang diungkap pikiran bawah sadar.  

Walau terdapat kesamaan, mindfulness dan hipnosis berbeda dalam mekanisme kognitif dan neurofisiologis tertentu. Hipnosis dapat menimbulkan atau meningkatkan disosiasi (mis: amnesia, depersonalisasi, kehilangan sensorik, dll.), bersama dengan pundarnya orientasi realitas umum (generalized reality orientation / GRO) (Shor, 1959). 

GRO adalah kerangka referensi internal yang stabil, berfungsi mengarahkan seseorang untuk dapat bernavigasi dengan baik dan terarah, dalam ruang dan waktu, bahkan saat ia tidak secara khusus dan saksama memerhatikan keadaan sekelilingnya (Shor,1959). 

Sementara menurut Bruner (1973) GRO adalah skema kognitif yang bekerja atau aktif di latar belakang kesadaran yang memungkinkan seseorang untuk pergi “melampaui informasi yang diperoleh” pada setiap momen untuk mempertahankan orientasinya terhadap realita. 

GRO adalah fungsi pikiran yang mengawasi keadaan sekeliling. GRO tidak bekerja saat individu tidur. Dalam hipnosis, tingkat keaktifan GRO bergantung pada kedalaman hipnosis yang berhasil dicapai. Semakin dalam kondisi hipnosis, fungsi GRO semakin pudar. 

Dalam praktik mindfulness, khususnya vipassana, praktisi tetap sadar akan pengalaman eksternal dan internal. Bentuk-bentuk pikiran yang mengganggu dan sensasi sakit dikenali namun tidak diberi perhatian, bukan "terputus" seperti dalam disosiasi hipnotik. Perbedaan ini telah terkonfirmasi secara empiris (Lau et al., 2006). 

Ciri-ciri kognitif dan fenomenologis yang unik untuk mindfulness dan hipnosis mengindikasikan mekanisme neurofisiologis spesifik yang mendasarinya. Keduanya sangat berbeda dalam konektivitas fungsional di otak. 

Dalam hipnosis, fungsi pemantauan terputus dari fungsi eksekutif (Egner, Jamieson, & Gruzelier, 2005). Proses ini yang diperkirakan mengakibatkan terjadinya penghentian sementara dari fungsi penilai kritis terhadap realita, dalam hal ini GRO, dan memungkinkan sugesti hipnotik dan rekonstruksi memori dapat terjadi. 

Pada kondisi hipnosis dalam, walau fungsi GRO dan analitis logis menurun atau sangat berkurang, individu tetap dalam kondisi sadar penuh sehingga masih dapat mengendalikan diri sepenuhnya. Ia dapat memutuskan keluar dari kondisi hipnosis seturut keinginannya, kapan pun.  

Dalam mindfulness (vipassana), yang terjadi adalah pola sebaliknya. Fungsi pemantauan dan fungsi eksekutif tetap aktif dan terhubung satu dengan lainnya, yang mengakibatkan kesadaran praktisinya meningkat, tidak mengalami penurunan seperti dalam kondisi hipnosis (Lynn, Malaktaris, Maxwell, Mellinger, & van der Kloet, 2012). 

Mencermati temuan ini, beberapa ilmuwan neurosains menegaskan bahwa pernyataan Buddha tentang "tercerahkan sepenuhnya" pada saat pencerahan bukan sekadar metafora (Britton, Lindahl, Cahn, Davis, & Goldman, 2014). 

Keterhubungan antara fungsi pemantauan, fungsi eksekutif, dan konektivitas otak yang mengalami peningkatan mengatur emosi dan perenungan mendalam yang dilakukan praktisinya (Brewer et al., 2011). 

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa mindfulness adalah serangkaian prosedur kognitif yang beragam memfasilitasi perhatian terpusat (samatha) atau pengawasan terbuka tanpa menghakimi (vipassana). Samatha menyerupai hipnosis dengan peningkatan dalam konsentrasi dan pencerapan. Sementara vipassana berbeda dengan hipnosis karena ia meningkatkan, tidak meredupkan kesadaran. 

  

Terapi Berbasis Mindfulness 

Mindfulness dapat digunakan baik secara mandiri atau diintegrasikan ke dalam teknik atau pendekatan terapi untuk tujuan meningkatkan kesejahteraan mental dan emosi. 

Saat ini telah dikembangkan pendekatan terapeutik berbasis mindfulness seperti mindfulness based stress reduction (MBSR; Kabat-Zinn, 1990) dan mindfulness-based cognitive therapy (MBCT; Segal, Williams, dan Teasdale, 2002) merujuk pada tradisi mindfulness Buddhis sebagai sumber utama dan inspirasi.

Keefektifan dan manfaat mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu. Response set adalah pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan.

Mindfulness dapat memutus respon perilaku otomatis yang selama ini menguasai diri seseorang, baik disadari atau tidak, dan membuat individu menjadi sadar akan pola perilaku maladaptif yang ia alami atau lakukan. 

Pelatihan mindfulness pada klien akan memampukan klien menyadari dan menangkap pola perilaku yang relatif otomatis dan reaktif menjadi respon yang lebih terkendali (Teasdale, Segal, dan Williams, 2003).

Individu terlatih dalam mindfulness mampu menyadari keberadaan pengalaman atau memori, baik bermuatan emosi negatif maupun emosi positif intens, melihat apa adanya pengalaman ini, tanpa menghakimi, berupaya mengubah, memberi makna, atau masuk ke dalamnya. Melalui pengalaman meditatif, individu tidak hanya mampu menyadari keberadaan fenomena, ia juga menyadari bahwa fenomena-fenomena ini bersifat tidak kekal.

Saat fenomena berupa memori, bentuk pikiran, atau perasaan muncul ke permukaan, sejalan dengan hukum ketidakkekalan, setelah bertahan beberapa saat mereka akan padam dengan sendirinya. Muncul, bertahan, dan padamnya fenomena ini terjadi tidak hanya sekali tapi berulang kali. Setiap kali individu berhasil (hanya) menyadari keberadaan fenomena ini, saat mereka muncul, bertahan sesaat, dan padam, tanpa ia bereaksi atau larut ke dalamnya, setiap kali ini pula terjadi peluruhan emosi dan daya cengkeram fenomena terhadap diri individu, hingga akhirnya response set menjadi nonaktif, dan individu terbebas dari masalah.  

Dengan mindfulness, kekuatan perhatian (sati), individu mampu senantiasa membawa batinnya ke saat ini, dan memperlambat arus informasi yang masuk melalui enam indera, dan mendeteksi setiap pengalaman yang berhubungan dengan enam indera, mengetahui mana yang baik / buruk, bermanfaat / merugikan dan menggunakan kebijaksanaan untuk menentukan respon.

Hypnotic Age Progression: Jenis dan Manfaat

Hypnotic Age Progression: Jenis dan Manfaat

28 September 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Hypnotic age progression, biasa disingkat age progression, adalah teknik hipnoterapi dilakukan dengan menuntun klien ke masa depan, menyusuri garis waktu kehidupannya, untuk tujuan terapeutik spesifik (Gunawan, 2018). Berbeda dengan hypnotic age regression, age progression jarang dibicarakan atau dibahas di literatur jurnal.

Age progression bervariasi dalam jenis sugesti yang diberikan, dan dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan di berbagai tingkatan, memfasilitasi tujuan terapi dan memperdalam proses penyembuhan.

Dalam age progression, seturut sugesti dan proses yang terjadi, terdapat spektrum, diawali dari sangat tidak terstruktur, relatif tidak terstruktur dan kadang terjadi secara tidak langsung dan spontan, terstruktur moderat, hingga sangat terstruktur (Phillips dan Frederick, 1995).

Banyak istilah digunakan dalam menamakan proses membawa klien ke masa depan untuk tujuan terapeutik: age progression (progresi usia), time projection (proyeksi waktu), pseudo-orientation in time into the future (orientasi semu waktu ke masa depan), end result imagery (gambaran hasil akhir). Penamaaan ini digunakan secara bebas dan merujuk pada proses terapi berorientasi masa depan. Namun sesungguhnya, mereka tidaklah sama (Hammond 1990e, p. 515).

 

Hypnotic Age Progression Terstruktur

Age progression untuk tujuan terapi telah digunakan Hartland (1965, 1971), Gardner (1976), Diamond (1981) dan Stanton (1989) dengan pemberian sugesti berorientasi masa depan pada klien bertujuan menguatkan ego dan sering melibatkan capaian keterampilan atau aktivitas tertentu di level pikiran bawah sadar.

Salah satu teknik age progression adalah mental rehearsal atau gladi resik mental. Dalam teknik ini, terapis mengarahkan klien, secara mental, melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan masa depan.

Zilbergeld dan Lazarus (1987) menamakannya sebagai process imagery karena ia meilibatkan proses pencapaian goal melalui visualisasi dan pelatihan langkah demi langkah secara mental.

Gambar mental terstruktur ini sangat berguna dalam upaya meningkatkan kinerja atlit (Unestahl, 1983), artis yang akan tampil (McNeal, 1986), dan individu yang akan menjalani ujian (Zilbergeld dan Lazarus, 1987).

Membayangkan hasil akhir, sebagai cara untuk memacu semangat mencapai tujuan adalah teknik populer dalam dunia pengembangan diri dan motivasi.

End result imagery (gambaran hasil akhir), goal imagery (gambaran tujuan), dan success imagery (gambaran sukses) adalah proses mental dilakukan seseorang dengan membayangkan dirinya di masa depan telah berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Proses ini dilakukan tanpa harus dalam kondisi trance (Hammond, 1990e).

Sementara menurut Gunawan (2019) upaya perubahan atau pemrograman pikiran bawah sadar menggunakan gambaran mental, guna mencapai tujuan spesifik, lebih kuat dan efektif menggunakan sensualisasi, melibatkan segenap indera, tidak hanya indera visual, dan dilakukan dalam kondisi hipnosis atau trance.

 

Hypnotic Age Progression Tidak Terstruktur

Terdapat beberapa teknik terkenal dalam kelompok age progression tidak terstruktur. Pertama adalah model Erickson yang dinamakan pseudo-orientation in time (orientasi semu waktu).

Teknik ini dilakukan dengan meminta subjek penelitian memandang dan fokus pada bola kristal yang diletakkan di depan dan di atas bola mata, hingga subjek masuk kondisi trance. Selanjutnya Erickson menuntun subjek maju ke masa depan guna memperoleh pemahaman akan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan terapeutik (Havens, 1986, p. 258).

Dalam kondisi trance, Erickson meminta subjeknya fokus memandang bola-bola kristal lainnya, di dalam pikirannya, dan di dalam setiap bola kristal ini subjek melihat langkah atau tindakan yang ia lakukan untuk mencapai tujuan.

Erickson mengakhiri sesi terapi dengan melakukan amnesia hipnotik pada subjek dengan tujuan mencegah pikiran sadar subjek mengganggu proses mencapai tujuan yang telah ditanamkan di pikiran bawah sadar.

Menurut Erickson mayoritas orang yang tidak berada dalam kondisi trance (hipnosis) tidak dapat menghasilkan proyeksi akurat hal-hal yang perlu mereka lakukan untuk mencapai tujuan atau tahu tujuan yang dapat mereka capai.

Ia percaya pikiran sadar dapat menghasikan fantasi yang tidak realistik, melakukan evaluasi yang tidak tepat, dan tidak mendukung upaya mencapai tujuan.

Teknik serupa digunakan de Shazer (1978) dalam membantu dua klien yang mengalami disfungsi seksual dengan hasil sangat baik. Havens (1986) juga menggunakan teknik serupa pada klien wanita depresi, menutup diri, dan berhasil membantu kliennya berubah menjadi tenang, merasa aman, asertif, terbuka, dan mudah bergaul.

Solution-Focused Brief Therapy (SFBT), biasa disingkat Solution-Focused Therapy (SFT), dikembangkan oleh Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg, menekankan pada proyeksi diri ke masa depan dan miracle question (de Shazer, 1985; O’Hanlon dan Wiener-Davis, 1989) berhubungan dengan konsep Erikson tentang orientasi semu dalam waktu (pseudo-orientation in time).  

Teknik kedua dalam kelompok age progression tidak terstruktur adalah model Dolan dan Torem yang dinamakan Back from The Future atau kembali dari masa depan.

Dalam teknik ini, kilen dituntun jumpa dirinya di masa depan yang sehat, berusia lebih tua, dan diharapkan lebih bijaksana. Klien bertanya pada diri masa depan ini pertanyaan terkait kondisi atau masalah yang hendak diatasi, dan diharapkan diri masa depan memberi nasihat, jawaban, saran atau masukan yang perlu klien lakukan. Komunikasi antara klien dan diri masa depannya dilakukan dengan surat (Dolan, 1991).

Torem (1992) mengembangkan age progression versinya sendiri yang sangat terstruktur. Proses ini didahului tahap persiapan yang dilakukan secara matang, membutuhkan kondisi trance, dan fasilitasi terjadinya vivifikasi untuk hasil terapeutik optimal.

Proses ini dikuatkan dengan sugesti pemberdayaan ego yang mengutamakan pikiran dan perasaan positif, dan rasa bangga berhasil mencapai solusi dari masalah. Juga dikuatkan lebih lanjut dengan sugesti sehat, kuat, prestasi, rasa mampu dan kreatifitas dalam menghadapi masalah dan tekanan hidup (Hartland, 1965, 1971; Torem, 1990).

Teknik ketiga dalam kelompok age progression tidak terstruktur adalah model Napier, The Future Self - diri masa depan. Napier (1990) memandang diri sebagai sistem kompleks meliputi bagian-bagian diri yang memegang sumber daya, termasuk di dalamnya adalah bagian diri sangat cakap dan bermanfaat yang berasal dari masa depan.

Napier dipengaruhi oleh pemikiran Erickson. Ia menggunakan skrip proyektif / evokatif yag memungkinkan klien merespon menggunakan materi mereka sendiri.

Satu hal penting perlu diperhatikan bila menggunakan skrip Napier yaitu ia mengaktifkan inner child. Aktivasi inner child pada klien yang mengalami kondisi disosiatif dapat mengakibatkan aktifnya bagian diri yang mengalami trauma dan tidak mampu turut serta dalam proses terapi.

Napier (1990) menekankan esensi dan kualitas impresi yang terjadi selama proses terapi adalah jauh lebih penting daripada penekanan berlebih pada keutuhan dan akurasi gambaran yang muncul saat trance.

Aplikasi age progression selain bersifat terapeutik, juga dapat digunakan untuk tujuan prognosis klinis. Apabila klien tidak dapat memunculkan proyeksi atau melihat dirinya di masa depan telah berhasil mengatasi masalah, ini adalah indikasi kuat keberadaan masalah lain, besar kemungkinan bersifat lebih serius, perlu penanganan segera, cermat dan hati-hati (Phillips, 1992; Rossi dan Cheek, 1988; Gunawan, 2005).

Bila klien saat dituntun mengalami age progression positif, dan yang terjadi justru sebaliknya, age progression negatif, di mana klien melihat atau mengalami dirinya di masa depan dalam kondisi tidak baik, ini adalah pesan penting dari pikiran bawah sadar klien bahwa terdapat sesuatu hal lain yang menghalangi klien.

  

Hypnotic Age Progression : Perspektif Ego Personality 

Dari perspektif teori ego personality (EP), sistem ego dikatakan dalam kondisi integratif bila masing-masing komponen ego bekerja sama secara harmonis dan saling berbagi informasi dan kesadaran. Para EP ini, secara agregat, memegang totalitas emosi dan impuls kepribadian individu.

Saat seseorang sedang bermasalah, sejatinya terdapat satu EP spesifik yang bermasalah dan aktif mengendalikan dan menjalankan diri klien. EP ini menjadi dominan dan tidak berbagi kesempatan dengan EP lain untuk menjalankan dan menjadi diri klien.

Semakin berat atau intens suatu masalah, semakin aktif dan dominan EP bermasalah. EP lainnya berada di latar belakang, tidak aktif di permukaan. Dengan demikian, individu mengalami kendala melihat kemungkinan resolusi masalah di masa depan.

Age progression positif dilakukan dengan tujuan mengaktifkan EP lain yang lebih positif, tidak bermasalah, dan memegang sumber daya diri yang lebih kuat. Dengan bantuan EP ini, individu dapat melihat dirinya di masa depan berhasil mengatasi masalahnya.

Mengingat sifat dan cara kerja sistem ego, pengalaman resolusi masalah yang ditampilkan dan dialami klien, berkat aktivasi EP positif, juga dapat dilketahui dan dirasakan EP bermasalah.

Ini adalah bentuk edukasi tidak langsung pada EP bermasalah bahwa sesungguhnya terdapat sumber daya dalam diri yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah.

Namun, bila EP bermasalah ini sangat kuat, ia tidak akan berbagi kesempatan dan menghambat EP lain untuk turut serta dalam proses pemulihan klien. Klien tidak dapat memunculkan gambaran mental resolusi masalah telah terjadi di masa depan, atau bahkan terjadi age progression negatif.

Dampak terapeutik pemberdayaan diri berbasis age progression terletak pada kemampuan teknik ini memberi rasa aman internal, dengan memungkinkan klien bersentuhan dengan sumber daya internalnya dengan cepat.

Akar Masalah Berasal dari 'Roh' Ibu

Akar Masalah Berasal dari 'Roh' Ibu

10 September 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Saya menyelenggarakan pelatihan trading Quantum Life Transformation for Financial Freedom® (QLTFF) berdurasi tiga hari. Di hari pertama, secara khusus saya mengajari para peserta untuk mengenali mental block yang menghambat mereka mencapai sukses finansial dengan mudah. 

Banyak peserta yang semula merasa dirinya baik-baik saja, setelah dituntun untuk menyelami pikiran bawah sadar (PBS) mereka, berhasil menemukan mental block penghambat sukses finansial yang selama ini bekerja sangat halus dan cukup sulit dikenali atau diidentifikasi. 

Mental block ini muncul dalam berbagai varian. Ada yang bentuknya suara dalam diri yang terus mengeluarkan ujaran negatif, merendahkan diri. Ada yang muncul dalam bentuk perasaan diri tidak berharga, tidak penting, bukan siapa-siapa. Ada lagi yang merasa tidak layak untuk dapat uang dengan cara mudah atau tidak bisa melihat angka (penghasilan) besar, merasa tidak layak untuk mendapatkan yang terbaik. 

Mental block ini memiliki energi dan tersimpan di bagian tubuh tertentu. Bahkan, ada yang merasa energi mental block ini mengisi seluruh dirinya. 

Dari mana asal mental block ini? Mental block sejatinya program pikiran atau sugesti yang masuk, lebih tepatnya dimasukkan, ke pikiran bawah sadar (PBS) kita saat proses tumbuh-kembang, terutama sejak usia 0 hingga 10 tahun pertama kehidupan kita, dan bersumber dari figur otoritas seperti orang tua atau guru. 

Setelah sugesti ini masuk ke PBS, melalui proses penguatan dan biasanya diimbuhi emosi-emosi negatif intens, ia menjadi program pikiran sangat kuat. Selanjutnya program pikiran ini bekerja di bawah sadar dan mengendalian diri individu. 

Salah satu peserta, sebut saja sebagai Indah, usai sesi swaterapi yang saya tuntun, bercerita bahwa selama ini ia tidak pernah bisa bermimpi besar. Ia tidak bisa melihat dirinya punya penghasilan (sangat) besar. Ia sudah berusaha mengatasi hambatan ini dengan berbagai upaya. 

Ia merasa telah berhasil mengatasi mental block ini. Namun di sesi swaterapi ini saya minta semua peserta untuk dengan sungguh-sungguh mengikuti tuntuntan saya dan melakukan terapi pada diri mereka sendiri. 

Apa yang terjadi? Ternyata, di tahap akhir proses swaterapi, saat proses menetralisir hambatan yang mengakibatkan Indah tidak bisa bermimpi besar, tiba-tiba muncul wajah ibunya. Ibu Indah telah meninggal. 

Ibu yang Indah "lihat" adalah sosok berusia sekitar 45 tahun. Indah bisa merasakan ada emosi "tidak berani bermimpi besar" keluar dari tubuh Ibunya dan lepas dari diri Indah melalui hati Indah. Setelahnya Indah merasa kelegaan luar biasa. 

Dari perspektif ilmu pikiran, apa yang sesungguhnya terjadi?

Ibu yang Indah "lihat" adalah introjek, bukan roh orang yang telah meninggal. Introjek adalah persepsi tentang seseorang yang penting atau yang punya ikatan emosi dengan diri kita dan mewujud dalam bentuk sosok di pikiran bawah sadar. 

Sosok ini menjalankan dua peran, sebagai introjek dan identofak. Bila sebagai introjek, ia tidak begitu berpengaruh pada individu. Masalah muncul bila sosok ini mengambil peran sebagai identofak. Sebagai identofak, ia aktif menempati, menguasai, dan mengendalikan tubuh / diri individu. 

Saat identofak aktif, individu berucap dengan nada atau suara identofak. Individu berperilaku sebagai sosok orang lain, introjek. Yang tidak mengerti tentang hal ini berpikir individu mengalami kerasukan. 

Introjek bisa tinggal di dalam diri individu, di bagian tubuh tertentu, atau di luar tubuh individu namun masih di dalam lingkup medan energi pikirannya. 

Indah merasakan kelegaan luar biasa setelah emosi atau blocking yang berasal dari ibunya berhasil ia netralisir. Dan setelahnya, Indah berani bermimpi besar. Ia kini fokus membangun penghasilan pasif dari trading menggunakan protokol QLTFF. 

Demikianlah adanya...

Demikianlah kenyatannya...

Hipnoterapi untuk Penyembuhan Luka Bakar

Hipnoterapi untuk Penyembuhan Luka Bakar

21 Juli 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Saat seseorang mengalami luka bakar, ada dua proses berbeda yang terjadi padanya. Pertama, kulit yang mengalami luka bakar menjadi rusak karena panas. Ini terjadi dalam sekejap. Selanjutnya muncul respon inflamasi yang mengakibatkan wilayah terdampak menjadi bengkak, meradang, dan terasa sakit. Reaksi ini butuh waktu antara dua hingga empat jam untuk mencapai efek penuh. 

Jeda waktu ini yang dimanfaatkan oleh Dr. Dabney Ewin dari Tulane University di New Orleans, yang juga adalah hipnoterapis, membantu pasien yang mengalami luka bakar. Dr. Ewin  menggunakan hipnoterapi bukan sebagai upaya terakhir, namun sebagai upaya pertama, dalam membantu pasien luka bakar di instalasi gawat darurat penanganan luka bakar di rumah sakit. 

Dalam satu kesempatan wawancara di tahun 1980, untuk BBC TV (https://www.youtube.com/watch?v=u34HoFVxSNc) Dr. Ewin menyatakan bahwa bila pasien dapat ditangani dalam waktu dua jam pertama sejak luka bakar terjadi, sebelum respon inflamasi bekerja, maka respon ini dapat dihentikan, karena dengan hipnoterapi, pasien dapat dibuat seolah tidak mengalami luka bakar. 

Dr. Ewin menunjukkan bukti dengan menunjukkan foto luka bakar, 3.000 derajat Celcius, yang terjadi pada lengan pasiennya, akibat ledakan gas karbid (asetilen). 

Dalam waktu satu jam setelah kejadian, pasien ini jumpa Dr. Ewin di rumah sakit, dihipnoterapi, luka bakarnya dibalut, dan ia dapat langsung kembali bekerja. Keesokah harinya, kulit pasien ini masih tetap gosong, namun tidak ada pembengkakan, tidak ada infeksi, dan sama sekali tidak ada rasa sakit. Lengan pasien ini sembuh total hanya dalam waktu dua belas hari. 

Di tahun 1983 Dr. Ewin menulis artikel "Emergency Room Hypnosis for the Burned Patient" menjelaskan aplikasi hipnosis / hipnoterapi untuk penanganan luka bakar dan dipublikasi di American Journal of Clinical Hypnosis.

Saya cukup beruntung karena punya buku menjelaskan teknik yang dilakukan oleh Dr. Ewin. Dan saya juga punya video penanganan luka bakar dengan hipnoterapi, salah satunya menampilkan Dr. Ewin, yang biasa saya  tunjukkan di kelas SECH. 

 

Hipnoterapi Model Baru: Sebuah Keniscayaan

Hipnoterapi Model Baru: Sebuah Keniscayaan

3 Juni 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Ide-ide baru selayaknya diperlakukan sebagai hipotesis, diuji dengan eksperimen, dan direvisi seturut hasilnya. Ide-ide baru tidak dapat diabaikan sampai mereka diuji dan ditemukan hasilnya, positif atau negatif. Ini adalah prinsip yang saya pegang teguh dalam proses belajar.

Di masa awal saya belajar hipnoterapi, tahun 2005, saya banyak memelajari dan menelaah pemikiran para pakar hipnoterapi melalui buku dan DVD karya mereka. Melalui penelusuran intensif literatur saya menemukan banyak informasi penting terkait proses hipnosis dan hipnoterapi.

Mereka semua sepakat dan menyatakan bahwa proses hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi hipnosis, baik yang dicapai melalui induksi formal maupun non formal. Di ruang praktik, hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan oleh hipnoterapis pada klien, dalam kesetaraan relasi dan kerjasama, guna mencapai tujuan terapeutik yang telah disepakati.

Dalam konteks ini, terapis menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi terapeutiknya membantu klien mengatasi masalah. Dan klien sepenuhnya percaya dan mengikuti bimbingan terapis. Terapi dilakukan dan berlangsung setelah klien menjalani induksi hipnotik.

Dari semua pemikiran para pakar yang pernah saya pelajari, satu nama sangat menonjol dan menarik perhatian saya, Ormond McGill, yang dijuluki sebagai The Dean of American Hypnotists.

McGill pernah ke India dan memelajari hipnosis timur. Ia menulis banyak buku, salah satunya berjudul Hypnotism and Mysticism of India (1979). McGill menyatakan bahwa proses hipnosis atau hipnoterapi diawali dan telah berakhir di pikiran hipnoterapis sebelum terapi formal dilakukan.

Dengan bahasa yang lebih lugas, McGill menyatakan bahwa untuk terapi yang efektif, hipnoterapis harus yakin sepenuhnya dan mampu melihat, di dalam pikirannya, hasil akhir yang hendak dicapai. Setelahnya, barulah dilakukan proses hipnosis atau hipnoterapi.

Pemikiran ini agak di luar pemikiran arus utama dan sangat menarik perhatian saya. Namun karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya saat itu, saya belum secara serius menelisik lebih jauh. Informasi ini saya simpan sebagai bahan pembelajaran penting yang akan saya kembangkan lebih lanjut.

Berikutnya saya membaca proses terapi yang dilakukan David R. Hawkins (1995), dalam buku Power vs Force. Dijelaskan dalam buku ini, Hawkins mampu menyembuhkan klien-kliennya hanya melalui komunikasi dengan pikiran bawah sadar (PBS) kliennya, mengirim energi cinta kasih dan pesan ke PBS klien yang mengalami kondisi cukup berat seperti katatonik mutisme, dan kliennya sembuh.

Apa yang dilakukan Hawkins sangat sejalan dengan pesan yang disampaikan guru saya, Anna Wise, saat saya belajar dengan beliau di Berkeley tahun 2009, terkait proses penyembuhan.

Komunikasi nonverbal, langsung dari pikiran satu individu ke pikiran individu lainnya, selain pernah dilakukan oleh Anna Wise, juga pernah saya baca dilakukan oleh Prof. Valerie Hunt (1996) dalam bukunya yang sangat bagus, The Infinite Mind. Bentuk komunikasi nonverbal ini sangat berpengaruh pada klien yang akan dibantu melalui proses terapi. Diceritakan dalam buku ini, Prof. Hunt mampu berkomunikasi dengan PBS pasien yang berada dalam kondisi koma melalui komunikasi nonverbal, langsung dari pikiran ke pikiran.

Dalam literatur lain saya membaca bahwa di tahun 1847 dokter bedah asal Skotlandia, James Esdaile, membuat laporan tertulis menjelaskan tentang praktik mesmerisme yang ia lakukan di India. Esdaile melakukan lebih dari 315 operasi besar, termasuk 19 amputasi tungkai, dan beberapa ribu operasi kecil, tanpa obat bius, karena saat itu memang belum ada obat bius.

Esdaile melakukan mesmerisme, sebutan untuk hipnosis di zaman itu, yang ia kembangkan dan berhasil menuntun pasien-pasiennya masuk ke kondisi di mana terjadi anestesi spontan di seluruh tubuh mereka.

Ini ia lakukan tanpa menggunakan sugesti verbal atau kontak mata, dan sering dilakukan dengan mata pasien tertutup. Yang dilakukan adalah melakukan “hand-pass” di sekujur tubuh pasien untuk waktu tertentu hingga pasiennya masuk ke kondisi hipnosis ekstrim, yang kini dikenal dengan kondisi Esdaile.

Esdaile menegaskan bahwa tekniknya tidak sekadar melibatkan daya imajinasi, namun lebih dari itu. Menurut Esdaile, berdasar pengamatannya, mesmerisme (baca: hipnosis) yang ia praktikkan melibatkan daya fisik yang dikeluarkan oleh satu individu kepada individu lain, dalam keadaan dan kondisi tertentu dari sistem masing-masing.

Kisah penting berikutnya, ditulis dalam British Medical Journal (1952), adalah penyembuhan sakit fisik yang dilakukan Dr. Albert A. Mason pada pasien yang menderita sakit kulit parah. Orang awam menyebutnya sebagai sakit “kulit ikan”, di mana terjadi penebalan kulit di sekujur tubuh. Kulit menjadi sangat kaku dan bila bagian tubuh ditekuk, kulit pecah dan keluar darah.

Dr. Mason berpikir ini adalah semacam kutil (warts). Dan ia sudah cukup sering menyembuhkan kutil menggunakan hipnosis. Ia melakukan hipnosis pada pasien ini di bulan Februari 1951 dan memberi sugesti ke pikiran bawah sadar pasiennya untuk menanggalkan seluruh kutil di lengan kiri.

Seminggu kemudian, pasiennya kembali jumpa Dr. Mason. Dan seturut sugesti yang diberikan, lapisan kulit tebal di lengan kiri tanggal dan kulitnya kembali normal. Sementara kulit di lengan kanan dan wilayah tubuh pasien lainnya sama sekali tidak berubah.

Sejawat Dr. Mason kaget dengan kesembuhan pasien ini dan mengatakan bahwa sakit kulit yang diderita pasien ini adalah congenital ichthyosiform erythroderma, bawaan sejak lahir, bersifat struktural dan organik, dan harusnya tidak bisa disembuhkan.

Walau Dr. Mason sukses menyembuhkan lengan kiri pasiennya dengan hipnosis, setelah ia membaca dan memelajari literatur tentang congenital ichthyosiform erythroderma ia percaya bahwa kondisi ini tidak bisa disembuhkan.

Informasi yang dibaca Dr. Mason tentang sakit kulit yang diderita pasiennya, bahwa ini tidak bisa disembuhkan, mengakibatkan kepercayaannya luruh, walau bukti menunjukkan ia mampu menyembuhkan lengan kiri pasiennya.

Dr. Mason masih mencoba melakukan terapi lanjutan pada pasiennya dan sama sekali tidak ada hasilnya. Ia juga melakukan terapi pada delapan pasien lain, yang menderita congenital ichthyosiform erythroderma dan semuanya gagal (BMJ, 1961).

Pemikiran penting tentang pikiran disampaikan Dr. Howard B. Miller di konvensi The American Society of Clinical Hypnosis (ASCH) di San Francusco, November 1969. Menurut Miller, pikiran adalah sumber energi, entitas daya yang menggunakan tubuh dan otak kita. Dan cara paing mudah untuk mengubah proses berpikir adalah dengan hipnosis.

Komunikasi antara individu tidak hanya dilakukan menggunakan jalur komunikasi verbal namun juga bisa melalui telepati. Andrija Puharich, MD., melakuan eksperimen di laboratorium untuk menguji teori dan mekanisme telepati.

Puharich (1962) menjelaskan, dalam Beyond Telepathy, dibutuhkan kondisi mental khusus untuk bisa melakukan telepati, mengirim dan menerima bentuk pikiran dari satu individu ke individu lainnya.

Puharich menamakan kondisi mental “pengirim” sebagai andrenergia dan kondisi mental “penerima” sebagai cholinergia. Andrenergia adalah kondisi mental bercirikan pikiran fokus, didorong oleh perasaan terdesak, atau keinginan kuat untuk mewujudkan sesuatu. Sementara cholinergia adalah kondisi mental rileks, sama seperti kondisi hipnosis dalam atau trance. Hasil eksperimen Puharich memvalidasi teori dan teknik telepati yang digagasnya.

 

Dr. Robert A. McConnell, fisikawan dari University of Pittsburgh dan mantan presiden Parapsychological Assocaition, di tahun 1979 menulis paper penting berjudul Hypnosis as Psychokinesis. Paper McConnell fokus pada karya peneliti paling sukses dan berpengaruh dari semua peneliti psi Rusia, Leonid L. Visiliev (1891-1966).

Hasil eksperimen Visiliev menunjukkan bahwa bentuk pikiran dapat dikirim dari satu individu ke individu lain, dalam bentuk perintah menggerakkan bagian tubuh tertentu, dan perintah ini benar dilaksanakan oleh si penerima, walau terdapat jarak di antara pengirim dan penerima.

Keterhubungan nonfisik, pada level vibrasi, antara terapis dan klien, yang dibuktikan dengan pengukuran menggunakan instrumen tervalidasi saya temukan di buku The Awakened Mind.

Dalam buku ini dijelaskan tentang hasil pengukuran gelombang otak yang dilakukan Maxwell Cade (1979) pada dua orang, satu terapis dan satu lagi klien. Di tahap awal, pola gelombang otak terapis dan klien sangat berbeda. Sekitar 15 menit kemudian, pola gelombang otak klien sinkron dengan pola gelombang otak terapis.

Cade juga menemukan bahwa terapis dapat memengaruhi dan membuat pola gelombang otak klien mengikuti pola gelombang otak terapis, walau mereka berada di ruang berbeda.

Menurut hasil penelitian Cade, pola gelombang efektif untuk penyembuhan adalah pola yang ia namakan The Awakened Mind. Saat pola ini goyah, efek penyembuhan juga melemah.

Penelitian intensif yang dilakukan HeartMath Institute, dijelaskan dalam Science of The Heart, menemukan bahwa jantung menghasilkan medan elektromagnetik 100 kali lebih kuat dari yang dihasilkan otak. Medan ini memancar keluar dari jantung, keluar dari tubuh ke segala penjuru, dan dapat dideteksi hingga jarak sekitar 2 meter, menggunakan magnetometer berbasis SQUID (superconducting quantum interference device).

Dari banyak eksperiman yang saya lakukan di pelatihan Quantum Life Transformation, diketahui bahwa vibrasi (pikiran dan emosi) yang terpancar dari tubuh individu dapat dirasakan dan memengaruhi individu lain hingga sejauh 20 meter, dan bahkan bisa lebih jauh lagi.

Dari penelitian HeartMath Institute diketahui terdapat dua pola gelombang yang dihasilkan jantung, koheren atau tidak koheren. Dan ini dipengaruhi oleh emosi yang dialami individu. Emosi-emosi positif seperti cinta, rasa terima kasih, syukur, apresiasi, bahagia, dan sejenisnya menghasilkan pola koheren. Sementara emosi negatif seperti marah, dendam, kecewa, sedih, terluka, frustrasi, tertekan, dan berbagai emosi negatif lainnya menghasilkan gelombang tidak koheren.

Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan individu memengaruhi individu lain di dekatnya, melalui komunikasi energetik yang beroperasi di bawah tingkat kesadaran individu. Dari hasil penelitian ini diketahui dapat terjadi sinkronisasi pola gelombang jantung yang sangat baik antara satu individu dengan lainnya, bila mereka memiliki kedekatan relasi kerja.

Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa relasi terapis dan klien, dalam kerja mengatasi masalah klien, menjadi salah satu faktor penting agar terjadi sinkronisasi pola gelombang jantung di antara mereka.

Temuan penting disampaikan Christine Caldwell Bair (2008) dalam artikelnya The Heart Field Effect: Synchronization of Healer-Subject Heart Rates in Energy Therapy, yang menyatakan bahwa hasil studi menunjukkan sinkronisasi detak jantung yang signifikan secara statistik, antara penyembuh dan subjek yang menjalani intervensi.

Masih banyak pemikiran, tulisan, dan temuan para pakar yang saya baca, khususnya tentang pengaruh sikap, tingkat rasa percaya diri, vibrasi, energi psikis, konsentrasi, dan “kejernihan” hati terapis terhadap diri klien, proses dan hasil terapi. Akan sangat panjang bila saya tulis semuanya di sini.

Pengalaman saya berpraktik sebagai hipnoterapis klinis sejak tahun 2005, menggunakan pendekatan eklektik integratif, dan juga dari berbagai temuan saat saya melakukan supervisi dan bimbingan pada para hipnoterapis AWGI, dan dari berbagai diskusi proses terapi yang kami lakukan, semuanya sejalan dengan hal-hal yang telah saya paparkan di atas. Berikut ini saya jelaskan secara ringkas yang kami temukan.

Rasa percaya diri dan keyakinan terapis akan kompetensi dirinya, bahwa ia mampu menangani dan membantu klien mengatasi masalahnya, sangat penting dan menentukan proses dan hasil terapi. Terapis yang tidak sepenuhnya yakin dan percaya pada kemampuan dirinya, pasti gagal membantu klien, terlepas dari teknik apapun yang ia gunakan.

Ketidakyakinan terapis ini terungkap dan ditangkap oleh pikiran bawah sadar klien, baik melalui komunikasi verbal (diksi, tekanan suara, dan intonasi ), maupun nonverbal (bahasa tubuh dan energetik).

Niat dan keyakinan yang kuat terpancar dari diri terapis memengaruhi tidak hanya fisik namun juga pikiran sadar dan pikiran bawah sadar klien. Dan ini berdampak signifikan pada proses dan hasil terapi.

Saya sering menemukan, saat membaca laporan kasus para hipnoterapis pemula AWGI, mereka menangani masalah A. Namun dalam proses terapi, karena mereka masih kurang pengalaman, masalah yang diterapi bukan A namun B. Yang luar biasa adalah masalah A juga turut terselesaikan.

Saya meyakini ada hal lain, selain proses terapi formal kasat mata, bekerja di latar belakang dan menghasilkan dampak terapeutik positif luar biasa ini. Dan kini saya lebih mengerti apa yang terjadi setelah menghubungkan banyak informasi yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber.

Terapis walau memiliki kompetensi terapeutik tinggi, tetap perlu menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik, pikiran, emosi, dan spiritual, sebelum jumpa dan melakukan terapi klien, agar mencapai hasil optimal dari kegiatan terapi yang ia lakukan.

Saat relasi terapeutik telah terjalin antara terapis dan klien, saat klien percaya sepenuhnya pada terapis yang akan membantu dirinya, vibrasi dan energi terapis memengaruhi klien secara positif melalui komunikasi energetik.

Untuk mencapai hasil terapi maksimal, sangat penting bagi terapis untuk menjaga kesehatan fisik, emosi, kualitas berpikir, suasana hati, dan koherensi pola gelombang jantungnya, konsisten mengasah dan meningkatkan kompetensi dan kematangan terapeutiknya.

Dari sejumlah informasi yang telah dipaparkan, jelas sekali bahwa hipnoterapi bukan sekadar proses terapi satu arah yang dilakukan terapis pada klien, melalui komunikasi verbal, mengakses dan memberdayakan pikiran bawah sadar klien dengan bantuan kondisi hipnosis.

Hipnoterapi bukan sekadar klien datang, diwawancara oleh terapis, dituntun masuk kondisi hipnosis, dan selanjutnya terapis melakukan terapi berbasis sugesti atau penyelesaian akar masalah.

Keefektifan hipnoterapi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan sugesti atau teknik yang digunakan, namun lebih dari ini. Terdapat banyak aspek lain, disadari atau tidak, turut terlibat, bekerja, dan secara signifikan memengaruhi proses dan hasil terapi.

Dengan kejernihan dan pemahaman yang diperoleh, dihimpun baik dari literatur maupun pengalaman praktik, Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology telah dan sedang mengembangkan hipnoterapi model baru, hipnoterapi yang dilakukan dengan memanfaatkan segenap daya diri terapis dan klien, untuk kebaikan klien sebesarnya. Hipnoterapi model baru bukan sebuah kemungkinan, namun keniscayaan.

 

Demikianlah adanya…

Demikianlah kenyataannya…

Hipnotisabilitas Sebagai Determinan Keefektifan Terapi

Hipnotisabilitas Sebagai Determinan Keefektifan Terapi

2 Mei 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Setidaknya hingga awal abad 19, telah diketahui bahwa setiap individu memiliki keunikan dan perbedaan dalam derajat respon terhadap sugesti hipnotik. Di tahun 1950an dan 1960an, Weitzenhoffer dan Hilgard (1959, 1962) melanjutkan kerja pendahulu, antara lain Friedlander dan Sarbin (1938), mengembangkan skala terstandar guna mengukur hipnotisabilitas. 

Skala ini dan skala-skala serupa lainnya yang dikembangkan peneliti lain (Barber, 1965; Shor dan Orne, 1962; Spanos dkk., 1983) segera menjadi populer dan digunakan, dan ditemukan bahwa hipnotisabilitas adalah karakter pribadi bersifat relatif stabil. Dengan kata lain, setiap individu cenderung mencatat skor sama pada dua kesempatan pengukuran berbeda, menggunakan tes hipnotisabilitas yang sama, walau kedua tes dilakukan dalam interval waktu cukup lama (Hilgard, 19765a; Piccione, Hilgard, dan Zimbardo, 1989).

Dalam konteks hipnosis, faktor hipnotisabilitas inilah yang sering disebut memengaruhi dan bertanggung-jawab atas perbedaan antara individu yang sangat mudah mengalami fenomena hipnotik seturut sugesti yang diberikan oleh operator kepadanya, dan mereka yang hanya mampu mengalami sedikit atau bahkan sama sekali tidak bisa merespon sugesti (Lynn dan Rhue, 1991).

Para pakar sepakat bahwa hipnotisabilitas setiap individu berbeda. Namun, hingga sejauh mana respon hipnotik dapat dimodifikasi masih menjadi perdebatan hingga saat ini (Diamond, 1977; Bertrand, 1989; Spanos dan Flynn, 1989; Bates, 1990; Gorassini, 2004).

Secara konseptual, hipnotisabilitas adalah peningkatan sugestibilitas sebagai dampak hipnosis. Secara praktis, hipnotisabilitas diukur berdasar peningkatan sugestibiltas setelah dilakukan induksi hipnotik. Sementara sugestibilitas adalah derajat kecenderungan individu dalam menerima dan bertindak atas dasar sugesti hipnotik yang diberikan padanya.

Menurut American Psychological Association (2014) hipnotisabilitas adalah kemampuan individu mengalami perubahan fisiologis, sensasi, emosi, pikiran, atau perilaku seturut dengan sugesti yang diberikan padanya, saat ia berada dalam kondisi hipnosis.

Terdapat dua paradigma, dengan pendukungnya masing-masing, tentang sejauh mana respon hipnotik dapat dimodifikasi atau ditingkatkan. Satu perspektif, dinamakan pandangan proses khusus (special process view), menyatakan respon hipnotik mencerminkan kemampuan secara pasif mengalami disosiasi di antara beragam subsistem kognisi (Hilgard, 1977, 1979).

Kemampuan disosiatif ini bertanggung jawab atas hampir semua fenomena hipnotik, termasuk analgesia hipnotik, amnesia hipnotik, dan perasaan bahwa respon terhadap sugesti hipnotik terjadi dengan sendirinya, tanpa perlu upaya sadar.

Kapasitas disosiasi, khususnya yang tampak pada individu dengan hipnotisabilitas tinggi, dipandang sebagai karakter statis dalam diri individu dan tidak dapat dimodifikasi, walau dengan upaya gigih. Pendukung paradigma ini sering menggunakan data hasil penelitian respon hipnotik yang dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun (1960-1970), 15 tahun (1970-1985), dan 25 tahun (1960–1985), masing-masing menunjukkan korelasi uji dan uji ulang sebesar 0.64, 0.82, dan 0.71 sebagai bukti bahwa hipnotisabilitas adalah karakter yang bersifat statis (Piccione, Hilgard, dan Zimbardo, 1989).

Walau hasil penelitian ini menunjukkan hipnotisabilitas relatif bersifat stabil, sugesti yang digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan respon hipnotik patut mendapat perhatian. Banyak subjek penelitian gagal merespon sugesti bukan disebabkan mereka kurang dalam keterampilan imajinatif atau memiliki sikap negatif terhadap hipnosis, namun lebih disebabkan sugesti hipnotik yang diberikan bersifat ambigu dan cenderung salah dimengerti. Sugesti-sugesti ini disusun menggunakan kalimat pasif dan mengakibatkan banyak subjek penelitian berasumsi respon hipnotik akan terjadi secara otomatis (Spanos, 1986c).

Dengan demikian, banyak subjek dengan sikap, motivasi, dan pengharapan positif terhadap hipnosis, dan memiliki keterampilan yang baik dalam menggunakan gambaran mental, gagal menghasilkan respon hipnotik karena sugesti yang digunakan, disusun dengan kata atau kalimat pasif, yang membuat mereka hanya menunggu secara pasif untuk efek sugesti terjadi dengan sendirinya (Katsanis, Barnard, dan Spanos, 1988).

Sementara perspektif satunya, dinamakan model keterampilan kognitif sosial (social-cognitive skills model) memandang respon hipnotik sebagai hasil dari kemampuan yang dipengaruhi oleh banyak faktor intrapersonal, interpersonal, dan kontekstual.

Faktor-faktor ini meliputi pengharapan dan sikap terhadap hipnosis, keterampilan kognisi, seperti kejelasan dan ketajaman gambar yang muncul di pikiran dan ketercerapan dalam imajinasi; dan variabel interpersonal, meliputi derajat rasa percaya dan relasi dengan operator. Setiap faktor ini diyakini dapat dimodifikasi, setidaknya hingga batas tertentu.

Model keterampilan kognitif sosial menyatakan hipnotisabilitas dapat ditingkatkan secara signifikan bila individu diberi informasi dan pelatihan yang mendukung faktor-faktor ini.

Hipnosis telah digunakan dalam upaya mengatasi beragam masalah atau kondisi, antara lain gangguan kecemasan (Crawford dan Barabasz, 1993; Spiegel, 1994; Schoenberger dkk., 1997; Cardena dkk., 2002), gangguan suasana hati (Yapko, 2001; Hensel dkk., 2001; Gravitz, 2001), mengatasi rasa sakit (Eimer, 2000; Gravitz, 2002; Whalley dan Oakley, 2003; Liossi dan Hatura, 2003), penyembuhan tubuh fisik melalui pendekatan keterhubungan pikiran dan tubuh (Rossi, 1993; Heap dkk., 1994; Breuer, 2000; Gruzelier, 2002), mengatasi gangguan tidur (Kingsbury, 1993; Perlstrom, 1998), membantu mengurangi atau menyembuhkan masalah kuli (Shenefelt, 2000; Ewin dan Eimer, 2006; Goldstein, 2005), gangguan psikofisiologis, termasuk asma (Neinstein dan Dash, 1982; Brown, 2007), mengurangi gangguan IBS / irritable bowel syndrome (Palsson, 2006; Palsson, Turner, Johnson, Burnett, dan Whitehead, 2006; Whitehead, 2006), menyembuhkan migrain (Kukuruzovic, 2004), menghentikan kebiasaan merokok (Neufeld dan Lynn, 1988), dan menangani obesitas  (Levitt, 1992).

Literatur empiris mengindikasikan hipnotisabilitas berpengaruh terhadap hasil terapi. Namun kadang hipnotisabilitas sama sekali tidak dapat memprediksi keberhasilan terapi (Lynn, Boycheva, dan Barnes 2008). Dari beberapa temuan, walau tidak selalu konsisten, diketahui bahwa keberhasilan terapi atau penanganan terhadap kasus berikut ini dipengaruhi hipnotisabilitas: kondisi yang berhubungan dengan rasa sakit, berhenti merokok, obesitas, kutil, kecemasan, somatisasi, gangguan konversi, dan asma (Lynn, Shindler, dan Meyer, 2003).

Hipnotisablitas sangat relevan dan berpengaruh dalam menentukan hasil penanganan atau terapi bila keberhasilan intervensi dicapai melalui perubahan pengalaman subjektif klien (Wadden dan Anderton, 1982; Soskis, 1986). Contoh kondisi di mana perubahan persepsi dan pengalaman subjektif seseorang dapat menghasilkan perubahan positif termasuk yang melibatkan memori traumatik dan kondisi psikofisiologis, seperti sakit disfungsional dan gangguan konversi.

  

Apakah hipnotisabilitas bisa ditingkatkan?

Penelitian-penelitian terdahulu respon hipnotik berdasar model keterampilan kognitif sosial menemukan peningkatan berarti pada tingkat sugestibilitas perilaku dan subjektif setelah pelatihan modifikasi (Sachs dan Anderson, 1967; Diamond, 1972; Kinney & Sachs, 1974; Springer, Sachs, & Morrow, 1977).

Ini sejalan dengan hasil penelitian lebih awal, bahwa 55% subjek yang semula tidak dapat dihipnosis, setelah mendapat pelatihan interpersonal tinggi meliputi faktor-faktor kognisi, peningkatan relasi antara operator dan subjek, dan pengurangan hambatan respon hipnotik, berubah menjadi sugestibilitas tinggi mengacu pada Harvard Group Scale of Hypnotic Susceptibility (Shor dan Orne (1962).

Hasil paling mengesankan dari peningkatan tersebut tampak dalam sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Spanos dan rekan-rekannya (Spanos, dkk., 1985; Gorassini & Spanos, 1986). Penelitian ini menunjukkan lebih dari 50% subjek mengalami peningkatan hipnotisabilitas, dari rendah menjadi tinggi, setelah menjalani pelatihan keterampilan kognitif. Temuan penelitian ini menguatkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya.

 

Aplikasi Klinis 

Telah dijelaskan bahwa respon hipnotik sangat relevan dan berpengaruh pada penanganan kasus atau kondisi di mana hasil terapeutik positif bergantung pada perubahan pengalaman subjektif dan persepsi klien, termasuk yang melibatkan memori traumatik.

Peningkatan hipnotisabilitas dapat dicapai dengan memberi klien pelatihan, edukasi, atau penjelasan mendalam dan relevan dengan konteks terapi, sebelum terapi dilakukan. Selain bertujuan memberi informasi dan inspirasi, pelatihan dan edukasi subjek juga untuk meningkatkan motivasi, pengharapan, mengatasi keraguan, membangun kepercayaan dan sikap mental positif dalam diri subjek terhadap operator dan proses yang akan dijalani, memberi pemahaman subjek bahwa ia perlu aktif terlibat dalam merespon, serta menjalin relasi terapeutik. Sebagaimana dalam semua konteks terapi, membangun kerjasama terapeutik positif penting untuk memfasilitasi keberhasilan aplikasi kemampuan hipnotik mereka (Sheehan, 1980; Gfeller dkk, 1987)

Model keterampilan kognitif sosial memandang relasi terapeutik sebagai proses kolaboratif dengan menempatkan operator sebagai partisipan pengamat yang membantu klien dalam memahami sifat hipnosis, dan menelusuri faktor-faktor yang dapat menghambat dan meningkatkan kemampuan hipnotik klien. Dengan demikian, intervensi  hipnotik tidak boleh dilakukan hingga terbangun rasa percaya yang kuat dari klien terhadap operator.

Dalam upaya mengatasi masalahnya, klien perlu menjalani pengalaman emosional korektif yang sesuai untuk memperbaiki pengaruh dari pengalaman-pengalaman traumatik sebelumnya (Alexander, French, dkk., 1946).

Sejalan dengan hal ini, Watkins (1978) menyatakan untuk mencapai hasil terapeutik maksimal dan bertahan lama, klien perlu mengalami modifikasi memori traumatik, tidak cukup hanya sekadar mengalami kembali pengalaman traumatiknya. Dan adalah lebih baik secara permanen menetralisir memori patologis dan menggantinya dengan memori sehat (Watkins dan Barabasz (2008).

Kemudahan dalam mengakses dan memodifikasi pengalaman traumatik hingga klien mencapai pengalaman emosional korektif, selain tentunya dipengaruhi kompetensi klinis operator, juga sangat terbantu oleh peningkatan hipnotisabilitas klien.

 

Energi Psikis Lemah, Diri Dikendalikan EP Dorman

Energi Psikis Lemah, Diri Dikendalikan EP Dorman

14 April 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Pengalaman saya belajar dan praktik hipnoterapi, dari tahun 2005 hingga saat ini, memberi saya satu pemahaman sangat penting, sebagai bekal untuk mengajar dan membimbing para peserta pelatihan hipnoterapi SECH mencapai standar kompetensi tinggi hipnoterapis. 

Satu hal sangat penting ini adalah bahwa para hipnoterapis pemula perlu memiliki basis data kuat, tidak hanya teori, teknik, strategi, juga contoh-contoh kasus yang telah ditangani, beserta variannya. 

Itu sebabnya, selama 10 hari pelatihan, saya banyak cerita tentang beragam kasus yang pernah kami tangani. Dengan mendengar kisah-kisah ini, para calon hipnoterapis ini walau belum pernah praktik atau praktiknya masih minim, telah memiliki banyak pengetahuan yang bisa dijadikan referensi saat membantu klien. 

Salah satu kisah menarik yang saya ceritakan kepada para peserta SECH adalah saat saya diminta membantu seorang klien, sebut saja sebagai Ibu Ani, usia 60 tahun. 

Anak Ibu Ani menghubungi saya dan menjelaskan situasi dan kondisi ibunya. Ibu Ani menderita sakit serius, dan sudah sekitar satu minggu mengalami sulit tidur.

Ibu Ani, tubuhnya lemah, dan entah karena apa, jadi tidak kenal orang. Ia tidak kenal suaminya dan anak-anaknya. Ia juga berkata bahwa ia mau pulang ke rumahnya. Padahal posisi ibu Ani sudah berada di kamar tidurnya, di rumahnya sendiri. 

Ibu Ani juga berkata bahwa ia melihat nenek dan kakeknya, yang telah meninggal. Mereka mengajaknya pulang ke rumah.

Mengingat kondisi Ibu Ani tidak mungkin bisa jumpa saya di tempat praktik saya, saya putuskan untuk berkunjung ke rumahnya. Saya biasanya tidak akan pernah ke rumah klien. Namun ini kondisi khusus sehingga saya membuat perkecualian. 

Ibu Ani pernah jumpa saya, saat beliau mengantar suaminya untuk terapi setelah suaminya mengalami stroke. Jadi, ini adalah satu kemudahan bagi saya. 

Saat jumpa Ibu Ani di rumahnya, saya mencoba berkomunikasi dengan beliau. Sambil menunjuk suami dan anak-anaknya, saya tanya, apakah ia kenal mereka. 

Bu Ani dengan tatapan mata kosong tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala. Saat saya tanya apakah ia kenal atau tahu saya, kembali ia menggeleng kepala dengan lemah. 

Setelah berpikir sejenak, saya mencoba satu teknik komunikasi dengan pikiran bawah sadar (PBS) Ibu Ani.  Secara teori, harusnya bisa dilakukan. Namun saya belum pernah melakukannya. 

Dari analisis saya, kondisi Ibu Ani ini, ia tidak kenal orang-orang di sekitarnya, disebabkan oleh lemahnya energi fisik dan terutama energi psikisnya. 

Energi psikis ini yang menjadi daya aktivasi kesadaran dan  mengelola "kehidupan" bawah sadar. Lemahnya energi psikis mengakibatkan PBS bekerja tidak seperti yang seharusnya dan individu tidak dapat mengendalikan aktivasi Ego Personality dalam dirinya.

Saya jelaskan kepada para peserta pelatihan cara efektif mengakses PBS dalam kondisi energi psikis lemah seperti ini. Intinya, setelah mendapat persetujuan PBS Ibu Ani, sebagai satu kesatuan, saya mengakses sub-unit PBS, atau yang dikenal dengan Bagian Diri / Ego Personality (EP). 

Saat jumpa saya, tubuh Ibu Ani dikendalikan oleh EP yang selama ini dorman, bukan EP yang biasa menjalankan diri dan menjadi Ibu Ani. Sudah tentu EP ini tidak kenal keluarganya dan juga saya.  EP ini juga tidak mengenali rumah tinggal Ibu Ani. 

Saya mulai dengan mengakses EP yang kenal saya. Setelah EP ini berhasil saya akses, saya tanya Ibu Ani, "Ibu Ani, anda kenal saya?"

Mata yang tadinya kosong, tiba-tiba berubah. Walau masih lemah, ia menjawab, "Ya.. Pak Adi."

Setelahnya, saya melakukan teknik khusus untuk semakin menguatkan aktivasi EP ini dan lanjut bertanya, "Ibu kenal mereka?", sambil saya menunjuk suami dan anak-anaknya. Ibu Ani menjawab kenal dan menyebut nama suami dan anak-anaknya. 

Saat itulah saya mendengar suaminya menangis haru dan bahagia. Suami Ibu Ani berkata, "Puji Tuhan...istri saya sudah kembali sadar dan bisa ingat siapa kami. Sudah sekitar satu minggu istri saya sama sekali tidak kenal siapapun. Saya pikir rohnya sudah tidak lagi di tubuhnya."

Mengingat kondisinya yang masih lemah, saya membatasi diri untuk tidak banyak bicara dengan Ibu Ani. Saya beri sugesti agar kondisi tubuh dan kesadarannya semakin kuat dan semakin pulih. 

Setelahnya saya minta keluarganya untuk beri Ibu Ani minum dan makanan halus. Usai makan dan minum, saya minta Ibu Ani untuk kembali ke kamar dan istirahat. 

Esoknya saya dapat kabar dari keluarganya bahwa kesadaran Ibu Ani telah pulih.

Cerita ini seperti dongeng, seolah saya menggunakan daya magis. Sama sekali tidak. Saya hanya kebetulan sedikit paham tentang cara kerja pikiran, khususnya pikiran bawah sadar, dan aplikasinya untuk membantu sesama. 

Para peserta pelatihan yang mendengar cerita ini merasa takjub. Saya bilang ke mereka, bila saya bisa melakukannya maka mereka juga pasti bisa melakukan hal yang sama, karena dasar ilmunya sama.

Sembuh dari Mimisan 18 Tahun

Sembuh dari Mimisan 18 Tahun

2 Februari 2021

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Di pelatihan Quantum Life Transformation (QLT) akhir pekan lalu, di saat rehat kopi, salah satu peserta, sebut saja Budi, datang ke saya dan menjelaskan kondisinya. Budi, 20 tahun, setiap pagi saat mandi mengalami mimisan atau epistaksis. Dan setiap kali mimisan, darah yang keluar lumayan banyak. Ini telah Budi alami 18 (delapan belas) tahun. 

Mimisan biasanya sering terjadi saat kondisi udara kering atau seseorang sering mengorek hidung. Kedua hal ini dapat mengakibatkan pembuluh darah halus di dalam hidung pecah sehingga terjadi pendarahan.

Ada banyak faktor yang dapat mengakibatkan mimisan. Faktor-faktor ini, seperti yang dipublikasi di laman Alodokter.com, antara lain:

- Membuang ingus terlalu kencang.

- Cedera pada hidung.

- Bentuk hidung yang bengkok, baik akibat faktor keturunan atau cedera.

- Penggunaan obat pelega hidung dalam bentuk semprot secara berlebihan.

- Infeksi yang menyebabkan hidung tersumbat, misalnya flu.

- Alergi.

- Sinusitis kronis.

 

Saya cek apakah Budi ada mengalami kondisi di atas, Budi menjawab tidak ada. Budi mimisan sudah sejak kecil. Menurut Budi, ini adalah penyakit keturunan karena ayahnya juga sangat sering mimisan dan demikian pula kakaknya. 

Saya tanya apakah Budi sudah memeriksa diri ke dokter, Budi jawab sudah. Dokter menyatakan kondisi hidungnya baik dan tidak ada masalah. 

Untuk kasus-kasus fisik, prosedur yang harus dilalui seseorang sebelum dibantu dengan hipnoterapi klinis adalah ia wajib memeriksakan diri ke tenaga medis. Ini penting dilakukan karena penanganan medis adalah yang utama, sementara hipnoterapi klinis berperan sebagai komplemen, mendukung. Kecuali bila hasil pemeriksaan medis menyatakan tidak ada masalah maka kondisi ini sangat besar kemungkinannya disebabkan oleh faktor psikologis. 

Dari pernyataan Budi saya simpulkan bahwa ada kepercayaan (belief) bahwa kondisinya ini adalah karena faktor keturunan. 

Saya tanya, ia berapa saudara dan Budi menjawab empat bersaudara. Saya tanya lagi, apakah semua saudaranya mengalami mimisan seperti dirinya. Budi menjelaskan bahwa dari empat bersaudara hanya ia dan kakaknya saja yang mimisan. Sementara dua saudara lainnya tidak. 

Saya bilang ke Budi, bila benar ini penyakit keturunan, mestinya mereka semua mengalami mimisan. Pernyataan saya ini adalah langkah awal saya melakukan terapi untuk menetralisir kepercayaan yang telah ia pegang selama 18 tahun, bahwa ia mimisan karena faktor keturunan. 

Selanjutnya saya menggunakan The Heart Technique® (THT) untuk menetralisir kepercayaan "Saya percaya bahwa saya mimisan karena faktor keturunan". Budi sangat percaya dengan hal ini. Saat saya cek, berapa percaya ia bahwa mimisan yang ia alami adalah faktor keturunan, menggunakan skala 0 - 10, di mana 0 sama sekali tidak percaya dan 10 sangat percaya, Budi dengan cepat dan tegas menjawab 10. 

Saya sebenarnya ada teknik lain yang bisa dengan sangat cepat menetralisir kepercayaan seseorang. Saya beri nama teknik ini Rewriting the Code of Reality®. Saya tidak menggunakan teknik ini mengingat di QLT saya mengajar THT untuk mengubah kepercayaan. 

Proses terapi yang saya lakukan menggunakan THT, untuk mengubah kepercayaan, disaksikan banyak peserta. Dengan cepat, kepercayaan Budi tentang mimisan, yang telah ia pegang teguh selama 18 tahun, melemah dan akhirnya pudar, tidak lagi tersisa. 

Setelah dilakukan pengecekan standar, melalui tiga jalur pengecekan, dapat dipastikan bahwa kepercayaan ini benar telah pudar. Namun saya tidak puas sampai di sini. Saya lakukan pengecekan final, menggunakan satu teknik khusus, untuk mendapat jawaban dari pikiran bawah sadar (PBS) Budi dan memastikan benar kepercayaan ini telah pudar. Dan jawaban PBS Budi menyatakan demikian. 

Selanjutnya saya menginstal kepercayaan baru, kepercayaan positif yang mendukung kesehatan Budi seutuhnya. Kepercayaan ini dengan cepat diterima pikiran bawah sadar (PBS) Budi. 

Sama seperti sebelumnya, saya kembali melakukan pengecekan ganda untuk memastikan kepercayaan baru ini telah diterima PBS Budi. Dan jawaban PBS Budi menyatakan ia menerima sepenuhnya kepercayaan baru ini. 

Apakah proses terapi ini selesai sampai di sini? Belum. Masih ada hal penting lain yang perlu dikerjakan. 

Melalui pengecekan ke PBS Budi diketahui ada satu Ego Personality (EP) yang selama ini membuat Budi mengalami mimisan. Saya proses EP ini dengan teknik EP, yang juga saya ajarkan di QLT. Usai diproses, EP ini memutuskan untuk "menghilang". 

EP ini menyatakan bahwa Budi dipastikan sembuh dari mimisan mulai besok pagi. Dan ini dibenarkan oleh PBS Budi. 

Apakah sudah selesai proses terapinya? Belum. Masih ada hal lain yang saya kerjakan untuk memastikan proses terapi ini benar tuntas. 

Dari pemahaman saya tentang EP, saya tahu di dalam diri Budi ada introjek papanya yang mimisan. Introjek, saat ia aktif dan menjadi identofak akan menggunakan tubuh individu, dalam hal ini tubuh Budi, sebagai media ekspresi dirinya. Berdasar pemahaman ini, saya memutuskan untuk memroses introjek papa Budi. 

Semua proses di atas berlangsung cepat. Tidak lebih dari 15 menit. Saya perlu bertindak cepat mengingat waktu rehat kopi hanya 30 menit. Dan saya juga butuh istirahat sejenak setelah mengajar lebih dari dua jam nonstop. 

Bagaimana hasilnya? 

Keesokan hari, sebelum kelas dimulai, Budi lapor ke saya bahwa pagi ini saat ia mengeluarkan ingus, ingusnya bersih. Biasanya, ingusnya pasti ada darah. Dan saat mandi, ia sama sekali tidak mimisan. 

Budi menyampaikan terima kasih pada saya. Saya bilang ke Budi bahwa bukan saya yang menyembuhkan dirinya. Dia sendiri yang menyembuhkan dirinya. Saya hanya menunjukkan jalan. Sejatinya tubuh kita ini sangat cerdas. Bila kita tahu cara kerja pikiran dan pengaruhnya pada tubuh, kita bisa melakukan banyak hal untuk kebaikan diri. 

 

Demikianlah adanya...

Demikianlah kenyataannya...

Mencicipi Kebahagiaan Sebagai Strategi Terapi

Mencicipi Kebahagiaan Sebagai Strategi Terapi

27 Oktober 2020

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Setiap kasus adalah menarik dan unik. Kasus serupa, bila diproses, memunculkan dinamika yang berbeda antara satu klien dengan yang lain. Kasus yang tampak ringan, saat diproses ternyata sangat mudah diselesaikan. Ada kasus berat, saat diproses, ternyata sangat mudah penyelesaiannya. Sebaliknya, ada kasus ringan, saat diproses, ternyata memiliki akar masalah yang sangat pelik. Demikian pula, ada kasus berat, yang memang memiliki akar masalah kompleks dan butuh kecakapan, ketekunan, dan kreatifitas terapeutik tinggi untuk menyelesaikannya.

Saya pernah menangani kasus klien wanita yang merasa sangat terluka karena mendapati suaminya selingkuh. Dan setelah saya bantu dengan hipnoterapi, masalahnya dapat terselesaikan dengan mudah.

Pernah juga, kasus serupa, namun klien wanita ini bergeming melepas perasaan marah, kecewa, sakit hati, benci, jijik, dan masih banyak emosi lainnya yang muncul akibat mendapai suaminya selingkuh.

Dalam sesi wawancara, saya berusaha memberi pandangan, pemahaman, dan pengertian akan pentingnya melepas emosi negatif yang telah hampir setahun mengganggu hidupnya. Ia perlu memaafkan dan mengampuni baik suaminya maupun selingkuhan suaminya, demi kebaikan dirinya sendiri.

Apakah ia setuju dan bersedia melakukan yang saya sarankan? Sama sekali tidak. Ia tetap ingin membalas dan menghukum suami dan selingkuhan suaminya.

Saya mengerti bahwa ia tidak bisa memaafkan dan mengampuni karena dalam dirinya masih ada emosi negatif sangat intens dari luka hati akibat perbuatan suaminya.

Saya putuskan untuk tidak melanjutkan edukasi melalui pikiran sadar (PS). Saya akan langsung memroses pikiran bawah sadar (PBS) klien ini, karena di sinilah sumber masalah sesungguhnya.

Ternyata ada Ego Personality atau Bagian Diri yang keberatan dan menolak melepas emosi negatif yang telah sekian lama ia pegang. EP ini merasa lebih baik klien seperti sekarang ini, menderita batin dan fisik, agar terus bisa mengingat pengkhianatan suaminya, dan agar klien tidak disakiti lagi.

Berbagai cara saya gunakan untuk memberi edukasi dan pemahaman pada EP ini agar ia bersedia, demi kebaikan klien, melepas semua emosi negatif yang ia pegang. EP ini bergeming.

Saya simpulkan saya sedang berhadapan dengan EP yang tadi berkomunikasi dengan saya saat sesi wawancara. Dan setelah saya cek, memang benar demikian adanya.

Saya bisa saja menggunakan teknik atau strategi hipnoterapi tertentu untuk menetralisir EP ini. Namun saya memilih cara maternal, lembut, dan menghargai niat baik EP dalam upaya melindungi klien saya. Saya menghormati tujuan EP ini.

Setelah berpikir cepat, saya akhirnya menawarkan EP ini pilihan. Selama ini ia merasa telah melakukan hal yang baik dan benar untuk klien saya, menurutnya. Walau klien menderita, sering menangis, marah, teriak-teriak, fisiknya sakit, sering sesak napas, migren, tangannya gemetar seperti orang kena penyakit Parkinson, tekanan darah tinggi, dan masih banyak masalah fisik lainnya.

Klien saya ingin lepas dari kondisi ini. Ia tidak bisa keluar dari kondisi ini karena ada EP di PBS-nya yang menjalankan fungsi proteksi. Saya menggunakan mekanisme proteksi ini untuk melakukan edukasi pada EP.

Saya jelaskan, bahwa klien saya telah sekian lama menderita akibat luka hatinya. Dan EP merasa perlu mempertahankan semua emosi ini di dalam diri klien demi kebaikan klien.

Saya minta EP beri saya kesempatan untuk menetralisir emosi-emosi negatif ini untuk beberapa saat saja. Dan setelahnya, EP boleh bertanya pada klien saya mana kondisi yang lebih baik, menurut klien saya. EP juga boleh menilai mana kondisi yang lebih baik.

Bila misalnya, setelah semua emosi negatif ini lepas, dan EP merasa ini tidak baik untuk klien, maka saya bisa mengembalikan semua emosi ini seperti sebelum saya melakukan terapi. Saya minta EP mengizinkan klien saya mencicipi kebahagiaan terbebas dari emosi negatif.

Setelah mendapat izin EP, saya proses tuntas semua emosi negatif yang selama ini mengganggu klien. Setelahnya saya minta EP berkomunikasi dengan klien, menanyakan perasaan dan kondisi klien. Klien menjelaskan bahwa ia merasa sangat nyaman dan bahagia.

Walau telah mendapat jawaban ini, EP tampak ragu dan saya merasakan gelagat bila EP akan minta saya mengembalikan emosi-emosi negatif yang tadi sudah saya hilangkan. Bila ia meminta hal ini, saya wajib mengembalikan semua emosi ini, sesuai janji saya.

Saya tawarkan EP untuk bisa turut merasakan kebahagiaan yang klien saya rasakan, perasaan tenang, damai, nyaman, dan EP bersedia. Saat EP merasakan semua perasaan positif ini, yang dialami klien saya, saya bisa melihat perubahan pada EP ini. Dan setelahnya saya tawarkan ia untuk mengembalikan semua emosi negatif yang tadi telah saya hilangkan. EP dengan cepat dan tegas menolak.

EP ini menjelaskan bahwa ternyata kondisi bahagia adalah jauh lebih baik daripada kondisi yang selama ini ia pikir baik, yaitu mempertahankan berbagai emosi negatif. Dengan pernyataan EP ini, tuntas sudah kerja saya membantu klien.

Saya akhiri sesi terapi dengan melakukan uji hasil terapi dan memberi sugesti untuk menguatkan perubahan positif yang telah terjadi dalam diri klien. Selanjutnya saya membawa klien keluar dari kondisi rileksasi.

Jangan Tiru atau Lakukan Kesalahan Saya

Jangan Tiru atau Lakukan Kesalahan Saya

14 Agustus 2020

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi hipnosis (dalam). Bergantung teknik yang digunakan, kedalaman ideal untuk memberikan sugesti atau rekonstruksi memori atau pengalaman yang menjadi akar masalah, berkisar antara hipnosis dalam (deep trance / profound somnambulism) hingga hipnosis ekstrim (extreme deep trance).

Dalam proses hipnoterapi sangat penting melakukan uji kedalaman hipnosis, yang sesungguhnya lekat dan menjadi satu dengan proses induksi hipnotik, guna mengetahui dan memastikan kedalaman hipnosis yang dicapai klien sebelum kerja terapeutik dilakukan.  

Di awal karir saya sebagai hipnoterapis, di tahun pertama, saya lebih sering gagal daripada sukses membantu klien mengatasi masalah, bahkan untuk kasus ringan seperti fobia. Ada banyak hal yang membingungkan saya saat itu. Namun yang pasti, satu kendala terbesar adalah saya tidak tahu, lebih tepatnya tidak mampu melakukan uji kedalaman hipnosis dengan benar untuk mengetahui secara presisi kedalaman hipnosis yang dicapai klien-klien saya.  

Saat itu, untuk mengetahui kedalaman hipnosis, saya mengacu pada skala Davis Husband, yang diciptakan oleh L. Davis dan R. Husband (1931) dan terdiri dari lima kedalaman hipnosis:  Hypnoidal, Light Trance, Medium Trance, Deep Trance (Somnambulism),  

Rinciannya sebagai berikut: 1 = relaksasi, 2 = mata berkedip, 3 = menutup mata, 4 = relaksasi fisik total, 5 = katalepsi mata, 6 = katalepsi tungkai, 7 = katalepsi seluruh tubuh, 8/9/10 = anestesi "sarung tangan", 11/12 = amnesia pascahipnosis parsial, 13/14 = amnesia pascahipnosis, 15/16 = perubahan kepribadian, 17/18/19/20 = delusi kinestetik, 21/22 = mampu buka mata tanpa memengaruhi trance, 23/24 = somnambulisme lengkap, 25 = halusinasi visual positif, 26 = halusinasi auditori positif, 27 = amnesia pascahipnosis sistematis, 28 = halusinasi auditori negatif, 29 = halusinasi visual negatif, dan 30 = hiperestesia.  

Kedalaman Hypnoidal ada pada kisaran angka 2 - 5, Light Trance 6 - 12, Medium Trance 13 - 20, dan Deep Trance 21 - 30.  

Karena masih minim pengalaman dan pengetahuan, pada awalnya saya selalu melakukan uji sugestibilitas, bukan uji kedalaman.  

Uji sugestibilitas dilakukan dengan meminta klien melakukan salah satu dari teknik berikut: The Hand Drop Test, Arm Rising and Falling Test, Postural Sway, Hand Lock Test, The Pendulum Swing Test, atau meminta klien membayangkan minum perasan jeruk yang masam.  

Uji sugestibilitas ini berhasil untuk klien tertentu dan gagal untuk klien lainnya. Tidak ada hasil konsisten. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan uji sugestibilitas dan langsung melakukan uji kedalaman.  

Masalah muncul saat saya mulai melakukan uji kedalaman pada klien. Saya ingat benar, di salah satu kesempatan, saya menguji klien dengan mensugestikan bahwa matanya lengket tidak bisa dibuka. Semakin ia berusaha membuka matanya, matanya semakin lengket, seperti dilem.  

Usai saya beri sugesti seperti ini, dengan sangat percaya diri saya meminta klien membuka mata. Saya yakin matanya pasti lengket dan tidak bisa dibuka, karena ini yang saya baca di literatur. 

Namun yang terjadi sebaliknya. Klien dengan mudah membuka mata. Saya malu sekali dan sejak saat itu tidak berani melakukan uji seperti ini.  

Selanjutnya saya mencoba beberapa cara lain untuk uji kedalaman hipnosis: 

1. Saya mengamati gerakan perut klien saat bernapas. Bila gerakan perutnya lambat dan ritmik, ini artinya klien sudah dalam kondisi hipnosis dalam. Bila napasnya tidak lambat dan tidak ritmik, ini artinya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam. 

2. Saya mengangkat lengan klien di pergelangan kemudian menjatuhkannya ke pangkuan klien. Bila lengan klien terasa berat dan jatuh ke pangkuan klien dengan segera maka ini adalah indikasi kondisi hipnosis dalam. Bila tangannya terasa ringan, tidak segera turun, atau setelah dilepas menggantung di udara, ini artinya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam. 

3. Saya bertanya pada klien dan mengamati respon klien saat menjawab. Bila klien menjawab lirih atau perlahan maka ini adalah indikasi kondisi hipnosis dalam. Bila klien menjawab dengan cepat dan suaranya masih jelas ini artinya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam. 

4. Saya mengamati sudut antara ibu jari kaki kiri dan kanan klien. Semakin besar sudutnya berarti semakin dalam kondisi hipnosis yang dicapai klien. Semakin sempit sudutnya berarti semakin dangkal kondisi hipnosis yang dicapai klien. 

Walau telah "berhasil" memastikan klien masuk kondisi hipnosis dalam dengan cara di atas, saya lebih sering gagal daripada berhasil membantu klien mengatasi masalahnya.  

Saya sadari benar ada yang salah dengan proses terapi saya. Kemungkinannya hanya dua: teknik terapi saya tidak efektif atau cara uji kedalaman saya salah, dan klien sebenarnya belum masuk kondisi hipnosis dalam.  

Butuh upaya yang tidak sedikit untuk saya akhirnya sampai pada satu simpulan: uji kedalaman yang saya lakukan tidak valid.  

Simpulan ini saya capai setelah hampir satu tahun menghabiskan cukup banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mendatangkan banyak buku dari luar negeri, khususnya Amazon.com, membaca dan memelajarinya dengan cermat dan menarik benang merah.  

Salah satu buku yang saya baca adalah "Professional Hypnotism Manual" karya John G. Kappas, PhD. Setelah membaca buku ini saya tahu di mana kesalahan saya.  

Dalam bukunya, Dr. Kappas menjelaskan tentang sugestibilitas. Menurut Beliau, manusia terbagai menjadi dua kategori besar yaitu physical suggestibility (sugestibilitas yang bersifat fisik) dan emotional suggestibility (sugestibilitas yang bersifat emosi).  

Dari penelitian ditemukan bahwa 60% populasi bersifat emotionally suggestible dan 40% physically suggestible. Kelompok emotionally suggestible mempunyai subkategori yang dinamakan intellectual suggestibility yang mewakili sekitar 5% populasi. 

Dan dari buku ini saya akhirnya tahu bahwa saya salah dalam melakukan uji sugestibilitas dan uji kedalaman. Teknik yang saya gunakan hanya berlaku untuk klien dengan tipe sugestibilitas yang bersifat fisik (physical suggestibility), tidak untuk klien dengan sugestibilitas yang bersifat emosi (emotional suggestibility).  

Untuk mendapatkan hasil uji kedalaman hipnosis yang akurat pada klien bertipe sugestiblitas emosi perlu menggunakan teknik uji kedalaman yang berbeda.  

Dan bila mengacu pada skala Davis Husband, uji kedalaman yang saya lakukan, juga salah. Indikasi deep trance atau somnambulism pada skala Davis Husband ada di kisaran angka 21 hingga 30. Seharusnya, uji kedalaman yang saya lakukan pada klien adalah dengan memunculkan, pada diri klien, fenomena, seperti, mampu buka mata tanpa memengaruhi trance, somnambulisme lengkap, halusinasi visual positif, halusinasi auditori positif, amnesia pascahipnosis sistematis, halusinasi auditori negatif, halusinasi visual negatif, dan atau hiperestesia.   

Kenyataannya, saya sama sekali tidak melakukan uji kedalaman ini. Saya, karena tidak mengerti saat itu, justru melakukan uji kedalaman hipnosis dangkal, yaitu katalepsi mata (mata tidak bisa terbuka), memerhatikan napas atau gerakan perut klien, relaksasi pada lengan, tangan terkunci, dan suara jawaban klien. Ini semua adalah uji kedalaman untuk klien dengan tipe sugestibilitas fisik, dan tidak berlaku untuk klien dengan tipe sugestibilitas emosi. 

Itu sebabnya, walau "yakin" klien telah masuk kondisi hipnosis dalam, saat terapi, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ini semata karena sesungguhnya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam.  

Butuh satu tahun lagi, setelah membaca banyak literatur dan artikel, akhirnya saya mengerti cara melakukan uji kedalaman yang tepat, yang bisa diaplikasikan baik untuk klien dengan sugestibilitas fisik maupun emosi. Sejak mampu melakukan uji kedalaman yang tepat, tingkat keefektifan dan keberhasilan terapi saya meningkat signifikan dan konsisten.  

Di tahun 2010 saya menyusun skala kedalaman hipnosis Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, terdiri dari 40 kedalaman hipnosis, dan menjadi acuan hipnoterapis AWGI dalam menentukan kedalamam hipnosis yang dicapai klien.  

Berdasar pengalaman panjang dan jatuh bangun selama hampir tiga tahun inilah saya kini tidak lagi pernah menganjurkan atau mengajarkan teknik uji sugestibilitas pada peserta pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH). Saya hanya mengajarkan teknik uji kedalaman berjenjang mengacu pada Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, yang terintegrasi ke dalam Adi W. Gunawan Induction.  

Kedalaman hipnosis ideal untuk teknik hipnoterapi berbasis hipnoanalisis adalah di kedalaman deep trance atau profound somnambulism. Sementara untuk hipnoterapi berbasis sugesti, kedalaman hipnosis minimal adalah deep trance, dan jauh lebih efektif di kedalaman ekstrim atau extreme deep trance.

Induksi, Kedalaman Hipnosis, dan Skrip Sugesti

Induksi, Kedalaman Hipnosis, dan Skrip Sugesti

6 Juli 2020

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Saya dapat pertanyaan dari beberapa sahabat hipnoterapis setelah mereka menonton video “Mengenal Mazhab Hipnoterapi Dunia” yang diunggah di kanal YouTube saya (https://youtu.be/b6Kja1XmvDM). Secara garis besar, pertanyaan para sahabat ini ada tiga: teknik induksi, kedalaman hipnosis, dan skrip sugesti. Saya akan bahas satu demi satu.

 

Teknik Induksi

Saya mendefinisikan hipnoterapi sebagai terapi, boleh menggunakan teknik apa saja, yang dilakukan dalam kondisi hipnosis (trance). Untuk bisa menuntun klien masuk ke kondisi hipnosis, hipnoterapi menggunakan induksi. Induksi sejatinya adalah sugesti yang diberikan pada klien, yang bila disetujui dan dijalankan oleh klien, akan membawa klien berpindah dari kondisi kesadaran normal ke kondisi hipnosis.

Ada sangat banyak varian teknik induksi. Demikian pula varian teknik pendalaman kondisi hipnosis. Hipnoterapis, dari pengalaman saya dulu saat baru belajar hipnoterapi, cenderung akan melakukan salah satu dari dua hal berikut. Pertama, hipnoterapis memutuskan hanya menggunakan satu teknik induksi untuk semua klien, dan biasanya yang digunakan adalah teknik induksi relaksasi progresif. Kedua, hipnoterapis memelajari banyak teknik induksi, dan menyesuaikan teknik yang digunakan seturut karakter dan tipe sugestibilitas klien. Menurut pemahaman hipnoterapis pada umumnya, ada tiga tipe klien: mudah, moderat, dan sulit dihipnosis karena sangat kritis.

Dari sekian banyak teknik induksi, mana yang paling efektif atau sesuai untuk kebutuhan terapi? Ini pertanyaan yang sulit dijawab dengan lugas. Kunci keefektifan induksi bukan pada skrip namun lebih pada rasa percaya diri terapis atas pengetahuan dan kompetensinya dalam melakukan induksi dan terapi, rasa percaya klien pada terapis, dan motivasi klien untuk bisa mengatasi masalahnya.

Terkait kedalaman hipnosis, di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) saya mengajarkan satu hukum pikiran sangat penting, dan menjadi acuan semua hipnoterapis AWGI: Klien akan masuk sedalam yang dibutuhkan untuk bisa mengatasi masalahnya, dan akan bertahan sedangkal mungkin untuk bisa mempertahankan keselamatan dirinya.

Berdasar hukum pikiran ini, saat terapis tidak yakin pada kemampuan dirinya, dan ini pasti dirasakan dan ditangkap oleh pikiran bawah sadar (PBS) klien, bisa melalui pilihan kata, bahasa atau gerak tubuh, ekspresi mikro, dan terutama vibrasi terapis, klien pasti juga tidak percaya pada terapis. Saat klien tidak percaya pada terapis, pada level PBS, sudah tentu proses induksi dan terapi menjadi sesuatu yang dianggap berpotensi merugikan atau “membahayakan” diri klien.

Dan sesuai fungsi utama PBS yaitu melindungi individu dari hal-hal yang ia, PBS, rasa, pikir, yakini, simpulkan, persepsikan, atau asumsikan sebagai hal yang membayakan atau merugikan, maka PBS tidak akan mengizinkan klien masuk kondisi hipnosis dalam, di mana kendali pikiran sadar untuk sementara waktu diturunkan atau menjadi tidak aktif.

Saya sarankan para sahabat ini untuk memerhatikan dengan sungguh kunci keefektifan induksi yang dijelaskan di atas. Setelahnya, barulah fokus pada teknik induksi yang digunakan.

 

Kedalaman Hipnosis

Melakukan induksi adalah satu hal. Sementara mengukur dan memastikan kedalaman hipnosis yang dicapai klien adalah hal lain. Di sinilah sebenarnya masalah utama yang dialami para hipnoterapis, baik yang mengikuti mazhab pantai timur, yang menggunakan teknik terapi berbasis sugesti, maupun mazhab pantai barat, yang menggunakan teknik hipnoanalisis.

Sebagai hipnoterapis profesional adalah wajib hukumnya untuk bisa mengetahui dengan tepat kedalaman hipnosis yang dicapai klien. Bila terapis menggunakan sugesti verbal, sebagai sarana terapeutiknya, maka kedalaman minimal yang harus berhasil dicapai klien adalah hipnosis dalam atau profound somnambulism. Lebih baik lagi adalah kedalaman hipnosis ekstrim.

Saat klien mencapai minimal kondisi hipnosis dalam, faktor kritis pikiran sadar yang berfungsi menjaga integritas data PBS menjadi sangat berkurang keaktifannya, dan bahkan bisa menjadi tidak aktif. Dengan demikian, sugesti yang dibacakan terapis dapat leluasa masuk ke PBS klien. Yang perlu diingat, selain faktor kritis PS, di PBS masih ada empat filter yang akan melakukan pemeriksaan data yang masuk sebelum akhirnya data baru ini diterima dan dijalankan PBS.

Kondisi hipnosis dalam juga adalah syarat mutlak dalam proses hipnoterapi berbasis hipnoanalisis. Tanpa kedalaman yang sesuai, berbagai teknik dalam hipnoanalisis tidak bisa berjalan dengan baik. Teknik-teknik ini antara lain hipermnesia, revivifikasi, regresi, jembatan afek, teknik EP, rekonstruksi kejadian paling awal, abreaksi secara aman dan terkendali, logika trance, dan yang lain.

Sekarang, pertanyaan yang sangat perlu dijawab adalah bagaimana terapis bisa sungguh yakin dan pasti dalam menentukan kedalaman hipnosis yang dicapai klien?

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini tentu butuh acuan. Dan yang digunakan adalah skala hipnosis. Dari hasil penelusuran literatur diketahui ada cukup banyak skala hipnosis:

1. Magnetic Scale (Liébeault, 1866, 1889)

2. Skala Bernheim scale (Bernheim, 1884)

3. Skala White scale (1930)

4. Skala Davis dan Husband (1931)

5. Skala Friedlander dan Sarbin (1938)

6. Skala LeCron dan Bordeaux (1947)

7. Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A and B, Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Form C, dan Stanford Profile Scales of Hypnotic Susceptibility (Weitzenhoffer dan Hilgard, 1959, 1962, 1963, 1967)

8. Harvard Group Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A dan B (Shor dan Orne, 1962)

9. Waterloo-Stanford Group C (WSGC) Scale of Hypnotic Susceptibility (Bowers, 1993/1998)

10. London’s Children’s Hypnotic Susceptibility Scale, CHSS (London, 1963; Cooper dan London, 1978,1979)

11. Stanford Clinical Scale for Adults (Morgan dan Hilgard, 1978,1979)

12. Stanford Clinical Scale for Children (Morgan dan Hilgard, 1978,1979) 

13. Stanford Hypnotic Arm Levitation Induction and Test (SHALT) (Hilgard, Crawford, dan Wert, 1979),

14. Aron’s Depth Scale (Aron, 1969) 

15. Barber Suggestibility Scale (Barber dan Glass, 1962)

16. Barber Creative Imagination Scale (Barber dan Wilson, 1978, 1979).

17. Tart Scale (Tart, 1972, 1978/1979)

18. Field Inventory (Field, 1965; Field dan Palmer, 1969)

19. Pekala’s Phenomonology of Consciousness Inventory (Pekala dan Kumar, 1984, 1987; Pekala 1991).

20. Hypnotic Induction Profile (Spiegel, 1978)

21. Indirect Trance Assessment Scale (ITAS) (Rossi, 1986)

22. Arizona Motor Scale of Hypnotizability (AMSH) (1994)

23. Eysenck & Furneaux Scale (Eysenck dan Furneaux,1945)

24. Gudjonsson Suggestibility Scale (Gudjonsson,1984)

25. Warmth Suggestibility Scale (Gheorghiou, Polczyk, dan Kappeller, 2003) 

Dari 25 skala hipnosis yang dijelaskan di atas, dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi, terutama di Indonesia, yang paling dikenal adalah skala Davis dan Husband yang terdiri atas lima jenjang: insusceptible, hypnoidal, light trance, medium trance, dan deep trance (profound somnambulism).

Pada skala ini ada penomoran dari angka 0 hingga 30 (tiga puluh), di mana 0 bermakna insusceptible atau sama sekali tidak terpengaruh, 2 – 5 adalah hypnoidal, 6-11 adalah light trance, 13-20 adalah medium trance, dan 21-30 adalah deep trance. Untuk setiap nomor, terdapat fenomena yang bisa muncul atau dimunculkan.

Kembali pertanyaannya adalah bagaimana hipnoterapis menentukan kedalaman yang berhasil dicapai klien? Jawabannya sebenarnya sangat jelas yaitu dengan melakukan uji kedalaman, baik secara terbuka (overt) maupun tersamar (covert).

Di sini letak masalahnya. Hipnoterapis biasanya tidak tahu cara melakukan uji kedalaman atau bahkan tidak berani melakukan uji kedalaman hipnosis. Ini juga saya alami dulu di tiga tahun pertama saya praktik sebagai hipnoterapis. Saat saya melakukan uji kedalaman dengan memberi sugesti klien tidak bisa buka mata, ini adalah uji kedalaman hypnoidal, ternyata klien tetap bisa buka mata. Saat itu saya  sungguh kaget dan malu karena gagal. Saya akhirnya tidak lagi berani melakukan uji kedalaman selama tiga tahun.

Dari beberapa diskusi dengan para sahabat hipnoterapis, saya dapat simpulkan bahwa hipnoterapis enggan atau tidak berani melakukan uji kedalaman karena pernah gagal melakukannya, atau memang tidak diajarkan di pelatihan yang mereka ikuti. Apapun yang menjadi alasan hipnoterapis tidak melakukan uji kedalaman membuat mereka sulit bisa efektif menerapi klien.

Di tahun 2010, setelah memelajari banyak skala hipnosis dan menggabungkannya dengan hasil pengukuran gelombang otak, pengalaman dan temuan di ruang praktik, saya menyusun Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, terdiri dari 40 jenjang kedalaman beserta fenomena fisik dan mental pada setiap jenjang, yang digunakan sebagai acuan hipnoterapis klinis AWGI.

Satu kesalahan yang sangat sering terjadi adalah saat hipnoterapis menggunakan kondisi tubuh rileks sebagai indikator klien telah berhasil masuk kondisi hipnosis dalam.

Hipnoterapis AWGI tidak menggunakan indikator fisik sebagai acuan dalam menentukan kedalaman hipnosis dalam (profound somnambulism), melainkan acuan mental.

Skrip Sugesti

Skrip sugesti adalah “obat” yang diracik dengan cermat oleh hipnoterapis dan “diinjeksikan” ke PBS klien. Obat yang tepat tentu menghasilkan dampat terapeutik yang diharapkan.

Cara paling mudah untuk menyiapkan skrip sugesti adalah dengan mencari skrip yang telah tersedia, baik di buku atau situs internet. Dengan cara ini terapis tidak perlu susah payah menyusun skrip.

Seringkali terapis yang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, menggunakan bantuan Google Translate untuk menerjemahkan skrip bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Di sini banyak terjadi salah terjemahan.

Saya memiliki cukup banyak buku berisi skrip-skrip sugesti untuk beragam kasus klien. Buku-buku ini ditulis oleh pakar hipnoterapi terkemuka. Salah satu buku bagus, berisi skrip dan metafora adalah Handbook of Hypnotic Suggestions and Metaphors (D. Corydon Hammond). Kendalanya, buku ini ditulis dalam bahasa Inggris, dan tentu butuh keahlian linguistik tinggi untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Kalaupun ini skrip-skrip dalam buku ini berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, belum tentu skrip ini memenuhi syarat sebagai skrip yang baik dan benar menurut aturan penyusunan skrip sugesti.

Kendala lain, tidak semua skrip tersedia dan sesuai dengan kebutuhan klien. Dengan demikian, terapis dituntut untuk mengembangkan kompetensi menyusun skrip. Di kelas SECH saya mengajarkan 17 aturan emas penyusunan skrip sugesti agar bisa menghasilkan dampak terapeutik maksimal di PBS klien.

Beberapa aturan ini antara lain, skrip sugesti tidak boleh menggunakan kata yang merujuk pada masa depan, seperti “akan”. Skrip harus jelas, detil, dan tidak ambigu agar PBS tidak salah memahami. Skrip yang baik mensugestikan tindakan, bukan kemampuan untuk bertindak.

Salah satu contoh kesalahan serius dalam skrip sugesti adalah penggunaan kalimat “Anda pasti bisa”. Secara kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, kalimat ini sangat bagus. Secara PS, ini juga sangat bagus. Namun tidak demikian halnya bila kalimat ini dimaknai dari perspektif PBS.

Satu hal kecil yang berdampak sangat besar adalah terapis perlu tahu dan jelas kapan menggunakan kata “anda” atau “saya” sebagai kata ganti klien dalam skrip yang ia susun.

Untuk membangun kompetensi menyusun skrip sugesti efektif dibutuhkan pemahaman akan aturan penyusunan skrip dan latihan intensif melalui studi kasus, bimbingan berkelanjutan, dan waktu yang tidak sedikit. Terapis perlu menyusun, mengujicobakan, dan merevisi skrip, dan ini bisa terjadi berkali-kali, hingga akhirnya tersusun skrip final yang benar efektif.

Saya membekali hipnoterapis AWGI dengan berbagai skrip sugesti untuk klien dewasa dan anak. Skrip-skrip sugesti ini diterjemahkan dengan hati-hati dan cermat dari berbagai sumber yang kredibel. Namun kami tidak menggunakan skrip-skrip ini dalam praktik menangani klien. Mereka hanya digunakan sebagai contoh, untuk memberi inspirasi dan kreativitas dalam menyusun skrip. Kami lebih mengutamakan menyusun sendiri skrip sugesti yang benar-benar sejalan dengan kondisi dan kebutuhan klien.