Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia

Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia turut berperan serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing dalam kancah global dan meningkatkan ketahanan bangsa.

Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia menetapkan standar tinggi, ilmiah dan berbasis bukti (evidence-based) dalam pendidikan dan layanan hipnoterapi untuk kemanfaatan dan perlindungan baik praktisi hipnoterapi dan terutama anggota masyarakat pengguna jasa layanan hipnoterapi.

Baca Selengkapnya

Artikel

27 Oktober 2020

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Setiap kasus adalah menarik dan unik. Kasus serupa, bila diproses, memunculkan dinamika yang berbeda antara satu klien dengan yang lain. Kasus yang tampak ringan, saat diproses ternyata sangat mudah diselesaikan. Ada kasus berat, saat diproses, ternyata sangat mudah penyelesaiannya. Sebaliknya, ada kasus ringan, saat diproses, ternyata memiliki akar masalah yang sangat pelik. Demikian pula, ada kasus berat, yang memang memiliki akar masalah kompleks dan butuh kecakapan, ketekunan, dan kreatifitas terapeutik tinggi untuk menyelesaikannya.

Saya pernah menangani kasus klien wanita yang merasa sangat terluka karena mendapati suaminya selingkuh. Dan setelah saya bantu dengan hipnoterapi, masalahnya dapat terselesaikan dengan mudah.

Pernah juga, kasus serupa, namun klien wanita ini bergeming melepas perasaan marah, kecewa, sakit hati, benci, jijik, dan masih banyak emosi lainnya yang muncul akibat mendapai suaminya selingkuh.

Dalam sesi wawancara, saya berusaha memberi pandangan, pemahaman, dan pengertian akan pentingnya melepas emosi negatif yang telah hampir setahun mengganggu hidupnya. Ia perlu memaafkan dan mengampuni baik suaminya maupun selingkuhan suaminya, demi kebaikan dirinya sendiri.

Apakah ia setuju dan bersedia melakukan yang saya sarankan? Sama sekali tidak. Ia tetap ingin membalas dan menghukum suami dan selingkuhan suaminya.

Saya mengerti bahwa ia tidak bisa memaafkan dan mengampuni karena dalam dirinya masih ada emosi negatif sangat intens dari luka hati akibat perbuatan suaminya.

Saya putuskan untuk tidak melanjutkan edukasi melalui pikiran sadar (PS). Saya akan langsung memroses pikiran bawah sadar (PBS) klien ini, karena di sinilah sumber masalah sesungguhnya.

Ternyata ada Ego Personality atau Bagian Diri yang keberatan dan menolak melepas emosi negatif yang telah sekian lama ia pegang. EP ini merasa lebih baik klien seperti sekarang ini, menderita batin dan fisik, agar terus bisa mengingat pengkhianatan suaminya, dan agar klien tidak disakiti lagi.

Berbagai cara saya gunakan untuk memberi edukasi dan pemahaman pada EP ini agar ia bersedia, demi kebaikan klien, melepas semua emosi negatif yang ia pegang. EP ini bergeming.

Saya simpulkan saya sedang berhadapan dengan EP yang tadi berkomunikasi dengan saya saat sesi wawancara. Dan setelah saya cek, memang benar demikian adanya.

Saya bisa saja menggunakan teknik atau strategi hipnoterapi tertentu untuk menetralisir EP ini. Namun saya memilih cara maternal, lembut, dan menghargai niat baik EP dalam upaya melindungi klien saya. Saya menghormati tujuan EP ini.

Setelah berpikir cepat, saya akhirnya menawarkan EP ini pilihan. Selama ini ia merasa telah melakukan hal yang baik dan benar untuk klien saya, menurutnya. Walau klien menderita, sering menangis, marah, teriak-teriak, fisiknya sakit, sering sesak napas, migren, tangannya gemetar seperti orang kena penyakit Parkinson, tekanan darah tinggi, dan masih banyak masalah fisik lainnya.

Klien saya ingin lepas dari kondisi ini. Ia tidak bisa keluar dari kondisi ini karena ada EP di PBS-nya yang menjalankan fungsi proteksi. Saya menggunakan mekanisme proteksi ini untuk melakukan edukasi pada EP.

Saya jelaskan, bahwa klien saya telah sekian lama menderita akibat luka hatinya. Dan EP merasa perlu mempertahankan semua emosi ini di dalam diri klien demi kebaikan klien.

Saya minta EP beri saya kesempatan untuk menetralisir emosi-emosi negatif ini untuk beberapa saat saja. Dan setelahnya, EP boleh bertanya pada klien saya mana kondisi yang lebih baik, menurut klien saya. EP juga boleh menilai mana kondisi yang lebih baik.

Bila misalnya, setelah semua emosi negatif ini lepas, dan EP merasa ini tidak baik untuk klien, maka saya bisa mengembalikan semua emosi ini seperti sebelum saya melakukan terapi. Saya minta EP mengizinkan klien saya mencicipi kebahagiaan terbebas dari emosi negatif.

Setelah mendapat izin EP, saya proses tuntas semua emosi negatif yang selama ini mengganggu klien. Setelahnya saya minta EP berkomunikasi dengan klien, menanyakan perasaan dan kondisi klien. Klien menjelaskan bahwa ia merasa sangat nyaman dan bahagia.

Walau telah mendapat jawaban ini, EP tampak ragu dan saya merasakan gelagat bila EP akan minta saya mengembalikan emosi-emosi negatif yang tadi sudah saya hilangkan. Bila ia meminta hal ini, saya wajib mengembalikan semua emosi ini, sesuai janji saya.

Saya tawarkan EP untuk bisa turut merasakan kebahagiaan yang klien saya rasakan, perasaan tenang, damai, nyaman, dan EP bersedia. Saat EP merasakan semua perasaan positif ini, yang dialami klien saya, saya bisa melihat perubahan pada EP ini. Dan setelahnya saya tawarkan ia untuk mengembalikan semua emosi negatif yang tadi telah saya hilangkan. EP dengan cepat dan tegas menolak.

EP ini menjelaskan bahwa ternyata kondisi bahagia adalah jauh lebih baik daripada kondisi yang selama ini ia pikir baik, yaitu mempertahankan berbagai emosi negatif. Dengan pernyataan EP ini, tuntas sudah kerja saya membantu klien.

Saya akhiri sesi terapi dengan melakukan uji hasil terapi dan memberi sugesti untuk menguatkan perubahan positif yang telah terjadi dalam diri klien. Selanjutnya saya membawa klien keluar dari kondisi rileksasi.

14 Agustus 2020

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

 

Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi hipnosis (dalam). Bergantung teknik yang digunakan, kedalaman ideal untuk memberikan sugesti atau rekonstruksi memori atau pengalaman yang menjadi akar masalah, berkisar antara hipnosis dalam (deep trance / profound somnambulism) hingga hipnosis ekstrim (extreme deep trance).

Dalam proses hipnoterapi sangat penting melakukan uji kedalaman hipnosis, yang sesungguhnya lekat dan menjadi satu dengan proses induksi hipnotik, guna mengetahui dan memastikan kedalaman hipnosis yang dicapai klien sebelum kerja terapeutik dilakukan.  

Di awal karir saya sebagai hipnoterapis, di tahun pertama, saya lebih sering gagal daripada sukses membantu klien mengatasi masalah, bahkan untuk kasus ringan seperti fobia. Ada banyak hal yang membingungkan saya saat itu. Namun yang pasti, satu kendala terbesar adalah saya tidak tahu, lebih tepatnya tidak mampu melakukan uji kedalaman hipnosis dengan benar untuk mengetahui secara presisi kedalaman hipnosis yang dicapai klien-klien saya.  

Saat itu, untuk mengetahui kedalaman hipnosis, saya mengacu pada skala Davis Husband, yang diciptakan oleh L. Davis dan R. Husband (1931) dan terdiri dari lima kedalaman hipnosis:  Hypnoidal, Light Trance, Medium Trance, Deep Trance (Somnambulism),  

Rinciannya sebagai berikut: 1 = relaksasi, 2 = mata berkedip, 3 = menutup mata, 4 = relaksasi fisik total, 5 = katalepsi mata, 6 = katalepsi tungkai, 7 = katalepsi seluruh tubuh, 8/9/10 = anestesi "sarung tangan", 11/12 = amnesia pascahipnosis parsial, 13/14 = amnesia pascahipnosis, 15/16 = perubahan kepribadian, 17/18/19/20 = delusi kinestetik, 21/22 = mampu buka mata tanpa memengaruhi trance, 23/24 = somnambulisme lengkap, 25 = halusinasi visual positif, 26 = halusinasi auditori positif, 27 = amnesia pascahipnosis sistematis, 28 = halusinasi auditori negatif, 29 = halusinasi visual negatif, dan 30 = hiperestesia.  

Kedalaman Hypnoidal ada pada kisaran angka 2 - 5, Light Trance 6 - 12, Medium Trance 13 - 20, dan Deep Trance 21 - 30.  

Karena masih minim pengalaman dan pengetahuan, pada awalnya saya selalu melakukan uji sugestibilitas, bukan uji kedalaman.  

Uji sugestibilitas dilakukan dengan meminta klien melakukan salah satu dari teknik berikut: The Hand Drop Test, Arm Rising and Falling Test, Postural Sway, Hand Lock Test, The Pendulum Swing Test, atau meminta klien membayangkan minum perasan jeruk yang masam.  

Uji sugestibilitas ini berhasil untuk klien tertentu dan gagal untuk klien lainnya. Tidak ada hasil konsisten. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan uji sugestibilitas dan langsung melakukan uji kedalaman.  

Masalah muncul saat saya mulai melakukan uji kedalaman pada klien. Saya ingat benar, di salah satu kesempatan, saya menguji klien dengan mensugestikan bahwa matanya lengket tidak bisa dibuka. Semakin ia berusaha membuka matanya, matanya semakin lengket, seperti dilem.  

Usai saya beri sugesti seperti ini, dengan sangat percaya diri saya meminta klien membuka mata. Saya yakin matanya pasti lengket dan tidak bisa dibuka, karena ini yang saya baca di literatur. 

Namun yang terjadi sebaliknya. Klien dengan mudah membuka mata. Saya malu sekali dan sejak saat itu tidak berani melakukan uji seperti ini.  

Selanjutnya saya mencoba beberapa cara lain untuk uji kedalaman hipnosis: 

1. Saya mengamati gerakan perut klien saat bernapas. Bila gerakan perutnya lambat dan ritmik, ini artinya klien sudah dalam kondisi hipnosis dalam. Bila napasnya tidak lambat dan tidak ritmik, ini artinya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam. 

2. Saya mengangkat lengan klien di pergelangan kemudian menjatuhkannya ke pangkuan klien. Bila lengan klien terasa berat dan jatuh ke pangkuan klien dengan segera maka ini adalah indikasi kondisi hipnosis dalam. Bila tangannya terasa ringan, tidak segera turun, atau setelah dilepas menggantung di udara, ini artinya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam. 

3. Saya bertanya pada klien dan mengamati respon klien saat menjawab. Bila klien menjawab lirih atau perlahan maka ini adalah indikasi kondisi hipnosis dalam. Bila klien menjawab dengan cepat dan suaranya masih jelas ini artinya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam. 

4. Saya mengamati sudut antara ibu jari kaki kiri dan kanan klien. Semakin besar sudutnya berarti semakin dalam kondisi hipnosis yang dicapai klien. Semakin sempit sudutnya berarti semakin dangkal kondisi hipnosis yang dicapai klien. 

Walau telah "berhasil" memastikan klien masuk kondisi hipnosis dalam dengan cara di atas, saya lebih sering gagal daripada berhasil membantu klien mengatasi masalahnya.  

Saya sadari benar ada yang salah dengan proses terapi saya. Kemungkinannya hanya dua: teknik terapi saya tidak efektif atau cara uji kedalaman saya salah, dan klien sebenarnya belum masuk kondisi hipnosis dalam.  

Butuh upaya yang tidak sedikit untuk saya akhirnya sampai pada satu simpulan: uji kedalaman yang saya lakukan tidak valid.  

Simpulan ini saya capai setelah hampir satu tahun menghabiskan cukup banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mendatangkan banyak buku dari luar negeri, khususnya Amazon.com, membaca dan memelajarinya dengan cermat dan menarik benang merah.  

Salah satu buku yang saya baca adalah "Professional Hypnotism Manual" karya John G. Kappas, PhD. Setelah membaca buku ini saya tahu di mana kesalahan saya.  

Dalam bukunya, Dr. Kappas menjelaskan tentang sugestibilitas. Menurut Beliau, manusia terbagai menjadi dua kategori besar yaitu physical suggestibility (sugestibilitas yang bersifat fisik) dan emotional suggestibility (sugestibilitas yang bersifat emosi).  

Dari penelitian ditemukan bahwa 60% populasi bersifat emotionally suggestible dan 40% physically suggestible. Kelompok emotionally suggestible mempunyai subkategori yang dinamakan intellectual suggestibility yang mewakili sekitar 5% populasi. 

Dan dari buku ini saya akhirnya tahu bahwa saya salah dalam melakukan uji sugestibilitas dan uji kedalaman. Teknik yang saya gunakan hanya berlaku untuk klien dengan tipe sugestibilitas yang bersifat fisik (physical suggestibility), tidak untuk klien dengan sugestibilitas yang bersifat emosi (emotional suggestibility).  

Untuk mendapatkan hasil uji kedalaman hipnosis yang akurat pada klien bertipe sugestiblitas emosi perlu menggunakan teknik uji kedalaman yang berbeda.  

Dan bila mengacu pada skala Davis Husband, uji kedalaman yang saya lakukan, juga salah. Indikasi deep trance atau somnambulism pada skala Davis Husband ada di kisaran angka 21 hingga 30. Seharusnya, uji kedalaman yang saya lakukan pada klien adalah dengan memunculkan, pada diri klien, fenomena, seperti, mampu buka mata tanpa memengaruhi trance, somnambulisme lengkap, halusinasi visual positif, halusinasi auditori positif, amnesia pascahipnosis sistematis, halusinasi auditori negatif, halusinasi visual negatif, dan atau hiperestesia.   

Kenyataannya, saya sama sekali tidak melakukan uji kedalaman ini. Saya, karena tidak mengerti saat itu, justru melakukan uji kedalaman hipnosis dangkal, yaitu katalepsi mata (mata tidak bisa terbuka), memerhatikan napas atau gerakan perut klien, relaksasi pada lengan, tangan terkunci, dan suara jawaban klien. Ini semua adalah uji kedalaman untuk klien dengan tipe sugestibilitas fisik, dan tidak berlaku untuk klien dengan tipe sugestibilitas emosi. 

Itu sebabnya, walau "yakin" klien telah masuk kondisi hipnosis dalam, saat terapi, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ini semata karena sesungguhnya klien belum masuk kondisi hipnosis dalam.  

Butuh satu tahun lagi, setelah membaca banyak literatur dan artikel, akhirnya saya mengerti cara melakukan uji kedalaman yang tepat, yang bisa diaplikasikan baik untuk klien dengan sugestibilitas fisik maupun emosi. Sejak mampu melakukan uji kedalaman yang tepat, tingkat keefektifan dan keberhasilan terapi saya meningkat signifikan dan konsisten.  

Di tahun 2010 saya menyusun skala kedalaman hipnosis Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, terdiri dari 40 kedalaman hipnosis, dan menjadi acuan hipnoterapis AWGI dalam menentukan kedalamam hipnosis yang dicapai klien.  

Berdasar pengalaman panjang dan jatuh bangun selama hampir tiga tahun inilah saya kini tidak lagi pernah menganjurkan atau mengajarkan teknik uji sugestibilitas pada peserta pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH). Saya hanya mengajarkan teknik uji kedalaman berjenjang mengacu pada Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, yang terintegrasi ke dalam Adi W. Gunawan Induction.  

Kedalaman hipnosis ideal untuk teknik hipnoterapi berbasis hipnoanalisis adalah di kedalaman deep trance atau profound somnambulism. Sementara untuk hipnoterapi berbasis sugesti, kedalaman hipnosis minimal adalah deep trance, dan jauh lebih efektif di kedalaman ekstrim atau extreme deep trance.

6 Juli 2020

Oleh: Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®

Saya dapat pertanyaan dari beberapa sahabat hipnoterapis setelah mereka menonton video “Mengenal Mazhab Hipnoterapi Dunia” yang diunggah di kanal YouTube saya (https://youtu.be/b6Kja1XmvDM). Secara garis besar, pertanyaan para sahabat ini ada tiga: teknik induksi, kedalaman hipnosis, dan skrip sugesti. Saya akan bahas satu demi satu.

 

Teknik Induksi

Saya mendefinisikan hipnoterapi sebagai terapi, boleh menggunakan teknik apa saja, yang dilakukan dalam kondisi hipnosis (trance). Untuk bisa menuntun klien masuk ke kondisi hipnosis, hipnoterapi menggunakan induksi. Induksi sejatinya adalah sugesti yang diberikan pada klien, yang bila disetujui dan dijalankan oleh klien, akan membawa klien berpindah dari kondisi kesadaran normal ke kondisi hipnosis.

Ada sangat banyak varian teknik induksi. Demikian pula varian teknik pendalaman kondisi hipnosis. Hipnoterapis, dari pengalaman saya dulu saat baru belajar hipnoterapi, cenderung akan melakukan salah satu dari dua hal berikut. Pertama, hipnoterapis memutuskan hanya menggunakan satu teknik induksi untuk semua klien, dan biasanya yang digunakan adalah teknik induksi relaksasi progresif. Kedua, hipnoterapis memelajari banyak teknik induksi, dan menyesuaikan teknik yang digunakan seturut karakter dan tipe sugestibilitas klien. Menurut pemahaman hipnoterapis pada umumnya, ada tiga tipe klien: mudah, moderat, dan sulit dihipnosis karena sangat kritis.

Dari sekian banyak teknik induksi, mana yang paling efektif atau sesuai untuk kebutuhan terapi? Ini pertanyaan yang sulit dijawab dengan lugas. Kunci keefektifan induksi bukan pada skrip namun lebih pada rasa percaya diri terapis atas pengetahuan dan kompetensinya dalam melakukan induksi dan terapi, rasa percaya klien pada terapis, dan motivasi klien untuk bisa mengatasi masalahnya.

Terkait kedalaman hipnosis, di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) saya mengajarkan satu hukum pikiran sangat penting, dan menjadi acuan semua hipnoterapis AWGI: Klien akan masuk sedalam yang dibutuhkan untuk bisa mengatasi masalahnya, dan akan bertahan sedangkal mungkin untuk bisa mempertahankan keselamatan dirinya.

Berdasar hukum pikiran ini, saat terapis tidak yakin pada kemampuan dirinya, dan ini pasti dirasakan dan ditangkap oleh pikiran bawah sadar (PBS) klien, bisa melalui pilihan kata, bahasa atau gerak tubuh, ekspresi mikro, dan terutama vibrasi terapis, klien pasti juga tidak percaya pada terapis. Saat klien tidak percaya pada terapis, pada level PBS, sudah tentu proses induksi dan terapi menjadi sesuatu yang dianggap berpotensi merugikan atau “membahayakan” diri klien.

Dan sesuai fungsi utama PBS yaitu melindungi individu dari hal-hal yang ia, PBS, rasa, pikir, yakini, simpulkan, persepsikan, atau asumsikan sebagai hal yang membayakan atau merugikan, maka PBS tidak akan mengizinkan klien masuk kondisi hipnosis dalam, di mana kendali pikiran sadar untuk sementara waktu diturunkan atau menjadi tidak aktif.

Saya sarankan para sahabat ini untuk memerhatikan dengan sungguh kunci keefektifan induksi yang dijelaskan di atas. Setelahnya, barulah fokus pada teknik induksi yang digunakan.

 

Kedalaman Hipnosis

Melakukan induksi adalah satu hal. Sementara mengukur dan memastikan kedalaman hipnosis yang dicapai klien adalah hal lain. Di sinilah sebenarnya masalah utama yang dialami para hipnoterapis, baik yang mengikuti mazhab pantai timur, yang menggunakan teknik terapi berbasis sugesti, maupun mazhab pantai barat, yang menggunakan teknik hipnoanalisis.

Sebagai hipnoterapis profesional adalah wajib hukumnya untuk bisa mengetahui dengan tepat kedalaman hipnosis yang dicapai klien. Bila terapis menggunakan sugesti verbal, sebagai sarana terapeutiknya, maka kedalaman minimal yang harus berhasil dicapai klien adalah hipnosis dalam atau profound somnambulism. Lebih baik lagi adalah kedalaman hipnosis ekstrim.

Saat klien mencapai minimal kondisi hipnosis dalam, faktor kritis pikiran sadar yang berfungsi menjaga integritas data PBS menjadi sangat berkurang keaktifannya, dan bahkan bisa menjadi tidak aktif. Dengan demikian, sugesti yang dibacakan terapis dapat leluasa masuk ke PBS klien. Yang perlu diingat, selain faktor kritis PS, di PBS masih ada empat filter yang akan melakukan pemeriksaan data yang masuk sebelum akhirnya data baru ini diterima dan dijalankan PBS.

Kondisi hipnosis dalam juga adalah syarat mutlak dalam proses hipnoterapi berbasis hipnoanalisis. Tanpa kedalaman yang sesuai, berbagai teknik dalam hipnoanalisis tidak bisa berjalan dengan baik. Teknik-teknik ini antara lain hipermnesia, revivifikasi, regresi, jembatan afek, teknik EP, rekonstruksi kejadian paling awal, abreaksi secara aman dan terkendali, logika trance, dan yang lain.

Sekarang, pertanyaan yang sangat perlu dijawab adalah bagaimana terapis bisa sungguh yakin dan pasti dalam menentukan kedalaman hipnosis yang dicapai klien?

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini tentu butuh acuan. Dan yang digunakan adalah skala hipnosis. Dari hasil penelusuran literatur diketahui ada cukup banyak skala hipnosis:

1. Magnetic Scale (Liébeault, 1866, 1889)

2. Skala Bernheim scale (Bernheim, 1884)

3. Skala White scale (1930)

4. Skala Davis dan Husband (1931)

5. Skala Friedlander dan Sarbin (1938)

6. Skala LeCron dan Bordeaux (1947)

7. Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A and B, Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Form C, dan Stanford Profile Scales of Hypnotic Susceptibility (Weitzenhoffer dan Hilgard, 1959, 1962, 1963, 1967)

8. Harvard Group Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A dan B (Shor dan Orne, 1962)

9. Waterloo-Stanford Group C (WSGC) Scale of Hypnotic Susceptibility (Bowers, 1993/1998)

10. London’s Children’s Hypnotic Susceptibility Scale, CHSS (London, 1963; Cooper dan London, 1978,1979)

11. Stanford Clinical Scale for Adults (Morgan dan Hilgard, 1978,1979)

12. Stanford Clinical Scale for Children (Morgan dan Hilgard, 1978,1979) 

13. Stanford Hypnotic Arm Levitation Induction and Test (SHALT) (Hilgard, Crawford, dan Wert, 1979),

14. Aron’s Depth Scale (Aron, 1969) 

15. Barber Suggestibility Scale (Barber dan Glass, 1962)

16. Barber Creative Imagination Scale (Barber dan Wilson, 1978, 1979).

17. Tart Scale (Tart, 1972, 1978/1979)

18. Field Inventory (Field, 1965; Field dan Palmer, 1969)

19. Pekala’s Phenomonology of Consciousness Inventory (Pekala dan Kumar, 1984, 1987; Pekala 1991).

20. Hypnotic Induction Profile (Spiegel, 1978)

21. Indirect Trance Assessment Scale (ITAS) (Rossi, 1986)

22. Arizona Motor Scale of Hypnotizability (AMSH) (1994)

23. Eysenck & Furneaux Scale (Eysenck dan Furneaux,1945)

24. Gudjonsson Suggestibility Scale (Gudjonsson,1984)

25. Warmth Suggestibility Scale (Gheorghiou, Polczyk, dan Kappeller, 2003) 

Dari 25 skala hipnosis yang dijelaskan di atas, dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi, terutama di Indonesia, yang paling dikenal adalah skala Davis dan Husband yang terdiri atas lima jenjang: insusceptible, hypnoidal, light trance, medium trance, dan deep trance (profound somnambulism).

Pada skala ini ada penomoran dari angka 0 hingga 30 (tiga puluh), di mana 0 bermakna insusceptible atau sama sekali tidak terpengaruh, 2 – 5 adalah hypnoidal, 6-11 adalah light trance, 13-20 adalah medium trance, dan 21-30 adalah deep trance. Untuk setiap nomor, terdapat fenomena yang bisa muncul atau dimunculkan.

Kembali pertanyaannya adalah bagaimana hipnoterapis menentukan kedalaman yang berhasil dicapai klien? Jawabannya sebenarnya sangat jelas yaitu dengan melakukan uji kedalaman, baik secara terbuka (overt) maupun tersamar (covert).

Di sini letak masalahnya. Hipnoterapis biasanya tidak tahu cara melakukan uji kedalaman atau bahkan tidak berani melakukan uji kedalaman hipnosis. Ini juga saya alami dulu di tiga tahun pertama saya praktik sebagai hipnoterapis. Saat saya melakukan uji kedalaman dengan memberi sugesti klien tidak bisa buka mata, ini adalah uji kedalaman hypnoidal, ternyata klien tetap bisa buka mata. Saat itu saya  sungguh kaget dan malu karena gagal. Saya akhirnya tidak lagi berani melakukan uji kedalaman selama tiga tahun.

Dari beberapa diskusi dengan para sahabat hipnoterapis, saya dapat simpulkan bahwa hipnoterapis enggan atau tidak berani melakukan uji kedalaman karena pernah gagal melakukannya, atau memang tidak diajarkan di pelatihan yang mereka ikuti. Apapun yang menjadi alasan hipnoterapis tidak melakukan uji kedalaman membuat mereka sulit bisa efektif menerapi klien.

Di tahun 2010, setelah memelajari banyak skala hipnosis dan menggabungkannya dengan hasil pengukuran gelombang otak, pengalaman dan temuan di ruang praktik, saya menyusun Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, terdiri dari 40 jenjang kedalaman beserta fenomena fisik dan mental pada setiap jenjang, yang digunakan sebagai acuan hipnoterapis klinis AWGI.

Satu kesalahan yang sangat sering terjadi adalah saat hipnoterapis menggunakan kondisi tubuh rileks sebagai indikator klien telah berhasil masuk kondisi hipnosis dalam.

Hipnoterapis AWGI tidak menggunakan indikator fisik sebagai acuan dalam menentukan kedalaman hipnosis dalam (profound somnambulism), melainkan acuan mental.

Skrip Sugesti

Skrip sugesti adalah “obat” yang diracik dengan cermat oleh hipnoterapis dan “diinjeksikan” ke PBS klien. Obat yang tepat tentu menghasilkan dampat terapeutik yang diharapkan.

Cara paling mudah untuk menyiapkan skrip sugesti adalah dengan mencari skrip yang telah tersedia, baik di buku atau situs internet. Dengan cara ini terapis tidak perlu susah payah menyusun skrip.

Seringkali terapis yang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, menggunakan bantuan Google Translate untuk menerjemahkan skrip bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Di sini banyak terjadi salah terjemahan.

Saya memiliki cukup banyak buku berisi skrip-skrip sugesti untuk beragam kasus klien. Buku-buku ini ditulis oleh pakar hipnoterapi terkemuka. Salah satu buku bagus, berisi skrip dan metafora adalah Handbook of Hypnotic Suggestions and Metaphors (D. Corydon Hammond). Kendalanya, buku ini ditulis dalam bahasa Inggris, dan tentu butuh keahlian linguistik tinggi untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Kalaupun ini skrip-skrip dalam buku ini berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, belum tentu skrip ini memenuhi syarat sebagai skrip yang baik dan benar menurut aturan penyusunan skrip sugesti.

Kendala lain, tidak semua skrip tersedia dan sesuai dengan kebutuhan klien. Dengan demikian, terapis dituntut untuk mengembangkan kompetensi menyusun skrip. Di kelas SECH saya mengajarkan 17 aturan emas penyusunan skrip sugesti agar bisa menghasilkan dampak terapeutik maksimal di PBS klien.

Beberapa aturan ini antara lain, skrip sugesti tidak boleh menggunakan kata yang merujuk pada masa depan, seperti “akan”. Skrip harus jelas, detil, dan tidak ambigu agar PBS tidak salah memahami. Skrip yang baik mensugestikan tindakan, bukan kemampuan untuk bertindak.

Salah satu contoh kesalahan serius dalam skrip sugesti adalah penggunaan kalimat “Anda pasti bisa”. Secara kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, kalimat ini sangat bagus. Secara PS, ini juga sangat bagus. Namun tidak demikian halnya bila kalimat ini dimaknai dari perspektif PBS.

Satu hal kecil yang berdampak sangat besar adalah terapis perlu tahu dan jelas kapan menggunakan kata “anda” atau “saya” sebagai kata ganti klien dalam skrip yang ia susun.

Untuk membangun kompetensi menyusun skrip sugesti efektif dibutuhkan pemahaman akan aturan penyusunan skrip dan latihan intensif melalui studi kasus, bimbingan berkelanjutan, dan waktu yang tidak sedikit. Terapis perlu menyusun, mengujicobakan, dan merevisi skrip, dan ini bisa terjadi berkali-kali, hingga akhirnya tersusun skrip final yang benar efektif.

Saya membekali hipnoterapis AWGI dengan berbagai skrip sugesti untuk klien dewasa dan anak. Skrip-skrip sugesti ini diterjemahkan dengan hati-hati dan cermat dari berbagai sumber yang kredibel. Namun kami tidak menggunakan skrip-skrip ini dalam praktik menangani klien. Mereka hanya digunakan sebagai contoh, untuk memberi inspirasi dan kreativitas dalam menyusun skrip. Kami lebih mengutamakan menyusun sendiri skrip sugesti yang benar-benar sejalan dengan kondisi dan kebutuhan klien. 

Berita

15 Januari 2018

Minggu 14 Januari 2018 telah diselenggarakan Kongres 1 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia di Hotel Santika, Jakarta, dihadiri 103 hipnoterapis klinis yang datang dari berbagai kota di Indonesia.

Kongres 1 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) ini diselenggarakan dengan tujuan memilih pengurus baru dan Dewan Etik AHKI periode 2018 - 2023. Dalam Kongres 1 AHKI yang dirangkai dengan pertemuan nasional para hipnoterapis klinis, Minggu (14/1/2018), secara aklamasi memilih DR. Adi W. Gunawan, MPd., CCH., menjadi ketua umum Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia.

15 Januari 2018

Dalam kesempatan yang sama dalam Kongres 1 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) yang digelar Minggu (14/01/2018) di Hotel Santika Jakarta, Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) memberi penghargaan kepada Alm. Bpk. Yan Nurindra, sebagai BAPAK HIPNOTERAPI INDONESIA atas jasa besar Beliau dalam memelopori hipnoterapi yang ilmiah di Indonesia. Penghargaan ini diterima oleh Isteri dan Putri almarhum, Ibu Gayatri S. Rini dan Nadya Ayu Riandini.

Agenda

Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy Workshop
5 Februari - 11 April 2021
Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology
Surabaya